"Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada bapak Abimana yang sudah percaya menitipkan putri kesayangannya kepada saya" ucap seorang pria.
"Walaupun dengan sedikit ujian yang harus saya melewati" lanjutnya.
Tiba-tiba terdengar gelak tawa dari orang yang disindir Abdurrahman, Abi dari Atika.
"Saya kira kamu sudah lupa" ucapnya setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Saya bahkan masih mencari sosok bapak Abimana" timpal Abdurrahman.
"Haha maafkan saya yang tiba-tiba menghilang, dan sekarang muncul dengan status baru. Calon mertuamu"
"Saya tidak menduga jika bapak adalah orang tua dari calon istri saya" Abdurrahman berucap dengan jail melirik Atika yang sedang malu-malu.
Atika sendiri telah merasa lega, padahal memang sebelumnya suasana tak ada kesan menegangkan. Mungkin satu-satunya yang membuat dia merasa sulit ialah perasaannya sendiri, dan kini telah lega dengan Abdurrahman sebagai calon suaminya.
"Haha bisa saja kamu menggoda putriku, walau kau sudah tau ada ayah disebelahnya dan dengan status belum menikah" sindir Abimana yang melihat gelagat Abdurrahman mencuri pandang ke arah putrinya.
Abdurrahman yang bisa membaca sindiran itu bergumam istigfar serta menunduk dan sedikit menggelengkan kepalanya, reaksi Abdurrahman ini justru membuat suasana mencair bahkan terdengar gelak tawa semua orang dirumah itu kecuali Atika dan Abdurrahman yang masih saja melirihkan istigfar.
"Ya sudah, kabar baik ini langsung saja kita lanjutkan kedepannya. Namun kita semua perlu istirahat untuk membahas langkah selanjutnya, dan sepertinya cucumu sudah tertidur dalam pangkuan ayahnya di latar depan" suara Pak Kyai.
"Baiklah ini juga sudah malam, dan saatnya kami undur diri" ucap Abimana.
"Kalian menginap saja disini, alhamdulillah disini ada penginapan untuk tamu. Rumah itu sudah kami bersihkan karena kami sudah menduga bahwa kita akan mengobrol hingga larut malam" usul Pak Kyai.
"Wah terima kasih sudah menyiapkan dan melayani kami dengan baik layaknya raja walaupun tanpa singgasana" celoteh Abimana yang disambut tawa ringan dari orang yang berada disana.
"Mari kita kesana" ajak Pak Kyai dengan berdiri dan diikuti oleh yang lainnya.
"Tidak perlu repot-repot untuk mengantar kami, karena aku tau semuanya sudah lelah dan mohon jangan terlalu memanjakan kami" cegah Abimana.
"Tidak sama sekali repot untuk itu" keukeuh pak Kyai.
"Ini kapan tidurnya jika seperti ini terus?" kali ini Ibra bersuara dari sekian lamanya ia diam hanya sebagai penonton.
"Begini saja, Bapak dan Umi istirahat saja. Untuk keluarga bapak Abimana biar Abdullah dan Ibra yang mengantar ke rumah penginapan pondok" usul Abdurrahman menengahi dan disetujui oleh semua pihak.
Berakhirlah dengan damai semuanya beristirahat, Umi dan Pak Kyai mengantar tamunya hanya sampai dengan depan rumahnya saja. Sedangkan yang mengantar Abimana sekeluarga adalah Abdurrahman dan Ibra hingga ke tempat tujuan.
Tak ada pembicaraan selama perjalanan menuju rumah penginapan, dimana rumah itu kosong dan hanya dihuni oleh tamu entah dari keluarga santri ataupun pengurus bahkan biasa juga untuk tamu penting Pak Kyai yang jauh dari luar kota.
Abdurrahman berada dipaling belakang rombongan, dan Ibra paling depan sebagai penunjuk jalan. Abimana berada tepat di depan Abdurrahman dan tepat disebelah Atika, sedangkan Ashila bersama Harun yang menggendong Husna dibelakang Ibra dan di depan Abimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abdurrahman X Atika Zaman Now
Spiritual[Selesai] Ini bukan cerita cinta dalam diamnya Ali dan Fatimah, bukan pula cerita tentang Khadijah atau Aisyah dengan Rosulullah saw. Tapi ini cerita tentang kakak dari Aisyah yaitu Abdurrahman dengan istrinya, Atika. Ini bukan cerita masa lalu atau...
