Kamar 64: Sadarkah Hati Masih Denganmu?

22 1 0
                                        

Entah harus bersyukur atau malah sebaliknya melihat Zalwa mulai kembali seperti biasa, bahkan dia telah mengajak Inara bercanda sejak kemarin. BKN TokPen hanya bisa membiarkan, berharap sikap biasanya yang kembali memang benar keinginan gadis itu, bukan semata karena ada sesuatu yang disembunyikan Zalwa.

Walau Felicia merasa sikap Zalwa yang sekarang terlihat aneh, karena seolah masalah kemarin bukanlah perkara serius bagi gadis itu sehingga dia bahkan tengah karoke bersama Shopee dan Kiara. Iya, mereka semua memutuskan ikut bersikap biasa, sesekali mengajak Zalwa berbicara serius perihal keadaannya.

Zalwa juga ajaibnya mengajak Nina berbicara seperti biasa. Seluruh yang dilakukan gadis itu kemarin seperti Zalwa lupakan begitu saja. Tidak ada lagi sorot kecewa yang menyorot begitu dingin, hanya ada keceriaan khas Zalwa yang membuat suasana kamar 4 putri menjadi lebih ringan.

Namun siapapun menyadari, ini bisa menjadi pertanda mengcemaskan. Maka dari itu Felicia diam-diam memberitau Kiara, Shopee, dan Inara agar bersikap biasa namun sambil waspada. Terlebih Felicia baru mengetahui kalau Zalwa itu sering keluar bersama Jean, bahkan menginap di tempat lelaki itu.

Felicia tau Jean merupakan anak dari koki terkenal, dia juga tinggal bersama orang tuanya disebuah mansion mewah dimana kalangan atas mayoritas tinggal di sana. Namun bagi Felicia fakta bahwa Zalwa menginap di tempat tersebut tetap tidak disetujuinya.

Walau sejak Zalwa pergi dengan Jean, perlahan gadis itu tampak membaik. Atau malah bersembunyi? Felicia berharap kali ini ia akan peka.

"Gue masih agak canggung sama Nina," ucap Zalwa yang tengah bersiap. Gadis itu habis mandi dan memang hanya berniat pergi ke ruang santai untuk menonton film.

Felicia yang sedang mencatat sesuatu, menoleh ke arah gadis itu. "Wajar, itu bukan perkara kecil."

"Iya."

"Pelan-pelan aja, lo ngga harus cepat untuk memaafkan."

Zalwa mengernyit dahi, tangannya tetap merapihkan rambutnya sambil berkaca di cermin milik Kiara. Tenang saja, Zalwa sudah izin. "Tumben."

"Kali ini engga perlu buat baik-baik aja, Zal. Kalaupun lo mau ... Lo bisa untuk engga balik seperti biasa, asal ambil waktu buat diri lo sebaik mungkin. Itu saja."

"Deh, tumben banget," ucap Zalwa dengan cengirannya, "gue usahakan Cia. Gue engga akan kemana-mana."

"Yakin?" tanya Felicia merasa tak bisa menahan Zalwa lebih lama ketika alasan gadis itu hancur berada di dekatnya. Itu terlalu kejam pikirnya untuk Zalwa. "Gue beneran engga papa. Gue bakal bilang ke mereka."

"Cia." Zalwa selesai mengikat rambut, lalu menyengir pada sahabatnya. "Lo PJ ter best lah. Urusan masalah gue, percaya aja sama gue."

"Tapi Nina?"

"Nina ya?" Zalwa memangutkan kepala lalu menepuk kening gadis itu pelan. "Biarin aja, kalaupun tetap saling dingin, gue engga masalah. Toh, emang udah hancur."

Felicia mengerti, keputusan sahabatnya tentu saja tidak bisa diganggu gugat lagi dan ia merasa tak mungkin ikut campur dengan itu. Meski mereka sahabat, bukan berarti Felicia bisa memaksa pikirannya bukan? Zalwa sudah lebih dari cukup menentukan nasibnya.

Felicia hanya bisa mendukung, memberi bantuan apapun yang dibutuhkan Zalwa.

"Kalau lu sakit, tau kan gue ada di sini?" Felicia menatap manik sahabatnya serius. "Hilang Ikawa bukan berarti lo ngga ada siapa-siapa lagi. Gue dan Rian selalu di sini, lo hanya perlu cari kami, paham?"

"Paham Ciaaaa."

Felicia itu jarang tersenyum, namun untuk sahabatnya kali ini sudut bibirnya tak ragu terangkat. "Jangan sakit lagi Zalwa, gue menuntut kebahagiaan lo selamanya, bersama gue, BKN, TokPen, Momi Eugen, bahkan Rian."

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang