55. Adzan

23 0 0
                                        

Kondisi rumah sakit begitu panik menyambut Atika yang sudah ingin melahirkan, semuanya di eksekusi dengan cepat. Atika segera dibawa keruang operasi, dokter segera bersiap-siap dan perawat dengan cekatan menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan.

Fatimah juga ikut berlari ke bagian administrasi untuk mendaftar sesuai arahan oleh perawat, Umi setia mendampingi Atika, sedangkan Aidin masih mencari tempat untuk parkir setelah tadi menurunkan Atika, Fatimah dan Umi pada lobi rumah sakit. Semuanya bergerak dengan cepat hingga Atika sudah siap untuk operasi.

Dokter meminta Fatimah dan Umi untuk tetap tenang serta selalu berdoa untuk keselamatan Atika dan bayinya. Dokter juga menanyakan hal yang tak bisa mereka jawab.

"Suami Bu Atika dimana? Bu Atika mau persalinan sendiri atau ditemani dengan suami?"

Fatimah dan Umi terbungkam. Aidin yang tiba-tiba datang mengundang kesalah-pahaman.

"Oh ini suami Bu Atika?"

Fatimah dan Umi dengan cepat menggeleng, Aidin yang tidak tahu apa-apa hanya bisa bingung sambil terus menyeret koper milik Atika. Hingga interupsi Atika dari dalam ruangan terdengar.

"Saya sendiri saja dok"

Dokter itu mengangguk dan kembali masuk.

"Bismillah ya Bu Atika, jalan lahir ibu sudah dalam pembukaan sempurna bahkan posisi bayinya juga sudah tepat. Kita akan lakukan persalinan normal ya Bu. Saya minta Bu Atika bisa atur nafas terus, ketika saya minta untuk mengejan Bu Atika langsung lakukan, jika saya belum meminta maka jangan dilakukan ya Bu," Atika hanya mengangguk.

"Bismillah"

*****

Diluar ruangan Fatimah, Umi dan Aidin harap-harap cemas menunggu Atika yang sedang berjuang. Sudah 1 jam namun belum ada tanda operasi akan selesai, padahal dokter mengatakan jika posisi Atika sudah sangat siap.

Tiba-tiba ponsel Fatimah berdering tanda bahwa ada panggilan masuk. Umi dan Aidin menatap Fatimah seakan menanyakan siapa yang menelepon.

"Bapak," jawab Fatimah yang mengerti akan tatapan tersirat itu.

"Assalamu'alaikum"

"Masih diruang persalinan lantai 2 Pak."

Singkatnya panggilan tersebut hingga Fatimah mematikan teleponnya. Yang ia dengar adalah suara Pak Kyai yang tersengal-sengal. Hingga ketiganya dikejutkan dengan kedatangan langkah kaki yang begitu cepat, sangat terlihat jika seseorang yang datang begitu teburu dengan berlari. Semuanya sangat terkejut karena kedatangan Pak Kyai, terlebih sosok yang berada dibelakangnya.

"Abdullah?" haru Umi.

Seketika ketiga orang yang sedang menunggu tersebut berdiri dengan serentak, seakan menyambut kedatangan Abdurrahman.

Abdurrahman telah kembali, bajunya sedikit lusuh dan basah entah karena hujan atau keringat. Laki-laki itu segera mencium tangan Umi dan memeluknya, tangis Umi tidak bisa diredam. Bahkan Fatimah yang disebelah Umi juga ikut mengangis hingga menutup mulutnya agar tidak terdengar. Aidinpun juga memandang sahabatnya dengan terharu.

Abdurrahman melerai pelukan Umi dan beralih mengusap kepala adiknya dengan lembut sembari tersenyum, "terima kasih banyak sudah menjaga istriku dengan baik."

Suara tangis bayi sudah terdengar, mengalihkan perhatian semua yang ada disana. Kata syukur tidak dapat mereka hentikan. Abdurrahman sedikit menyesal karena datang terlambat namun setidaknya ia harus masuk kedalam sana. Ia mengetuk pintu dan meminta untuk masuk dengan dalih bahwa ia adalah suami Atika.

Atika merasa lega, "alhamdulillah"

Sebagian rasa sakit sudah ikut terbuang, ia bersyukur bayinya sehat bahkan dapat menangis dengan kencang. Perawat mengatakan bahwa bayi mereka berjenis kelamin perempuan, terlihat sangat cantik. ia sendiri belum sempat melihar rupa bayinya, yang ia rasakan saat ini begitu lelah dan lemah. Matanya terasa sangat berat, ia tiba-tiba merasa sangat mengantuk hingga tidak bisa lagi menahannya. Namun disela-sela rasa mengantuknya, ia bisa mendengar tangisan bayi yang disambung dengan suara adzan. Adzan yang begitu ia kenal, baik dari suaranya, nadanya, intonasinya semua sangat pas. Ia merasa bahwa adzan tersebut dari suaminya. Hingga ia menyerah dan memilih untuk tidur.

Bersambung...


Abdurrahman X Atika Zaman NowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang