Kamar 55: Skandal Model Lagi

21 1 0
                                        

"Jadi ... Lu bogem Hika?"

Inara mengangguk seraya mengunyen kebab yang dibelikan oleh Kiara. Hatinya masih terasa kesal akan perkataan Hika yang menjelekan Fawaz. Mengabaikan sorot Kiara yang memandangnya syok.

"Ininya ditonjok terus berdarah?" Kiara menunjuk sudut bibirnya.

"Kayaknya robek juga."

"ITULOH NEM!" Kiara memang panik mendengar cerita kawannya ini tapi tak memungkiri ia juga bangga. "Pertahanin anjir! Lo juga bisa mukul sekarang."

Inara mengerjap cepat. "Gimana?"

"Lo bogem dia, kan?!" Kiara menggebu-gebu menjelaskan. "Itu udah keren parah kocak. Tinggal lo pertahankan buat ke depannya, kalau macem-macem tinggal BOOM!"

Tubuhnya berjengkit, Inara baru tersadar dengan maksud Kiara serta apa yang dilakukannya dengan Hika. Refleks Inara menutup mulutnya syok membuat Kiara heran mendapati reaksi gadis ini.

"Kenapa Nem?"

"E-engga papa sih, cuman engga nyangka aja," ujar Inara diserang syok. Ia tidak merasa takut ataupun merasa bersalah, hanya saja masih kurang menyangka ia benar melakukannya.

Kiara menghentikan langkah tepat di perempatan lorong, berdiri di hadapan Inara dan menepuk bahu gadis itu menyemangati. Cukup paham saat ini Inara masih perlu pembiasaan atas perlawanannya yang semakin meningkat.

"Pelan-pelan ae, next kita tendang palanya."

"Kiara!" Namun Inara anehnya tertawa senang. Perasaan amarahnya mulai meredup seiring langkah mereka yang sedang asik jalan-jalan di gedung rektor.

Interiornya sungguh diluar ekspektasinya, sampai mereka berpikir kalau sekarang bukan berada di gedung kampus. Melainkan di hotel ternama. Bagaimana lampu-lampu mahal tergantung di atas sana, sudut dinding yang memiliki corak khas perhotelan, dan jangan lupakan pintu ruangan yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi.

Tujuan mereka ke sini memang murni hanya jalan-jalan terlebih Inara sedang dilanda emosi tadi. Jadi Kiara memilih mengajaknya ke sini dengan berjalan kaki. Sekadar informasi omong-omong jarak yang mereka ambil bisa dikatakan lumayan jauh dari asrama, terlalu larut dalam obrolan membuat ke duanya tidak sadar. Tapi ini bukan masalah, mendengar Inara yang telah berani memukul Hika balik, itu sudah cukup bagi Kiara.

Gadis yang sering dilatih olehnya dan Zalwa mulai ada perkembangan. Lebih dari cukup untuk pelatih seperti dirinya merasa bangga.

"Btw." Sudut bibir Kiara membentuk kurva mengejek, mencolek-colek lengan gadis itu. "Cie, official?"

Semburat merah muda tercerak, Inara sontak memalingkan wajah. "A-Apaan sih."

"Lope, lope loh ini dari akun sang ketua."

"Ihh udahlah!" Inara memekik malu saat Kiara menunjukan kembali postingan milik Fawaz. Lagipula foto kapan itu, kenapa Fawaz bisa memiliki fotonya yang model seperti itu.

Kan Inara jadi malu sekali, jantungnya seperti ingin meledak rasanya. Kalaupun memang mau memposting, masih ada foto dirinya yang lebih cantik—ini kenapa jadi kesannya Inara berharap?!

"Hot news tau di asrama."

Menjadi alasan kenapa Inara enggan membicarakan hal ini karena sudah cukup menjadi bulanan bibir warga asrama Sektor 3, ia tidak ingin menjadi bulanan lagi di luar asrama. Fawaz memang gila dengan membeberkan hubungan mereka.

"Bahagia ya Nem, A'a cowok baik sih."

Inara tentunya tau itu. Sudut bibirnya tak tertahankan hanya dengan mengingat wajah tampan lelaki itu.

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang