"Kalau mau lebih lagi bisa kok."
Kiara rasanya ingin mencaplok bibir kekasih bundanya itu dengan capitan sekarang juga. Di tengah dirinya yang pusing ini, Vicky malah terus bicara setengah-setengah dan menyuruhnya berpikir. Menyadari calon putrinya yang ingin mengamuk, Vicky mengangkat tangannya sontak tanda menyerah.
"Skandal kamu mereda dengan bukti visum itu dan kini kubu terbagi dua antara pro sama kontra. Urusan image mulai membaiklah."
Kembali dirinya mendecak misuh, seraya menjambak rambut. Vicky tertawa kecil seraya mengambil alih tangan gadis itu agar berhenti. Setelah diperhatikan Kiara sangat mirip dengan wanitanya kalau sedang stress. Benar-benar menggemaskan.
"Kalau gini terus kamu bisa botak."
"Om bisa ngelawak?"
"Loh, saya kenal Sule tau."
"Najis."
Vicky anehnya tak marah dengan kalimat kasar gadis ini. Malah ia merasa gemas karena seperti melihat Xian versi mini. Mereka seperti kembar pikirnya. Vicky terkekeh saja ketika Kiara memberikannya tatapan sengit.
"Om beneran bisa bantu engga sih? Udah bisa masuk ruangan saya sama Bunda padahal ini untuk orang tertentu aja!"
"Berarti saya adalah tentu itu juga Aelis."
"Hah?" Sungguh sel otak Kiara jadi agak lambat sekarang dan malah sel emosinya yang membeludak. "Om serius deh, kesel banget saya daritadi denger situ bahasanya berat."
Vicky menyembut tawanya begitu puas. Ia berjalan memutari sofa hingga sampai ke yang tunggal, mendudukan dirinya kemudian. Vicky memiringkan tubuhnya sedikit, berhadapan dengan Kiara.
"Kita bicara serius ya?"
"Kapan sih engga serius?"
"Dasar Xian."
Kiara mendeik sengit. "Ngga sopan ya, itu calon Istri situ ya!"
"Oh." Sudut bibir Vicky merekah. "Kamu kasih restu?"
"Tidak semudah itu pak tua." Kiara tersenyum miring. "Yuk, bantu gue dulu!"
Astaga benar-benar bos kecilnya ini sangat galak. Mungkin hal yang membedakan antara Ibu dan anak ini adalah dari segi emosional. Kiara cenderung lebih mudah tersulut ketika sedang pusing.
"Urusan DO kamu engga perlu cemas. Pihak kampus pasti bakal berbalik meminta maaf dengan bukti yang ada, lalu staff itu yang akan keluar."
Raut marahnya sedikit mengendur dengan fakta ini. "Amanlah segini dulu. Urusan fans, biarin aja, toh saya juga engga serius amat emang di entertainment."
Vicky mengerjap tak percaya. "Ini yang katanya anak muda itu ya?"
"Hah?"
"Roket yang merendah? Atau apa?"
"Pffttt." Kiara membekap mulut tak percaya, tak kuasa menahan tawa. "Tua banget sih Om, pasti gen X."
"Heh, saya masih kelihatan muda!" protes Vicky namun hanya tersenyum jahil.
"Yang bener merendah untuk meroket!" Kiara tanpa sadar tertawa ngakak. Melepas begitu saja membuat Vicky ikut ketawa.
"Lagian kamu aneh, engga serius tapi top model."
Kiara mengibas rambut songong. "Sayang banget cantik gini engga jadi top model."
"Bagus, gunain kepercayaan diri kamu buat sidang nanti," jelas Vicky yang jelas membuat Kiara terbungkam.
"Sidang?"
Vicky mengangguk. "Komite lebih tepatnya. Bunda kamu yang mau buat buktiin ke atasan kampus kalau kamu difitnah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sektor 3
Teen FictionMereka hanya sekumpulan mahasiswa biasa yang tinggal di asrama suatu universitas, sektor 3. Wilayah asrama mereka berada di sektor 3. Asrama yang terdiri dari 3 gedung yang didesain berbentuk U. Serba tiga jadi yah, ish, ish. Tenang, isinya makhluk...
