"Tangerine is pretty, but i not pretty like tangerine."
- Ikawa
Sektor 3
"Mau kemana?"
Pagi itu di kamar 4 putri, terpantau penghuninya nyaris raib karena mengejar kelas pagi kecuali Zalwa dan Felicia yang punya jadwal agak siangan. Namun Zalwa yang mengenakan hodie sambil menenteng ponselnya, membuat Felicia mengambil asumsi kalau gadis itu akan pergi. Maka pertanyaan terlontar begitu saja dari rasa penasarannya.
"Ke Oncel."
Jawaban yang harusnya tidak mencurigakan tetapi menjadi demikian saat Felicia yang menerima. Memastikan terlebih dahulu, Felicia kembali melirik jam yang jelas masih menunjukkan pukul 8 pagi, sementara seingat Felicia Oncel buka pukul 9. Kembali bersitatap bingung, Zalwa tampaknya tak menggubris kebingungan sang sahabat.
"Bukannya satu jam lagi?"
Tidak perlu penjelas lebih dari pertanyaan Felicia, gadis basket itu mengerti. Sejenak Zalwa menghembus napas pelan seakan menahan diri. "Mau jemput Taru dulu."
"Oh, oke." Merasa Zalwa punya kesibukan sendiri, Felicia urung bertanya lebih. Toh, kalau mau dia akan bercerita sendiri, terlebih Felicia bukan tipe pemaksa yang mengharuskan orang bercerita padanya.
"Lo berangkat sama siapa nanti?"
"Rian."
"Oke, aman berarti." Berhubung motor Felicia dibawa Shopee, niatnya Zalwa ingin mengantar agar sahabatnya tidak nekat jalan.
Percayalah, meski Felicia paling normal di kamar 4, sejatinya gadis ini paling nekat diantara mereka. Sedikit saja percaya dirinya melambung tinggi, maka tanpa berpikir konsekuensi dan berlandas pada kepercayaan diri bahwa ia bisa, Felicia pasti akan melakukan.
"Awas lu kalau jalan lagi."
Felicia memutar bola mata jengah, masih saja Zalwa mengungkit masalah dirinya yang kemarin jalan kaki menuju fakultasnya. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh, meski prodi Kiara lebih dekat.
"Iya."
"Awas aja lu," ancam Zalwa seraya menunjuk dua jarinya ke arah mata gadis itu.
Kemudian akhirnya Zalwa berangkat menuju tempat tujuannya. Sejenak ia memperhatikan pintu kamarnya, bibirnya mengatup beberapa saat dengan resah. Zalwa setelahnya beranjak begitu yakin, melangkah pasti untuk meninggalkan kecemasannya.
Pertanyaan Felicia untungnya tak berlanjut, karena jika dia terus mengorek mungkin saja Zalwa kesulitan menjelaskan. Meski jawaban Zalwa tak sepenuhnya berbohong, ia serius ingin bertemu adik kelasnya itu tapi tempatnya bukan di Oncel.
Oncel hanyalah refleks dari mulutnya yang panik karena Felicia bertanya. Padahal Zalwa sebisa mungkin tak menarik perhatian gadis itu. Apa yang Zalwa lakukan sebenarnya bukanlah masalah yang harus ditutupi sekali, namun saat ini Zalwa ingin menjalankan dulu baru nanti bercerita pada sahabatnya.
Mengandalkan motor matic miliknya yang kebetulan ia ambil dari rumah tempo hari lalu. Zalwa membelah jalanan yang telah padat kendaraan pagi ini, laju motornya membawa Zalwa ke perumahan tempat Taru tinggal. Jika biasanya ada senyum ceria, maka hari ini sedikit bebas. Zalwa sangat serius dalam mengendarai motornya hingga sampai di depan rumah seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sektor 3
JugendliteraturMereka hanya sekumpulan mahasiswa biasa yang tinggal di asrama suatu universitas, sektor 3. Wilayah asrama mereka berada di sektor 3. Asrama yang terdiri dari 3 gedung yang didesain berbentuk U. Serba tiga jadi yah, ish, ish. Tenang, isinya makhluk...
