"Pasien pingsan dok"
"Segera bersihkan saja dan setelahnya pindahkan ke kamar rawat inap"
"Baik dok"
Abdurrahman yang selesai dengan anaknya, segera memberikan kepada perawat untuk dimandikan. Ia menuju ranjang istrinya, ia terus menerus berucap terima kasih dan doa yang baik untuk Atika.
"Maaf terlambat, sayang"
*****
Sayup-sayup mata seorang yang baru saja berstatus menjadi Ibu terbuka, hal yang pertama ia dengar adalah suara laki-laki.
"Pelan-pelan"
Ia sangat mengenal suara itu, tak sabar ia segera membuka matanya dengan lebar. Sedikit bingung sambil mencerna dengan keadaan yang ada, mengumpulkan semua ingatan sebelum ia tidur. Terakhir kali ia merasa sedang berada diruang operasi untuk bersalin. Namun sekarang menjadi kamar inap, sudah tidak ada meja operasi dan lampu atau bahkan gunting. Terlebih tidak ada lagi dokter dan perawat disekelilingnya. Sekarang hanya ada satu laki-laki yang begitu ia kenal dan sangat ia rindukan.
"Mas Abe?"
"Iya sayang?"
"Hah?"
Abdurrahman ikut bingung dengan istrinya, bukan pelukan ataupun tangis seperti yang ia dapatkan dari Umi dan Fatimah. Ia justru mendapat tatapan bingung dari istrinya.
"Kenapa sayang?"
"Loh bisa ngomong?" bingung Atika yang mengundang gelak tawa Abdurrahman.
"Ya bisa dong, sejak kapan aku bisu hmm?"
"Ta-tapi kamu, kamu, yang diberita itu," gagap Atika.
Abdurrahman mulai mengerti dengan pikiran istrinya. Ia bisa menebak jika Atika sebelum melahirkan sudah melihat beritanya di televisi, berita yang membuatnya disebut sebagai imam viral.
"Kejadian itu sudah 4 hari yang lalu, tapi berita di TV itu terus saja mengungkit bahkan ngejar-ngejar aku buat diwawancara," terang Abdurrahman.
"Jadi, ini beneran kamu mas?" Atika mulai mengulurkan tangan dengan meraba wajah Abdurrahman seakan tidak percaya bahwa suaminya telah kembali.
Abdurrahman mengangguk dan tersenyum hangat ketika setetes air turun dari mata Atika, ia menghapusnya dengan lembut dan menggenggam tangan istrinya yang berada diwajahnya,
"Maaf ya sayang, membuat kamu berjuang sendirian," kalimat Abdurrahman malah membuat Atika semakin menangis.
"Alhamdulillah kamu selamat dan sehat-sehat mas," ucap Atika dengan tangisan bahagia.
Abdurrahman tidak bisa membendung tangisnya. Melihat istrinya hamil dan melahirkan tanpa dirinya sudah membuat dia menyesal, namun istrinya justru khawatir akan keadaannya. Dimana keadaan dirinya tidak lebih buruk dengan kondisi Atika.
Abdurrahman mengusap air mata Atika dengan penuh sayang, ia juga mendaratkan kecupan didahi sang istri.
"Mas jauh lebih bersyukur kamu baik-baik saja, pasti tidak mudah untuk menerima semua ini. Mas benar-benar meminta maaf kepada kamu dan Mas juga mau mengucapkan banyak terima kasih akan penantian kamu selama ini."
Aksi haru dan saling tangis diantara kedua suami istri tersebut harus terjeda karena kedatangan rombongan yang tiba-tiba membuka pintu kamar.
"Assalamu'alaikum, eh ada yang masih kangen-kangenan," celetuk Aidin membuat Atika dan Abdurrahman menjadi salah tingkah dan segera menghapus bekas air mata pada pipi mereka masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
