Setelah sholat magrib berjamaah, Abdurrahman bergegas untuk pergi menuntaskan tanggung jawabnya. Dan sebenarnya pak Ilham memintanya untuk pergi besok pagi saja karena hari juga sudah malam, tapi Abdurrahman ingin pulang hari ini juga walaupun ia harus menemui anggota genknya lebih dahulu.
"Kamu yakin pergi sekarang Abdurrahman?"
"Iya pak, saya sudah tidak sabar bertemu Umi dan sepertinya Bapak juga masih mencari-cari saya"
"Tapi kamu ke anggota genk kamu dulu kan?"
"Iya pak, hanya mengucapkan perpisahan saja"
"Baiklah kalo begitu, hati-hati" dengan berat hati pak Ilham merestui Abdurrahman untuk pulang malam ini juga.
"Terima kasih atas semuanya pak, insyaallah saya akan mengingat kebaikan bapak" kata Abdurrahman sambil tersenyum.
"Jadilah muslim yang membanggakan kaum kita" kata pak Ilham sambil menepuk bahu Abdurrahman.
"Insyaallah pak do'akan saya"
"Insyaallah"
"Saya pamit, Assalamu'alaikum" pamit Abdurrahman sambil mencium tangan pak Ilham.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"
Kini Abdurrahman benar-benar telah pergi dengan arah yang sama pada awal jumpa dengan pak Ilham, tepi sungai.
Pak Ilham masih setia memandang kepergian Abdurrahman walaupun sudah tak terlihat lagi punggung Abdurrahman, hingga tiba-tiba dia berbalik arah karena ada yang memanggilnya.
"Abuya"
*****
Kini Abdurrahman sudah berada pada markas genknya dulu. Namun sekarang tujuannya sudah berbeda dengan sebelumnya, karena kali ini hanya akan ada perpisahan dan mungkin saja tidak akan ada lagi kumpulan.
Abdurrahman mulai membuka gudang tua itu.
Sreeeekk
"Wuihh ketua sudah kabur lagi, tadinya kita sudah bingung" sambutan baik yang Abdurrahman dapatkan dari para anggotanya yang justru membuat ia merasa berat mengungkapkan tujuannya datang.
"Maaf teman-teman saya tidak bisa lagi menjadi ketua kalian lagi" sontak ucapan Abdurrahman ini membuat seluruh anggotanya terdiam.
"Sudah banyak yang saya kecewakan saat saya meninggalkan mereka untuk hidup disini, dan kalian..." semua orang yang berada disana merasa bingung "Pulanglah"
"Tapi kenapa?" kata salah satu anggotanya.
"Sudah seharusnya kita serahkan tugas kita pada pihak yang berwenang untuk memberantas genk lain, karena sejujurnya api tak akan bisa dilawan dengan api"
"Tapi peraturan kita?" belum sempat anggotanya protes, Abdurrahman langsung memotong.
"Sudah berapa kali mereka membodohi kita, bilangnya menaati peraturan yang kita buat tapi mereka selalu melanggarnya entah itu secara diam-diam atau bahkan terang-terangan dihadapan kita"
"Untuk apa kita memikirkan mereka yang seharusnya memang diberantas sejak dulu dan inilah saat untuk kita pensiun dari tugas kita, karena apapun yang kita lakukan bahkan tidak memengaruhi mereka" lanjut Abdurrahman.
Semua anggota sudah tau arah pembicaraan Abdurrahman, merekapun juga menyadari apa yang dikatakan Abdurrahman memang benar.
"Lalu bagaimana dengan kita?"
"Saya ataupun kalian kembali pada keluarga kita masing-masing, saya yakin pasti keluarga terutama orang tua kalian pasti merindukan kalian"
Semua sontak merasakan kerinduan yang selama ini memang mereka rasakan selama ini, hanya saja yang menghambat mereka pulang adalah rasa malu karena sudah mengecewakan keluarga yang mereka tinggalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
