06 - Nasi Goreng Buatan Kamu?

57.4K 2.9K 42
                                        

¤▪☆▪¤
~HAPPY READING~
¤▪☆▪¤

Nazwa merebahkan tubuhnya di kasur sederhananya. Ia rasa pusingnya bertambah. Mau ke toilet untuk buang air kecil saja ia tak kuasa. Ia mengambil benda pipih yang berada di tas sekolahnya. Menelpon pacar nya adalah tujuan utamanya.

Semoga laki-laki itu mau membantunya membeli obat pereda sakit kepala. Orang tuanya sedang pulang kampung karena orang tua dari ayah nya sedang sakit keras. Nazwa sendirian di rumahnya itu. Ia sakit pun tidak ada yang merawat.

Ia cuma berharap pacarnya itu mau menolongnya kali ini. Tangannya ia gunakan untuk mengetikkan pesan singkat pada Aldo.

***

si cuek bebek😎
[Online]

Aldo, kalo kamu nggak sibuk, aku mau minta
tolong ke kamu buat beliin obat pereda nyeri
kepala. Bisa kan? Kalo nggak ya udah gapapa
Makasih banyak ya

Nyusahin! Bentar aku kesana

***

Nazwa pun menyimpan ponselnya di atas meja sebelah kasur miliknya. Ia memiringkan badannya merasakan nyeri yang begitu dahsyat di area kepalanya. Tangannya ia gunakan untuk memijit pelan dahinya.

Nazwa membuka matanya karena mendengar ada suara ketukan pintu. Ia yang tak sanggup keluar pun langsung menyuruh Aldo ke dalam dengan memberi pesan pada cowok itu. Tak lama kemudian, Aldo pun langsung masuk.

Cowok itu mengetuk pintu kamar Nazwa. Meminta izin apakah ia boleh masuk atau tidak. Cewek itu berusaha bersuara memperbolehkan pacarnya masuk ke dalam. Mendapat izin masuk, Aldo pun masuk ke kamar Nazwa.

Tanpa bicara apapun, laki-laki itu memberikan kantong plastik berwarna putih ke arah Nazwa. Ia mengambilnya dengan senyum mengembang. Untung di dalam tas nya ada minuman. Jadi, ia tidak perlu beranjak dari atas ranjang.

"Emang udah makan?" tanya Aldo melihat Nazwa mengeluarkan botol minum dari tasnya. Pertanyaan laki-laki itu hanya dibalas gelengan dari Nazwa.

"Makan dulu kalo gitu" ucap Aldo datar. Nazwa yang mendengar itu pun mau meledak. Bagaimana ia mau makan? Sedangkan di rumahnya tidak ada makanan. Ia pun belum sempat memasak karena pusing.

"Ga ada makanan. Aku pusing, nggak sempet masak" jawab Nazwa sembari meneguk air putih. Aldo menatap Nazwa lalu membantunya turun dari atas ranjang.

"Mau ngapain? Aku pusing." tanya Nazwa pada Aldo. Namun cowok itu hanya diam. Cowok itu malah menggendongnya di punggung. Nazwa yang kesal dengan perlakuan pacarnya pun menabok-nabok punggung cowok itu.

Aldo menurunkan Nazwa di meja makan. Ia berjalan menuju dapur. Entahlah, Nazwa tidak tahu apa yang akan dilakukan pacar menyebalkannya itu. Ia hanya bisa diam sembari memperhatikan gerak-gerik Aldo.

"Pisau dimana?" tanya Aldo yang tengah mencari pisau. Nazwa melebarkan bola matanya. Apa tadi? Pisau? Apakah Nazwa akan dibunuh oleh pacarnya? Oh tidak! Ia belum siap untuk kembali ke pangkuan sang Maha Kuasa.

"P-pisau? K-kamu m-mau b-bun---"

Sebelum Nazwa melanjutkan kalimatnya, buru-buru ia memotong ucapan Nazwa karena ia tahu kemana arah pikiran pacarnya itu. "Gak usah ngaco! Aku mau iris bawang merah buat bikin nasi goreng. Katanya kamu belum makan."

