40. Pergi

25 4 2
                                        

Seorang wanita paruh baya sedang menata makanan pada meja makan yang tiba-tiba terkejut dengan laki-laki yang baru saja datang.

"Abdullah?"

Akibat lengkingan itu, seorang wanita lain datang dari dapur dengan tergopoh bahkan terlihat belum sempat melepaskan celemek untuk memasak. Sedangkan laki-laki yang dimaksud dengan gerakan lambat menghampiri wanita dekat meja makan itu, berikutnya ia berlutut dengan kepala menunduk.

"Umi," terdengar suaranya sangat parau seperti bekas menangis.

Umi yang dipanggil semakin terlihat khawatir hingga menutup mulutnya, hal tersebut masih disaksikan pula oleh Atika yang sama terkejutnya.

"Umi, maafkan Abdullah ini Umi. Tolong maafkan Abdullahmu ini yang masih saja membuat Umi selalu kecewa," Umi tak kuasa menahan air matanya.

"Abdullah, ada apa? Apakah Bapak sedang marah kepadamu," Abdurrahman menggeleng.

"Bangun nak, ada istrimu disini."

Abdurrahman yang mendengar kalimat itu segera mendongak, dan ternyata benar Atika sedari tadi memperhatikannya namun ia baru menyadari keberadaan sang istri. Laki-laki itu bangkit dan berjalan seraya mendekat kepada Atika kemudian mendekap perempuan itu dengan erat.

"Mas?" Atika yang merasa khawatir, terbawa suasana sedih yang diciptakan oleh Abdurrahman dengan ikut menangis.

"Maafkan mas, sayang," Abdurrahman mengucapkan kalimat tersebut setelah melepas pelukannya dari sang istri yang kemudian menghapus air mata Atika.

"Jangan menangis."

"Ada apa mas?" bingung Atika.

*****

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam warahmatullah."

Fatimah mendekat ke arah Umi, perempuan itu sudah terhitung cukup lama belum pulang. Namun, entah kenapa perasaannya mengatakan kondisi rumah sedang tidak baik-baik saja. Ia segera memeluk Uminya dari belakang.

"Ada apa Umiku sayang?"

Umi yang sedang menatap jendela hanya bisa tersenyum kecil, "Anak perempuan Umi satu-satunya kenapa baru pulang?"

Fatimah cemberut dengan menggemaskan, melerai pelukan dan beralih ke hadapan Umi. "Umi kan tau sekarang Fatimah yang handle kafe sendirian."

"Lagian sekarang Umi sudah punya putri lain, tuh menantu kesayangan."

Celetukan Fatimah membuat raut wajah Umi berubah, Umi kembali sedih. Wanita tersebut dengan lembut membelai pipi putrinya, "Pergilah ke rumah masmu, nduk."

"Ada apa Umi?"

"Sepertinya kak Atika butuh kehadiranamu."

"Sedang terjadi masalah Umi? Kemarin juga Aidin sempat menanyakan Mas Abdullah," Umi yang sedang sedih kembali menyimpan senyuman jail untuk putrinya.

"Aidin? Tumben gak berantem," Fatimah blushing.

"Iihh Umi, Fatimah serius bertanya ini."

Umi kembali pada wajah sedihnya, "Bapak telah membuat keputusan besar."

Fatimah masih serius mendengarkan dengan serius memperhatikan Umi bahkan ketika Umi sudah beralih memandang jendela kembali, tatapan beliau kosong.

"Kamu tau kan nduk dengan Bapakmu, Abdullah semalaman itikaf. Atika juga semalaman menunggu suaminya pulang, bahkan kakakmu sampai tidur disofa ruang tamu. Masmu baru saja pulang setelah shubuh dengan keputusan yang sama dengan Bapakmu."

Abdurrahman X Atika Zaman NowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang