Kamar 62: Saling Hancur lalu Melepas

14 1 0
                                        

Ajaib sekali memang pengaruh kamar 4 putri di asrama ini.

Pasca kejadian kemarin, entah bagaimana caranya mereka berhasil membungkam orang-orang yang kemarin menyaksikan pertengkaran di kamar 3 putri, tak ada satupun pagi ini terdengar gosip atau bahkan rumor terkait masalah tersebut. Kamar 3 pun tampaknya tak menjadikan momen kemarin sebagai amunisi untuk mencari masalah lagi, mereka pikir setidaknya Nini akan kembali memancing masalah.

Tentunya dengan menyebarkan masalah itu bukan? Apalagi posisi Zalwa sangat disudutkan kemarin.

Setidaknya pagi ini mereka tak perlu menggunakan emosi untuk menghadapi orang-orang, hanya saja ada yang berbeda di kamar 4.

"Zal, ini gue bawain martabak nihhh, tadi gue buat sama A'a."

Sontak Felicia, Kiara, dan Shopee memperhatikan Inara yang mendekati Zalwa. Pun Nina yang sejak tadi tak beranjak dari ranjang, turun memperhatikan percakapan mereka. Inara tampak tersenyum penuh harap sambil menyodorkan kotak berisikan slice martabak itu.

"Makasih."

Lenyap sudah senyuman Inara ketika Zalwa hanya mengambil kotak itu, kemudian menaruhnya di tas. Zalwa menenteng beberapa buku tebal dan bersiap pergi, tanpa memberi senyuman kecil, atau bahkan cengiran tengil seperti biasanya.

Gadis itu sejak pulang dari rumah Jean beberapa hari lalu, mendadak berubah menjadi sangat pendiam bahkan tak berekspresi. Benar adanya Zalwa tetap merespon saat mereka mengajaknya bicara, bahkan dengan Nina pun Zalwa tetap merespon. Hanya saja ada yang berubah.

Zalwa yang biasa meramaikan, kita sangat sunyi. Inara yang matian berusaha menghibur gadis itu terlihat ingin menangis, merasa gagal dengan usahanya karena Zalwa tak sedikitpun menunjukkan senyuman tengil yang mereka rindukan.

"Z-Zalwa." Namun Inara tak menyerah. Menghalau langkah gadis itu. "Mau gue anterin? Pake motor Kia tuh, motornya baru dicuci kemarin pasti wangi."

"Ngga, Ra. Makasih ya."

Ra? Kenapa asing sekali panggilan yang diucapkan gadis ini. Kemana Zalwa yang selalu mencari ribut dengan memanggilnya Inem? Ini bukan Zalwa yang dikenalinya.

"Oi!" Kiara rasanya tak tahan dengan kesesakan ini sejak kemarin. Beralih menghampiri Zalwa dan menarik bahu gadis itu agar bertatapan dengannya.

Tak ada ekspresi di raut gadis psikologi tersebut. Hanya balas menatap Kiara datar dengan alisnya yang mengerut. Oh? Setidaknya kini dia menunjukkan sebuah emosi.

"Gue tau kemarin itu sulit buat lu. Apalagi lu harus sekamar sama orang yang buat lo gini."

"Kia," tegur Felicia.

Kiara tak peduli, mengingat bagaimana Nina kemarin mengorbankan Zalwa sangat membuatnya marah. "Tapi tolong liat kami Zal, jangan pendem sendirian. Itu yang selalu lo bilang ke kami kalau ada masalah, apa engga ada satupun yang bisa kami perbuat untuk lo?"

Zalwa menghela napas, tampak memalingkan wajah beberapa saat sebelum menurunkan tangan Kiara. Memang tak kasar, tetapi entah mengapa terasa menyakitkan sekali, seakan gadis itu menolak.

"Gue buru-buru. Nanti bicara ya."

"Zalwa lu gila!" kesal Kiara nyaris ingin menjambak namun buru-buru menarik diri, "ya udah sana pergi geh!"

Zalwa mengangguk lalu melangkah keluar. Dan tepat saat pintu di buka, seorang gadis dengan sepasang mata sabitnya terlihat disana, tampak terkejut dengan tangan terangkat seperti hendak mengetuk pintu. Buru-buru sang gadis menurunkan tangan, tersenyum kikuk saat ditatap oleh mereka.

"Em, mau jemput kak Zalwa."

Zalwa langsung mengernyit heran. Tetapi mengedik bahu tak peduli. "Siapa suruh?"

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang