Menjadi terkenal itu nyatanya melelahkan.
Apalagi terkenal hanya karena visual, rasanya kurang banget untuk dibanggakan. Mau sebanyak apapun keahliannya diperlihatkan, orang akan selalu bertahan pada satu titik di wajahnya.
Visual yang tampan.
Ini kata para cewek yang kerap bicara padanya. Vrano sendiri tidak mengerti kenapa mereka begitu mengidamkan parasnya. Walau ia akui, wajahnya memang cukup tampan.
Namun jika ketampanan membuatnya setiap hari harus bertemu dengan beberapa gadis yang 'mengaku' jatuh hati sampai memberikannya beberapa barang, bahkan mengikutinya.
Vrano rasa lebih baik ia memakai masker saja. Sejak SMA, Vrano selalu mendapat surat rahasia dari beberapa 'gadis' yang mengaku diam-diam suka padanya. Awalnya Vrano biasa saja, toy Helius juga kadang mendapatkannya.
Namun lambat laun, terutama ketika ia memulai band bersama sahabat seoroknya, frekuensi para 'gadis' yang mendekatinya membeludak.
Ia bukan mas Kulin dari Webtoon yang punya visual dan keringat hingga orang sangat obses dengannya. Namun melihat 'orang' yang terangan memotret bahkan memberikannya sesuatu, Vrano sadar mereka sangat memuja visualnya.
Bukan kemampuannya.
Entahlah, ini hanya pikiran beban Vrano yang merasa orang yang mendekatinya itu selalu memuji visualnya. Bukan kemampuannya dalam bernyanyi ataupun bisnis yang dijalankannya. Percayalah Porsche koleksinya adalah sekian jerih payah Vrano selama ini dalam mengelola bisnis almarhum Ayahnya.
Berterima kasih kepada om Dani selaku pamannya yang tak pernah bosan menemani Vrano untuk belajar semuanya. Vrano ingat sekali ia sampai jatuh sakit selama sebulan karena keras belajar.
Kalian bayangkan saja, ia harus membagi waktu latihan band, sekolah, dan mempelajari tender milih Ayahnya. Baiklah, Vrano tegaskan ia bukanlah karakter fiksi yang mendapat privilage cepat sehingga menjadi CEO diusia muda.
Tidak, kalian mungkin belum tau, sejak kematian sang Ayah, Vrano mulai dibebani banyak hal atas penilangan sang Ayah. Selaku anak tertua—sekaligus yang tersisa satu-satunya—Vrano tak mungkin melepas aset samg Ayah, terlebih memberatkan pada pamannya.
Maka Vrano memilih jalan ekstrem hingga sering mimisan, hany demi menjaga aset sang Ayah. Band-lah yang menjadi pelampiasan lelah Vrano sebagai bentuk hobinya yang masih ia pertahankan, setidaknya Vrano masih memiliki sisa yang menjadi favoritnya.
"Bro, makan bro."
Vrano yang kala itu mengambil kesempatan mengecek laporan keuangan sambil menunggu ke tiga sahabatnya memesan makanan, mendongak begitu suara Helius terdengar. Lelaki itu lantas menutupi i pad miliknya, memasukan ke tas.
"Kopi gue mana?"
"Tuh."
"Ini jus wortel monyet."
Helius mendelik sinis, seraya menitah Vrano melalui matanya untuk meminum segelas jus wortel itu. "Minum, mau mimisan mata lo semaleman liatin grafik sama tabel excel?"
"Berat." Hembusan napas Vrano terdengar frustasi. "Gue gagal tender lagi hehe, bisa-bisa ayah Dani ambil alih."
"Bro, pelan-pelan aja. Lagian om Dani bilang kan, lo masih umur belum cukup untuk megang penuh."
"Tetep aja." Lagi-lagi napasnya dihembus keras. "Gue harus usaha dulu dong, seperempat aja mau goyah, gimana full?"
"Adek lu si Davu kan, mau bantu." Sejenak Helius menenggak kopinya. "Kasih dia seperempat aja."
"Lis, yang bener aja," sengit Vrano menggeleng kepalanya, "itu anak lagi stress izin kos kaga kelar-kelar, apalagi dia udah kelas 12, yakali bantu gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sektor 3
Teen FictionMereka hanya sekumpulan mahasiswa biasa yang tinggal di asrama suatu universitas, sektor 3. Wilayah asrama mereka berada di sektor 3. Asrama yang terdiri dari 3 gedung yang didesain berbentuk U. Serba tiga jadi yah, ish, ish. Tenang, isinya makhluk...
