Hallo semuanya ini Fatimah.
Beberapa hari ini aku merasakan hal yang aneh dengan kakak iparku. Jika pada sebelum-sebelumnya Kak Atika akan dengan semangat mengatakan hal yang ia inginkan. Atau ia akan ekspresif dengan apa yang ia rasakan entah itu senang maupun sedih bahkan menangis karena keinginannya tidak terkabulkan. Namun, berbeda dengan 2 minggu ini. Aku melihat Kak Atika lebih banyak diam dan tidak jarang aku bisa memergoki ia sedang melamun. Tidak ada lagi keinginan yang aneh-aneh. Tidak ada lagi raut kecewa. Bahkan raut antusias ketika aku pulang.
Ada apa dengan Kak Atika?
Ingin sekali aku langsung bertanya seperti itu, namun aku takut jika Kak Atika merasa tidak nyaman denganku. Aku hanya bisa memeluknya seperti saat ini. Mengusap lembut lengannya. Kak Atika juga membebankan kepalanya pada bahuku.
"Kakak ada ingin sesuatu?"
Kak Atika menggeleng.
"Mau aku pijitin?"
Kak Atika menggeleng lagi.
"Oh iya kebutuhan Kakak ada yang perlu aku beliin?" kali ini aku melerai pelukan dan menatap Kak Atika.
Jawaban yang aku dapatkan hanya gelengan. Aku bisa melihat Kak Atika tersenyum lembut, namun aku juga bisa melihat kantung mata Kak Atika yang menghitam. Tanpa sadar tanganku mulai merayap untuk mengusap pipi kakak ipar yang sangat aku sayangi itu.
"Kak Atika ada pikiran apa?"
"Kakak suka begadang ya?"
"Kakak jangan sering-sering nangis ya," pintaku yang langsung menyorot matanya.
Genangan air mata pada mata Kak Atika sangat terlihat jelas, aku yakin ketika ia berkedip maka air itu akan jatuh ke pipi. Ia tak menjawab semua pertanyaanku, namun Kak Atika memelukku dengan terisak.
Selalu seperti ini, apa yang tanyakan selalu berakhir dengan peluk dan tangis. Sepertinya ini semua berasal dari Mas Abdurrahman. Kalau sudah suami yang diminta Kak Atika, maka aku hanya bisa angkat tangan. Hanya Masku yang menjadi obatnya.
Aku usap lembut punggung Kak Atika sebagai penyalur kehangatan, kubiarkan ia untuk tenang dan nyaman terlebih dahulu. Aku masih berharap bahwa Kak Atika mau bercerita.
"Tolong Kak, tolong bagi semua cerita Kakak ke Fatimah."
Namun Kak Atika lagi-lagi memilih bungkam.
*****
Aku pergi ke kafe. Meninggalkan Kak Atika memang aku tak tega, namun aku tahu jika Kak Atika perlu menyendiri. Mungkin kehadiranku dirumah akan membuat ia merasa lebih tak nyaman. Namun sudah 3 hari ini aku pulang lebih awal. Jam 4 aku sudah dirumah.
"Aku akan beli nasi padang untuk Kak Atika."
Dengan antusias aku mampir ke kedai nasi padang. Aku beli 3 bungkus nasi padang, untukku dan untuk Kak Atika serta untuk Aidin.
Mengenai Aidin, aku sudah lama tak bertengkar hal sepele dengannya. Itu juga karena dia juga tak memancing emosiku. Aku sedikit lega karena Aidin mau diajak kerja sama untuk menemai Kak Atika. Aku meminta dia jika aku sedang di kafe maka ia akan ke rumah untuk sekadar duduk didepan teras seperti saat ini. Aku bisa melihat Kak Atika sedang menyiram tanaman dengan Aidin yang berdiri karena melihat kedatanganku.
"Assalamu'alaikum," salam ku.
Dijawab serempak oleh mereka berdua.
"Fatimah, aku harus ke pondok lagi," aku mengangguk.
"Terima kasih. Ini bawalah satu bungkus untukmu," aku memberikan bungkusan nasi padang kepada Aidin.
"Terima kasih."
Aidin segera keluar dari pekarangan rumah Mas dan Kakak iparku. Giliran aku memusatkan atensiku kepada Kak Atika yang masih asik dengan tanaman.
"Sibuk bener sih Kakak cantikku ini," Kak Atika tersenyum kemudian mematikan kran air dan meletakkan selang air pada tempatnya.
"Sudah?" Kak Atika mengangguk.
"Yuk masuk," ajak Kak Atika.
Kami berdua segera masuk kedalam rumah dan langsung duduk pada sofa ruang tamu. Kuletakkan bawaan ku diatas meja, Kak Atika kedapur dan kembali dengan piring, sendok, dan botol berisi air minum yang segera kusambut agar Kak Atika tak kerepotan.
"Yuk makan," sumringahku sambil membuka bungkusan pertama untuk Kak Atika dan bungkusan kedua untukku sendiri.
Aku melihat Kak Atika yang makan tanpa selera, padahal rasa dari nasi padang ini sangat enak. Masakan ini juga favorit kita berdua. Tapi kenapa Kak Atika jadi tidak suka.
"Rasanya aneh kak?"
Kak Atika melihatku dan meletakkan sendoknya, kemudian berlari ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku yang baru saja tersadar dari rasa terkejut, langsung menyusul.
Aku melihat Kak Atika yang memuntahkan isi perutnya, termasuk nasi padang dan sarapan tadi pagi. Aku ikut masuk kamar mandi yang terbuka itu, kusingkap kerudungnya dan aku pijat lembut tengkuknya. Setelah medingan, Kak Atika membasuh mulut dan mukanya dengan air mengalir. Aku keluar kamar mandi untuk mengambilkan handuk baru dan kuberikan kepada Kak Atika.
"Udah enakan Kak?"
Kak Atika dengan wajah lemas hanya bisa mengangguk.
"Nasi padangnya gak enak ya Kak?"
Dijawab dengan segera oleh Kak Atika mungkin ia tak ingin membuat aku tersinggung, "Enggak kok."
"Mungkin perutku aja yang gaenak," lanjutnya.
Aku mengangguk.
Kuperhatikan Kak Atika yang tampak lebih kurus, "Kakak sering muntah kayak gini ya?"
Aku melihat ekspresi Kak Atika yang terkejut sambil salah tingkah, memangnya apa yang salah dari pertanyaanku? Apakah Kak Atika tidak nyaman? Namun dibagian sebelah mana aku membuatnya tak nyaman?
"Hmm lu-lumayan."
Karena tak ingin membuatnya semakin tak nyaman, aku hanya mengangguk dan mengajak untuk makan lagi. Disela makan, aku memberikan kue coklat yang kubawa dari kafe. Kue coklat itu salah satu menu dari kafe.
"Nih Kak, kalau memang gasuka sama nasi padangnya bisa makan ini aja. Yang penting Kakak harus makan ya," Kak Atika mengangguk saja karena mulutnya penuh dengan nasi.
Bukan tanpa alasan aku memberikan kue coklat itu karena sedari tadi kuperhatikan Kak Atika makan nasi padang dengan rasa enggan.
"Jangan kurus kak, tuh liat.." ku tunjuk tangan dan pipi Kak Atika, "... kurus semua ih."
Kak Atika tersenyum tanpa merasa tersinggung, "siap bos."
*****
Malam hari aku terbangun, seperti biasa aku akan segera melaksanakan sholat tahajud. Ketika melewati kamar Kak Atika aku bisa mendengar isak tangis, seperti biasa Kak Atika juga sholat tahajud dan mungkin sedang berdoa. Namun, aku merasa tak bisa bergerak ketika mendengar sepenggalan kalimat yang diucapkan Kak Atika.
"Ya Allah, tolong bantu hamba sekali lagi. Hamba takut. Tolong buat Mas Abe kembali, setidaknya demi anak kami."
Lagi dan lagi doa mengenai suaminya.
Tapi tunggu.
Anak?
Maksud Kak Atika apa?
Aku akan bertanya pagi hari saja. Didalam hati aku hanya bisa mengamini doa dari Kak Atika. Aku juga ingin Mas ku itu pulang.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritualité[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
