16. Seleksi

142 20 0
                                        

Menit demi menit menjadi jam dan berangsur menjadi hari, terus berjalan menjadi bulan bahkan tahun.

Tak terasa 1 tahun telah dijalankan begitu indah dengan Abdurrahman, ia mampu menghafal kembali Qur'an dengan penuh 30 juz.

Setiap hari ia gunakan untuk muroja'ah langsung dengan sang Bapak. Hingga kini dia kembali diberi wewenang untuk mengajar di pondok, dan perlahan ia juga memulihkan kembali ingatannya mengenai ajaran agama lainnya. Hanya saja posisinya sekarang menjadi guru ngaji yang dilakoninya setiap menjelang magrib hingga setelah isya', karena di pagi hari ia kembali mengurus cafe yang telah lama ia lupakan.

Untuk Aidinpun sama, usaha yang mulai ia lahirkan membuahkan hasil begitu memuaskan. Seperti perkataan Abdurrahman satu tahun lalu bahwa usaha ini menjanjikan, dan modalpun bisa dikembalikan hanya dengan hitungan 4 bulan.

Kini Aidin sudah bisa membaca Al Qur'an dengan lancar, bahkan ia juga mencicil hafalan dan sudah terkumpul 2 juz. Di tengah aktifitasnya juga ia menyempatkan untuk tetap belajar agama, meskipun hanya sebatas mengikuti kajian rutin malam di pondok. Alhamdulillah semoga bisa terus istiqomah.

Seperti saat ini, malam jum'at yang biasanya akan ada kajian di masjid hingga pelataran didepannya. Dan kali ini akan di isi langsung oleh Abdurrahman sebagai pemateri, sedangkan Aidin menjadi tim sukses dibaliknya.

"Gimana Din? Udah siap belum?" tanya Abdurrahman kepada Aidin mengenai acara yang akan dimulai 30 menit lagi.

"Alhamdulillah mas, semua sudah stand by. Para santri dan santriwati juga sudah banyak yang berdatangan, para pemimpin dan pengajar juga sudah ditempat. Tapi sepertinya Umi dan Bapak mas Abdurrahman belum datang, mungkin masih menanti anak bungsunya" ada nada tersipu malu diakhir kalimat Aidin dan Abdurrahman bisa mengerti maksud itu.

"Hari ini Ibra akan datang, sekaligus calon perjodohanku nanti. Aku sangat gugup, apalagi aku harus berdampingan dengan Ibra nanti saat didepan sebagai pemateri."

Abdurrahman baru kali ini terlihat gugup, entah apa yang dia pikir hingga mampu membuatnya seperti itu. Saat melihat Aidin, Abdurrahman makin terlihat bingung.

"Kamu kenapa? Aku yang akan akan duduk di depan kok kamu yang lebih gugup?"

Aidin menggerak-gerakkan jarinya memutar, lalu memperlihatkan pada Abdurrahman raut yang ketakutan bercampur gugup.

"Mas?"

"Jangan membuatku makin takut dong Din"

"Mas? Fatimah gak akan diambil mas Ibra kan?" tanya Aidin dengan wajah serius.

Keduanya saling bertatapan dengan wajah tegang, dan seketika tawa Aidin meledak begitu saja. Abdurrahman yang baru sadar itu langsung melonggarkan raut muka yang sebelumnya begitu kusut, ia tau jika Aidin sedang menggodanya karena tidak mungkin jika semahrom akan menikah.

"Hahaha aduh mas.. haha sudah santai aja kali mas. Ada yang bilang kalau jodoh tak akan tertukar" ucap Aidin sok bijak dengan menaik turunkan alisnya.

"Oo bocah sontoloyo.. kamu menghodaku huh?" kata Abdurrahman dengan mengacak rambut Aidin dan setelahnya kedua orang itu tertawa melepas semua ketegangan yang sebelumnya dirasakan.

*****
Ditempat lain.

"Abi?"

"Iya Atika?"

"Kita akan ke pondok Al Wahyu?" tanya Atika dengan gugup pada Abinya.

Ashila yang juga ada disini hanya tersenyum menggoda adik kesayangannya, dan tak luput pula Abi yang terkekeh dengan keras.

"Atika Atika, kalau mau tanya yang benar dong"

Abdurrahman X Atika Zaman NowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang