"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab kedua orang tua itu dengan wajah yang masih bingung.
Lalu sang ibu terlebih dahululah yang sadar dan langsung saja mengangis, namun kali ini menangis bahagia. Spontan sang ibu merentangkan tangan, tanda bahwa ia ingin memeluk anaknya.
Abdurrahman maju beberapa langkah hingga dia merasakan bahwa tubuhnya di dekapan tangan lemah ibunya, tak sadar air matanya turun.
"Maafkan Abdullah Umi, Abdullah sudah mengecewakan umi. Sudah buat umi menangis karena kepergian Abdullah"
Abdurrahman terus meracaukan kata maaf dipelukan Uminya, terus memanggil namanya dengan Abdullah karena itu adalah panggilan sayang dari kedua orang tuanya.
Umi Abdurrahman hanya bisa menangis, namun kali ini tangisannya berbeda makna dengan beberapa menit lalu. Umi menangis bahagia.
Abdurrahman yang mendengar isakan Uminya, seketika luluh dan tubuhnya terasa lemas hingga merosot dari pelukan Uminya turun ke kaki hampir sujud.
Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang angkuh lagi celaka.
[QS. Maryam: 32]
Kembali Abdurrahman muhasabah diri, dia sangat merasakan bahwa hidupnya tanpa Ibu hanya mengandung kesengsaraan bahkan hidupnya tanpa arah. Sekarang ia sudah kembali pada pelukan Uminya, ia merasa sangat bahagia.
"Mohon ampun umi, Abdullah sangat sombong hingga melupakan wanita nomor satu untuk Abdullah" sungguh jika ada orang yang melihat kejadian ini pasti akan melihat penyesalan Abdurrahman seperti cerita Sang Malin Kundang kepada Ibundonya.
"Umi tolong terima Abdullah kembali jadi anak sulung Umi. Umi, Abdullah janji akan jadi anak berbakti" Abdurrahman terus saja menangis dikaki sang Umi, sedangkan Uminya belum bisa berkata apapun karena larut dengan tangisannya.
"Dan janganlah engkau berkata ahh kepada keduanya dan jangan pula kalian menghardik keduanya."
[Qs. Al Israa' 17: 23]
Abdurrahman mengingat baik surah yang pernah dia hafal, dia membandingkannya dengan sikap dia terhadap orang tuanya. Sungguh dia merasa sangat malu, dia tau namun dia mengabaikannya dan tidak menjalankannya. Dia menangis, apalagi Uminya tetap tidak bersuara.
"Umii kumohon berkatalah sesuatu Umi. Jika memang ingin mengusir Abdullah, insyaallah Abdullah terima asalkan Umi mau memaafkan Abdullah"
Mendengar ucapan Abdurrahman, Uminya segera menyadarkan diri dari rasa haru dan bahagia ini dengan memegang bahu Abdurrahman seraya menuntun Abdurrahman untuk berdiri.
"Umi senang Abdullah kami pulang"
Satu kalimat itu membuat dunia Abdurrahman sangat cerah kembali, tak sabar dia segera memeluk wanita dihadapannya.
"Terima kasih Umi, terima kasih" ucap Abdurrahman dibalik punggung Uminya.
Umi Abdurrahman menghapus air mata yang tersisa dipipinya lalu beliau merenggangkan pelukan Abdurrahman, Umi bisa melihat Abdullahnya sangat jauh dari kata baik-baik saja. Matanya sangat terlihat sayu sehabis menangis, sedangkan bola matanya menyatakan bahwa anaknya sangat menyesal dan tulus akan ucapannya. Wajahnya sedikit terlihat babak belur walaupun sudah diobati, Uminya sangat yakin bahwa itu hasil dari suaminya.
Teringat suaminya, Umi Abdurrahman melihat pria paruh baya di sebelahnya sedang melihat kearahnya dan Abdurrahman tanpa mau berbicara sepatah katapun.
"Umi, Abdullah sangat beruntung mempunyai wanita hebat seperti Umi"
Umi Abdurrahman kembali melihat kearah anaknya, tersenyum lalu mengusap kepala Abdurrahman dengan sayang.
"Umi menerimamu kembali Abdullah, Allah sudah mengabulkan do'a umi begitu cepat" Umi kembali meneteskan air mata dan segera di hapus oleh Abdurrahman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
