"Abdullah kenapa tidak mengajar lagi hari ini?" Tanya pak Kyai pada istrinya sambil menyesap kopi.
Umi yang sedang melipat baju seketika menghentikan aktifitasnya, "Atika juga sudah tidak ke rumah lagi sejak 5 hari lalu."
"Abdullah seharusnya memberi kabar, setidaknya tidak membuat para pengurus sibuk mencarinya," pak Kyai sedikit menyamankan duduk pada sofa.
"Apa perlu mendatangi rumahnya?" Umi fokus pada pak Kyai.
"Aku takut terjadi apa-apa disana," imbuhnya sambil menampilkan raut khawatir.
Kerutan dahi pak Kyai terlihat samar, "Boleh, sepertinya memang kita perlu tau."
Sebenarnya pak Kyai sama khawatirnya dengan sang istri, namun anaknya telah memiliki keluarga kecil sendiri dan tidak seharusnya sebagai orang tua ikut campur urusan. Pada posisi seperti ini pak Kyai hanya bisa menyetujui usulan Umi.
"Nanti ba'da dzuhur biar Umi yang kesana."
"Iya, tapi jangan sampai terlalu masuk pada urusan anak kita dan istrinya," pesan pak Kyai.
"Inggih mas," jawaban manis Umi bersambut pelukan hangat dari suaminya.
"Sudah lama tak mendengar panggilan itu."
Keduanya tersenyum dalam pelukan mengabaikan kain-kain yang belum terlipat itu, seperti itulah cinta karena Allah. Tak perlu hal yang berlebihan namun terasa sangat membahagiakan.
*****
Abdurrahman tak bisa merajuk lama dengan Atika karena laki-laki itu juga tak bisa jika tak menempeli istrinya, kali ini keduanya sedang menonton televisi yang menampilkan serial kartun. Atika yang sedang mengupas buah dan Abdurrahman yang tidur pada kaki istrinya, sangat serasi apalagi ketika buah itu juga masuk dalam mulut Abdurrahman melalui tangan Atika.
"Buka mulutnya mas," pinta Atika dengan membawa apel yang bersih dari kulit di tangan.
"Aaaaaaaaa..." Abdurrahman membuka mulut, "Enak."
Atika kembali menyuapi, "Ini yang terakhir mas."
"Mas juga udah kenyang."
Setelah buah habis Atika menggantikan kegiatannya dengan menyisir rambut suaminya, merasa sangat nyaman Abdurrahman menjadi tidur pada pangkuan istrinya. Tak lama Atika juga menyusul dengan bersandar pada punggung sofa.
Keduanya tertidur dengan sangat pulas hingga suara adzan dzuhur juga tak bisa membuat mereka bangun, bahkan ketika ketukan pintu rumah juga tak mereka hiraukan.
Dilain sisi Umi bingung harus dengan cara apa agar anak dan menantunya keluar, jika langsung masuk akan sangat tidak sopan namun terus mengetuk pintu juga akan mengganggu sekitarnya.
"Kemana anak-anak ini? Atau sedang pergi ya?" monolog Umi.
Karena tak juga mendapat sambutan dari pemilik rumah, 10 menit setelah menunggu Umi memutuskan kembali pulang dengan tangan hampa.
"Baiklah aku akan kembali magrib nanti."
*****
"Kak Ibra?" panggil Fatimah pada kakaknya.
"Assalamu'alaikum Fatimah," Fatimah yang merasa disinggung hanya bisa menampilkan deretan giginya.
"Hehe maaf kak, assalamu'alaikum kak Ibra," ulang Fatimah.
"Wa'alaikumsalam, ada apa? Hari kakak sibuk," jawab Ibra dengan jutek.
"Galak amat," gumam Fatimah namun masih bisa terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Espiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