Nazwa menghembuskan nafas lega. Ternyata pikirannya salah. Lagian, mengapa ia tidak bilang kalau mau memasak untuknya? Bukannya Tuhan menciptakan mulut untuk berbicara?.

"Kamu mau masak buat aku?" tanya Nazwa.

"Ck! Gak usah berbelit-belit. Mana pisaunya, Nazwa?!"

Nazwa meneguk salivanya susah payah. Ia pun menujuk almari yang berada di atas kompor gas. "Itu, disitu ada pisau." ucapnya memberitahu.

Dengan cepat, Aldo pun memgambil pisau tersebut dan mulai mencincang bawang merah dan bawang putih. Ia mempersiapkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memasak nasi goreng.

Karena bahan-bahan sudah lengkap, ia pun memasukkan satu per satu bahan tersebut ke dalam wajan. Dirasa sudah wangi, ia pun mengambil nasi yang sudah di dinginkan dan memasukannya ke dalam wajan yang sudah berisi bumbu-bumbu.

Bisa di katakan, masakan Aldo benar-benar menggugah selera. Aroma wangi itu sangat menggoda Nazwa. Sepertinya masakannya kalah dengan masakan Aldo. Ia tak menyangka jika Aldo bisa memasak.

Aldo menghidangkan nasi tersebut pada piring putih yang berada di keranjang alat-alat masak dan makan. Ia menuangkan nasi tersebut pada piring dan membawanya ke meja makan dimana ada Nazwa disana.

"Makan." suruhnya.

Nazwa yang tidak sabar memakan makanan buatan pacarnya pun dengan cepat melahapnya. "Kamuh khok bwisa mwasak bhenak kwayakh gini?"

"Telen dulu baru ngomong." peringat cowok itu. Nazwa pun mengunyahnya dan menelannya. Setelah meneguk air putih, ia pun mengulang perkatannya.

"Kamu kok bisa masak enak kayak gini? Belajar dari mana? Masakan aku aja kalah sama makanan kamu" ucapnya memperjelas.

"Di ajarin Ibu." jawabnya.

Nazwa hanya ber'oh'ria. Kemudian ia melanjutkan aktivitas makannya. Aldo yang melihat Nazwa menyukai masakan buatnnya pun tersenyum kecil. Apalagi melihat cewek itu makan dengan lahap.

"Minum obatnya." ucap Aldo sembari memberikan kantong plastik berisi obat yang tadi ia belikan. Nazwa pun bangkit hendak mengambil air putih. Karena air yang tadi sudah habis.

"Mau kemana?" tanya Aldo yang melihat Nazwa beranjak dari duduknya.

"Mau ambil air. Buat minum obat" jawab Nazwa dengan tangan yang mengangkat gelas yang sudah kosong.

Aldo merampas gelas tersebut. Ia menyuruh Nazwa duduk dan ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih. Setelah selesai, ia pun kembali ke meja makan dan memberikan gelas itu pada Nazwa.

Selesai minum obat, Nazwa pun di antar ke kamar oleh cowok itu. Namun, kali ini is hanya di papah. Tidak di gendong seperti tadi. Aldo menidurkan badan Nazwa di atas ranjang. Kemudian ia pun pamit untuk pulang.

Nazwa masih belum bisa ditinggal sendirian. Ia merengek meminta Aldo agar tidak meninggalkannya sendirian di rumah. "Kamu jangan pulang. Disini aja"

"Naz? Di rumahmu nggak ada orang. Aku gamau ada gosip dari tetanggamu. Dan, aku ini cowok normal yang bisa saja melakukan hal yang tidak sepantasnya untuk dilakukan." ucap Aldo.

¤▪☆▪¤
~BERSAMBUNG~
¤▪☆▪¤

SEE YOU NEXT CHAPTER

7 Maret 2022

PACARKU CUEKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang