Fawaz Shabir Arrahmah dikenal sebagai aktivis kampus yang sangat rajin berdiam di bangunan berhektar itu. Selain karena ketua BEM, Fawaz juga aktif menjadi asisten dosen yang membuatnya berkali lipat berdiam di kampus. Belum lagi jabatannya sebagai ketua asrama, semakin memadatkan jadwalnya.
Karena hal itu ditengah tumpukan tugas yang menggunung di meja belajar dengan berbagai pesan masuk di ponsel yang menandai seluruh kerjaan, Fawaz sering menghela napas panjang sebelum memulai semuanya. Guratan lelah ketika ia mulai membuka laptop, kantung mata yang sangat menghitam pun tak jadi penghalang Fawaz agar menyelesaikan tugasnya. Tak ayal kesibukan membuatnya mempertaruhkan imunitas tubuh. Mengantisipasi agar tak sakit Fawaz kerap menjaga pola tidur, makan, bahkan jam istirahatnya agar tidak tertinggal.
Walau tak menutup fakta terkadang ia suka lupa tidur.
Selebihnya masih sangat terkontrol bahkan hingga semester lima ini. Omong-omong tahun ini merupakan tahun yang membahagiakan bagi dirinya, karena Fawaz dapat melepas salah satu bebannya dan bisa fokus pada hal lain.
Tidak lain tak bukan adalah ketua asrama umum. Walaupun keberadaan ketua asrama putra dan putri cukup meringankan bebannya, tetapi tak menutup tanggung jawab itu sangat melelahkan baginya. Namun berkat beberapa hal Fawaz terpaksa mengembannnya dan sebentar lagi akan terbebas darisana.
Terlepas dari pribadi Fawaz yang cuek, cukup disiplin, tegas, dan tidak terlalu bisa dekat dengan cewek—kecuali urusan penting seperti organisasi maupun kerjaan—lelaki itu merupakan sosok pemimpin yang sangat disegani anak asrama maupun warga kampus, sebab tanggung jawab yang dilakukannya melebihi ekspektasi mereka. Fawaz sangat perhatian pada sekitar dan membantu sebisa mungkin. Terutama urusan yang menyangkut sebuah aspirasi.
Fawaz selalu menjadi pendengar bagi para mahasiswa maupun warga kampus lainnya ketika dibutuhkan untuk memberi sebuah pandangan, membereskan masalah, bahkan mewakili suara mereka yang merasa sulit menyuarakan sesuatu. Dedukasi lelaki itu sangat besar sampai membuat mereka sangat menghormati lelaki itu.
Fawaz itu lelaki yang punya prinsip kuat, karena ditengah perhatian yang dia berikan, lelaki itu tak jatuh dalam jebakan orang-orang yang hendak memanfaatkan kebaikannya itu. Fawaz berhasil membuat batasan pada mereka yang membutuhkan agar tau malu.
Jadi tak ayal bila saat ini Fawaz yang mendapat laporan salah satu mahasiswa baru di asrama dibully, melindungi orang tersebut dengan serius, sampai setiap pergerakannya lelaki itu perhatikan. Terlebih korban memiliki mental yang berantakan akibat pelaku bullying tersebut. Sambil menunggu waktu tepat membalas mereka, Fawaz terus memperhatikan seorang Inara yang menurutnya sangat polos dan menyebalkan.
Siapa sangka, gadis manis yang sering kesasar itu rupanya sangat cerewet menyangkut kesukaannya dan makanan. Iya, Inara sangat suka makan dalam situasi apapun.
Alasan mengapa lelaki itu jadi tau banyak tentang Inara karena selain memperhatikan, Fawaz kerap bertemu Inara dalam ketidakbetulan tak terduga. Tanpa sadar situasi lain terus hadir membawa mereka dalam sebuah pertemua tak sengaja, berakhir ke duanya berbincang sebelum saling menghabiskan waktu bareng.
Dan selama mereka menghabiskan waktu bersama yang dimana kegiatan lebih banyak dilakukan untuk belajar—karena mereka lebih sering berpas-pasan di perpustakaan maupun ruang belajar—Fawaz dapat menemukan sisi Inara yang lebih ceria dan lugu menurutnya.
Ketika mereka berbicara ditengah fokus mereka tetap terpaku pada laptop masing-masing. Fawaz yang semula hanya berpusat pada sederet soal dalam file, mulai terdistraksi dengan celotehan Inara ditiap waktu tertentu. Anehnya Fawaz merasa itu bukan hal yang buruk, malahan telinganya memasang indra paling tajam untuk mendengar setiap cerita yang ada saja keluar dari bibir gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sektor 3
JugendliteraturMereka hanya sekumpulan mahasiswa biasa yang tinggal di asrama suatu universitas, sektor 3. Wilayah asrama mereka berada di sektor 3. Asrama yang terdiri dari 3 gedung yang didesain berbentuk U. Serba tiga jadi yah, ish, ish. Tenang, isinya makhluk...
