"Bagus lu berantem gitu?" cecar Vrano seraya membantu Fawaz memegangi kotak P3K yang lelaki itu pinjam dari kamar 3.
Vrano setia sekali berdiri di sebelah kanan Fawaz, memarahi kawannya ini yang habis bertengkar. Sungguh tak percaya bahwa seorang Ikawa Andreamis memulai pertengkaran itu dengan sahabatnya sendiri. Setelah melihat CCTV baik Vrano maupun Fawaz dibuat tercengang, bahwa seorang Ikawa yang cinta damai malah lebih dulu memukul Rian sampai separah ini.
Fawaz nyaris menyerah mengobati, menyadari pukulan yang diterima Rian sangat parah. Sarannya untuk pergi ke rumah sakit ditolak mentah-mentah oleh Rian. Tanpa banyak bicara, setelah Fawaz berhasil membersihkan luka dan mengobati memarnya, Rian menghampiri kasurnya dan menjatuhkan diri di sana. Tak berniat memberi klarifikasi apapun. Vrano nyaris saja mengamuk karena berkat kelakuan Rian dan Ikawa, kamar mereka mendapat hukuman membersihkan kamar mandi di hari minggu.
Hari tabu bagi Vrano karena ia ingin mengisi liburnya dengan rebahan. Namun pupus sudah harapannya.
Sementara Fawaz yang masih fokus penelitian bahkan terpaksa harus kembali ke asrama setelah mendapat laporan mba Tia. Sampai di kamar Fawaz tak banyak bicara, wajahnya terlihat datar saja sambil meminta Rian berdiam di kamar, karena lelaki itu ingin mengobati lukanya. Kini terlihat si tertua hanya memandang Rian tanpa ekspresi, mendudukan dirinya di tepi kasur lelaki itu.
"Soal Zalwa?" tebak Fawaz.
Rian mendengus, tetap memposisikan tubuh membelakangi Fawaz. "Iya."
Terdengar helaan napas kasar dari Fawaz. "Ikawa ke mana?"
"Engga tau."
"Ngga usah kayak bocah!" maki Vrano sebal lalu menghampiri Rian. Menarik lelaki itu agar menatap mereka, "gue tau lu lagi kesel, tapi minimal selesain apa yang udah kalian berdua lakuin!"
Rian mengernyit dahi tak suka, memaksa tubuhnya untuk duduk kemudian memandang ke duanya, menahan amarah. "Dia terlalu bajingan buat Zalwa. Kalian tau masalahnya, kan?"
Iya, Fawaz tentu tau karena sudah mendengarnya dari Inara, sedangkan Vrano mendengarnya dari sang adik yang kebetulan sempat membantu Zalwa kemarin. Dan setau Vrano juga Taru kini selalu menemani Zalwa kemanapun gadis itu pergi. Miris sekali memang kisahnya, padahal menurut Vrano ke duanya sangat cocok, apalagi baginya Zalwa seperti warna cerah dalam hidup Ikawa yang abu. Harusnya mereka saling melengkapi.
Namun nyatanya Ikawa dan Zalwa saling menjauh sekarang.
"Padahal jelas itu tipuan," kata Rian frustasi, "gue anak jurnalistik dan sempet pegang editan gitu. Kentara banget padahal, tapi kok bisa bego gitu?!"
Vrano mengangguk setuju. "Kata Nika sama Davu juga gitu kok. Kemarin Yossa sama Yossi ke rumah gue buat cari tau masalah Zalwa."
Sontak dahi Rian mengernyit heran. "Kok bisa? Emang hubungannya apa sama mereka?"
"Kalau si Nika jelas karena Zalwa itu senior yang deket sama dia. Gitu-gitu mereka saling tuker cerita, Yan." Vrano terkekeh pelan mengingat sekeras apa kemarin Taru berusaha mengurai rekaman itu demi membuktikan bahwa itu editan. "Kalau Davu tim hore dia mah, tapi studionya cukup berguna sih."
"Yossi sama Yossa karena yang bermasalah tunangan mereka." Fawaz kini bersuara lagi. "Sekarang tergantung Ikawa mau gimana. Sebenarnya didenger juga keliatan kok diedit beberapa bagian, jeda persuaranya terlalu janggal dan beberapa terasa dicut ditengah kalimat."
Sebenarnya Fawaz juga tak paham dengan pola pikir Ikawa yang bisa-bisanya sampai semarah ini ketika tau bahwa Zalwa menyukainya. Terlebih lelaki itu langsung percaya akan sepenggal rekaman yang diberikan oleh Nini dan Mimin. Dua gadis yang jelas biang onar dari segela masalah terutama Mimin, harusnya Ikawa lebih mempercayai Zalwa. Namun ia tak ingin ambil kesimpulan terlebih dahulu sebelum mendengarnya dari dua sisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sektor 3
Fiksi RemajaMereka hanya sekumpulan mahasiswa biasa yang tinggal di asrama suatu universitas, sektor 3. Wilayah asrama mereka berada di sektor 3. Asrama yang terdiri dari 3 gedung yang didesain berbentuk U. Serba tiga jadi yah, ish, ish. Tenang, isinya makhluk...
