Hari ini, detik ini.
Rasanya waktu berjalan sangat lama dari yang biasa. Aktivitas para manusia berbaju putih-hitam itu masih memadati auditorium pada pukul 15.00 dan bisa dibilang ini telah melewati schedule di rundown.
Harusnya jam segini mereka telah selesai. Namun berkat satu pemateri yang bisa dibilang terlalu soft spoken dan gemar storytelling jalan kehidupannya, para maba maupun panitia harus matian menunggu dengan sabar hingga beliau selesai berbicara. Dua jam yang diperlukan mereka menahan segala kantuk maupun lelah demi menghargai sang pemateri yang walaupun telah dikode panitia, tetap lanjut berbicara.
Mau ditegur segan, karena dia satu keluarga sama Rektor. Haduh, Felicia yang sudah encok total sangat ingin marah sekarang. Pasalnya ia harus berdiri mendampingi anak fakultasnya yang sangat banyak—tentu saja bersama BEM dari fakultas lain—sehingga Felicia harus bolak-balik memantau mereka yang duduk membentang dari ujung ke ujung.
Beruntung hari ini ospek tak ada kendala apapun. Maba yang sering telat juga mulai berkurang dan mulai aktif datang pagi guna menghindari hukuman. Jalan jongkok, lari mengitari gedung bahkan dipakaikan atribut yang aneh oleh panitia nyatanya sangat ampuh memberi efek jera.
Mari beri selamat pada Rian dan Shopee salah satunya, mereka sangat effort di pagi hari menjaga gerbang demi menyidak anak-anak yang terlambat, memastikan muka mereka tak akan muncul lagi dalam barisan telat besoknya.
"Udah pulang mungkin mereka berdua," gumam Felicia sambil mengecek ponsel lalu membuka grup khusus PJ dimana mereka ribut perkara kumpul santai nanti malam.
Iya, ini ide Rian yang mendadak mengajak mereka bakaran di rooftop. Dan HUMAS kamar 4 alias Zalwa menyambut penuh, jelas banyak yang excited bahkan para Maba.
Felicia jadi teringat harus membeli beberapa potong daging untuk jatah kamar 4. Maklum, dua orang saja makannya kayak babon—bukan, tiga orang malah.
Inara kandidat terkuat, lalu ada Shopee si sweeper dan Zalwa yang maniak martabak.
Iya, acara bakaran tapi dengan pedenya anak itu request ada martabak. Aneh memang.
"Kak Feliiiii."
Kepala Felicia menoleh, senyumannya terbit mendapati Taru yang memanggilnya. Hingga gadis itu menyadari sesuatu pada leher Taru, sorotnya menurun, menemukan semburat merah di sana. Felicia menahan napas, tak salah menilai bahwa semburat itu adalah sebuah memar besar meski samar.
"Leher kamu kenapa?"
Taru mengedip seraya meraba lehernya. "Ada apa emang, Kak?"
Felicia menunjuk sisi yang memerah itu. "Alergi?"
Berusaha tak membuat canggung keadaan, Felicia memilih menebak hal yang lebih aman agar Taru terpancing sendiri menjelaskan.
"Hehe, iya nih."
Bohong, Felicia memang tak pandai memahami orang secepat Zalwa. Namun bukan berarti ia tak mampu mengenali jenis kulit kemerahan di leher gadis itu. Karena sejak dulu Felicia selalu melihatnya—
—Zalwa, Felicia menemukan noda merah yang sama seperti milik Zalwa setiap mendapatkan hukuman dari Ayahnya, kata gadis itu. Memar itu cukup sama dengan milik Taru sekarang. Merah pucat yang agak samar dan terlihat melebar, tidak seperti alergi yang cenderung bertekstur kasar bahkan berbintik.
"Hati-hati lain kali, kalau sakit izin aja."
"Siap kak Feli." Taru sepertinya memang tak ingin membicarakan perihal memar tersebut. "Btw, ke asrama sama siapa? Bareng gue yuk, kalau engga ada jemputan."
"Boleh." Kebetulan sekali Felicia tak membawa motor Rian hari ini.
Sejak setim sama Shopee, sepupunya selalu nebeng sama gadis itu, katanya biar engga sendirian banget. Alhasil jadi Felicia yang membawa Scoopy putih kesayangan Rian. Tapi hari ini ia absen membawa berkat motor Rian yang lupa ganti oli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sektor 3
Roman pour AdolescentsMereka hanya sekumpulan mahasiswa biasa yang tinggal di asrama suatu universitas, sektor 3. Wilayah asrama mereka berada di sektor 3. Asrama yang terdiri dari 3 gedung yang didesain berbentuk U. Serba tiga jadi yah, ish, ish. Tenang, isinya makhluk...
