Kamar 25: Keributan Awal

40 3 0
                                        

"Kok bisa-bisanya sih?!"

"M-Maaf Pe, aku sama Nini engga maksud apa-apa."

"Tapi pikirlah Na." Suara yang sudah terdengar marah kian naik satu oktaf lagi. "Gue effort beresin kamar terutama kasur kita, kembaran lo malah seenaknya gini berantakin. Gue capekloh tadi pagi beresin, trus pulang kuliah malah liat semua berantakan lagi."

Kening Zalwa mengernyit mendengar keributan dari dalam kamar, bibirnya masih menyeruput es seduh yang ia ambil di warung mba Tia, kemudian merunduk sedikit demi melepas sepatunya sebelum masuk. Suara amarah yang ia yakini berasal dari Shopee, terdengar semakin keras seiring suara benda yang sepertinya sedang ditata kasar oleh gadis itu berbunyi tak kalah nyaring. 

Sadar situasi di dalam sedang tak kondusif, Zalwa segera memasuki kamar setelah menyeruput habis es-nya. Benar saja di sana ada Shopee yang tampak marah dengan sorot letihnya tengah membereskan kamar, Zalwa agak kaget karena cukup berantakan. Selain itu Nina di sana juga membantu, rautnya tampak menahan sedih terlebih Shopee masih mengomel.

"Ini kenapa sih?" tanya Zalwa yang meletakan tas di bawah kasur."

"Taruh yang bener!"

Zalwa berjengkit, memilih menurut dan meletakannya di meja belajarnya. "Jadi ini kenapa?"

"Tanya aja ke Nina tuh!"

Shopee yang baru kali ini terlihat sangat marah membuat Nina agak takut, bibirnya mengatup bahkan sesekali digigitnya cemas. 

"Kenapa Nin?" tanya Zalwa sepelan mungkin, merasa Nina sedang terguncang karena Shopee.

"Tadi Nini mampir kamar, aku emang masih kelas posisinya, jadi aku kasih kunciku ke dia buat tunggu sebentar. A-Aku sadar salah juga disini karena biarin orang masuk kamar kita." Nina mulai menjelaskan dengan suara bergetar. "Tapi Nini ngga bisa pulang karena lupa bawa kunci kamar, jadi aku suruh ke kamar kita. Tapi sebelum aku pulang, Nini udah pamit dan katanya kunci dititip di Shopee. Awalnya kukira aman aja, ternyata Shopee marah besar."

"Ya, karena kembaran lo berantakin kamar Nina, engga sopan tau engga. Lihat secapek apa gue beresin nih kamar, nata semua barang kita, tapi kembaran lo malah gue temuin ngelatrak di sini!"

Zalwa kembali berjengkit mendengar nada suara Shopee semakin meninggi. Situasi ini agak membuatnya was-was karena baru pertama kali menghadapi Shopee versi ini, sedikit Zalwa takut salah ambil langkah. 

"Aku minta maaf Shopee," lirih Nina yang masih tak percaya tengah dimarahi sekarang. Rasanya Shopee belum puas mengamuk dan ingin terus memojokannya.

"Minta maaf lu itu engga akan ubah apa-apa dan harusnya yang minta maaf kembaran lo," ketus Shopee yang selesai membereskan kasurnya. Masih sangat marah karena posisi barangnya diacak-acak begitu saja, "sialan, gue engga suka banget barang gue yang udah dirapihin diberantakin gini."

Perasaan Nina semakin tak karuan. Kalimat gadis itu seolah tengah menekannya, walau Nina sadar salah di sini namun entah kenapa ia merasa sakit hati dengan Shopee. Sementara Zalwa hanya menghela napas sebelum menepuk bahu Nina, mengode gadis itu untuk sabar sebelum mendekati Shopee.

Aneh juga dengan situasi ini karena biasanya yang paling suka marah adalah Felicia ataupun Kiara, namun kali ini Shopee yang marah dan pertama kalinya menunjukan sisinya yang seperti ini.

"Pe, masih mau marah?"

"Engga tau," balas Shopee ketus.

Zalwa anehnya tertawa saja dan menggosok bahu gadis itu pelan. Hanya dugaan saja, sepertinya Shopee mulai mereda.

"Ya marah aja engga papa. Mau pake samsak engga?" Zalwa pura-pura melakukan tinju dan mengarah ke Shopee. "Gas, sparing sama gue."

"Diem, sana dah lu."

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang