HAI!!! WELCOME BACK TO AVOCADOSTORY
GIMANA KABAR KALIAN? SEMOGA SELALU DALAM LINDUNGAN YANG MAHA KUASA YA!!! PASTINYA KALIAN SEMUA DALAM KEADAAN SEHAT DAN BAHAGIA TENTUNYA. AAMIIN
TANPA LAMA-LAMA CUSS BACA
💐💫HAPPY READING💫💐
☆
☆
☆
Pagi hari yang tenang itu, Aldo berdiri di depan cermin, mengatur kerah bajunya dan mencoba memastikan penampilannya terlihat rapi. Hatinya berdebar tak menentu, dan tangan yang menggenggam setangkai bunga untuk Nazwa pun sedikit gemetar. Hari ini adalah hari penting, hari di mana ia berencana untuk bertemu dengan kedua orang tua Nazwa dan meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Pikirannya masih dipenuhi dengan kenangan masa lalu dan rasa bersalah yang selalu menghantuinya setiap kali mengingat bagaimana ia meninggalkan Nazwa tanpa penjelasan yang jelas.
Namun, Aldo juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia sudah berubah dan ingin menebus semua kesalahannya. Ia memegang komitmen itu kuat-kuat di hatinya, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Setibanya di depan rumah Nazwa, Aldo menarik napas panjang. Ia menatap pagar rumah itu dengan hati yang berdebar. "Gue bisa lakuin ini," gumamnya, berusaha menyemangati diri sendiri. "Demi Nazwa, gue harus lakuin ini."
Aldo berdiri di depan pintu rumah Nazwa. Udara pagi yang sejuk tidak mampu menenangkan kegelisahan di hatinya. Tangan Aldo sedikit gemetar saat mengetuk pintu, dan beberapa detik kemudian, Nazwa muncul di ambang pintu dengan senyum yang memberinya sedikit keberanian. Gadis itu tampak cantik dengan rambutnya yang tergerai rapi, mengenakan pakaian kasual namun tetap anggun. Senyum tipis yang terpancar dari wajahnya sedikit meredakan ketegangan di hati Aldo.
"Kamu udah datang," ucap Nazwa pelan, seolah memastikan dirinya bahwa Aldo benar-benar ada di hadapannya.
"Sudah siap?" tanya Nazwa pelan, nada suaranya mengisyaratkan dukungan.
Aldo mengangguk, meski rasa takut dan cemas masih jelas terasa. "Aku sudah siap," jawabnya. "Makasih ya kamu udah mau nemenin aku,"
Nazwa mengangguk, lalu mempersilahkan Aldo masuk ke dalam rumahnya. "Yuk, kita masuk. Ayah sama Ibu udah nunggu di dalem."
Mereka berjalan masuk ke ruang tamu. Rumah yang dulu sering Aldo kunjungi bersama Nazwa saat mereka masih bersama kini terasa sangat asing baginya. Ada perasaan nostalgia yang menyeruak, seakan setiap sudut ruangan itu mengingatkan Aldo pada momen-momen manis yang pernah ia bagikan dengan Nazwa. Namun, ia sadar bahwa hari ini bukan saatnya terjebak dalam kenangan.
Mereka tiba di ruang keluarga, dan di sana orang tua Nazwa sudah menunggu. Ayah Nazwa duduk dengan ekspresi serius, sementara Ibu Nazwa menatap Aldo dengan sorot mata yang sulit ditebak. Aldo menelan ludah, merasa tekanan semakin kuat.
"Silakan duduk," kata Ayah Nazwa, nada suaranya tegas dan berwibawa.
Aldo duduk perlahan, merasa berat seolah kursi di bawahnya menekan setiap beban penyesalan yang ia bawa. "Terima kasih, Pak. Bu," ucap Aldo dengan nada sopan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan.
Ayah Nazwa memandang Aldo dengan tatapan yang tajam, sementara ibu Nazwa hanya menatap dengan wajah datar yang sulit ditebak "Saya dengar kamu ingin bicara sesuatu," katanya langsung ke intinya.
Aldo menelan ludahnya sekali lagi, kemudian mengangguk. "Iya, Pak. Saya datang ke sini untuk meminta maaf." katanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Saya sadar bahwa saya sudah membuat kesalahan besar terhadap Nazwa. Saya tahu saya sudah menyakiti hatinya, dan saya tidak akan menyalahkan siapa pun jika Bapak dan Ibu marah atau kecewa kepada saya."
KAMU SEDANG MEMBACA
PACARKU CUEK
Teen Fiction"Aldo tungguin ih!" "Lelet." *** "Aldo bantuin, berat." "Manja." *** "Aldo, Nazwa pusing." "Lemah." *** "Aldo, kaki Nazwa kesleo. Kamu bisa nggak papah Nazwa sampe ke depan kelas?." "Ck! Nyusahin!" *** "Aldo, Nazwa capek." "Istirahat." *** "Aldo, Na...
