27. Kerudung

232 20 31
                                        

Sesuatu yang sangat aneh jika kita terbiasa tidur sendiri dan tiba-tiba sekarang justru bangun pada kungkungan tangan orang lain, itulah yang dirasakan Atika.

Kembali ia harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kini ia bukan lagi seorang anak, melainkan sudah menjadi seorang istri.

Ia memang memunggungi suaminya, tapi ia juga tak bisa menepis jika wajahnya serasa panas karena dekapan erat tangan suaminya pada perutnya. Atika segera bangun dengan menyingkirkan tangan Abdurrahman dengan lembut agar tidak terbangun, namun ketika ia akan berhasil melepas tangan kanan suaminya tiba-tiba terdengar suara serak khas bangun tidur.

"Mau kemana?"

Deg

"Ehmm ini mau ke kamar mandi mas, sebentar lagi adzan shubuh" jawab Atika dengan gugup pada posisi tidur membelakangi Abdurrahman.

'Syukur, mas Abdurrahman ada di belakangku jadi ia tak bisa melihat wajahku yang mungkin kini terlihat gugup' batin Atika.

Abdurrahman yang mendengar itu justru mengeratkan pelukan lalu ia berbisik, "Jangan gugup."

Atika semakin malu, ternyata Abdurrahman tau jika ia gugup tanpa melihat wajah perempuan itu. Setelah beberapa menit berada pada posisi nyaman itu, Abdurrahman melepas pelukan pada istrinya. Shubuh sebentar lagi datang, dan ia tak mau melupakan Allah yang telah memberinya hidayah hanya karena sudah memiliki seorang istri sholihah.

"Adek mandi di dalam, mas mandi diluar ya," ucap Abdurrahman setelah duduk dan disusul oleh Atika.

"Di luar? Dimana mas?" tanya Atika dengan menghadap suaminya.

"Di kamar mandi umum pondok, sekalian nanti mas langsung berangkat ke masjid. Adek sholat dirumah, gapapa kan?" kata Abdurrahman sambil mengelus puncak kepala Atika dengan sayang.

"Iya mas, Atika tau kok" jawab Atika dengan lembut dan senyum yang meneduhkan.

"Oke kita sama-sama menghadap Allah pada tempat yang berbeda namun hati yang sama."

Blush

Wajah ala kepiting rebus itu tiba-tiba saja ada pada Atika, dan Abdurrahman terbahak melihatnya membuat Atika menunduk.

"Jangan menunduk, mas suka pipi meronamu. Humairrah," ucap Abdurrahman mengangkat dagu Atika dengan telunjuk dan jempol tangan kanannya, tak lupa ia memberi kecupan pada dahi istrinya.

"Mas berangkat, assalamu'alaikum"

Atika hanya menjawab salam dan suaminya langsung pergi dengan mengambil sarung dan baju koko serta tak lupa peci hitam andalan Abdurrahman. Melihat pintu yang telah tertutup, Atika juga beranjak dari tempat tidur untuk segera bersiap sholat shubuh.

*****

"Assalamu'alaikum warahmatullah."

"Ya Allah, Engkaulah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang segala puji hamba pada-Mu ya Allah. Terima kasih telah memberikan kesempatan pada hamba untuk menyempurnakan seperuh agama hamba, dan mendapat kesempatan pula untuk melakukan ibadah yang panjang serta berlimpah pahala seperti menikah ini. Alhamdulillah Engkau menjodohkan hamba dengan mas Abdurrahman yang semoga memang tepat untuk hamba, tolong berkahilah pernikahan kami hingga tercipta sakinah mawaddah warohmah. Aamiin."

Setelah sholat dan berdo'a, Atika melipat mukenah pemberian Abdurrahman sebagai mahar dengan rapi.

Selanjutnya ia bingung harus melakukan apa? Ini masih pagi, biasanya ia akan mengaji terlebih dahulu hanya saja ia belum tau benar tata letak kamar suaminya. Sebagai seorang laki-laki, Abdurrahman tipikal yang rapi bahkan kamarnya saja tak ada barang yang berantakan.

Abdurrahman X Atika Zaman NowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang