Kamar 22: Teodora-Atharya Siblings (bag 1)

43 3 0
                                        

Keturunan Teodora-Atharya.

Mengapa harus menggunakan dua nama belakang orang tua mereka? Karena boleh dikatakan keturunan Zalka memiliki sisi khusus yang diciptakan olehnya sendiri. Latar belakangnya dari status diri maupun sang istri, sama-sama memiliki gelar yang tidak main, sehingga ketika keturunan mereka mulai tumbuh. Nama Teodora-Atharya digunakan sebagai pengenal anak mereka.

Atharya untuk cowok, sedangkan Teodora dikhususkan cewek. Alasan pasti yang Zalxa ingat mengapa mereka harus berbeda marga ialah keinginan Zalka yang mau ke duanya sama kuat, tak hanya dipandang sebelah.

Mengingat backgroundnya dan sang istri berasal dari kalangan hebat, pria itu berkeinginan menunjukan pada dunia bahwa keluarga kecil mereka terdapat dua kekuatan besar yang siap melahirkan keturunan terbaik dari yang ada.

Mengapa didikan Zalka begitu tak manusiawinya, obses dengan kesempurnaan, sedikitpun seperti lecet tidak akan diterima, karena bagi sang ayah penerus keturunannya haruslah berkualitas terbaik. Sebagaimana Zalxa yang ditempat kuat namun tanpa adanya emosional seperti sekadar mengucap lelah pun lelaki itu tak pernah Melibatkannya.

Emosi bak disegel sang ayah, memaksa Zalxa menjadi terbaik tanpa kecacatan sedikitpun. Membuat Zalxa tumbuh dan belajar dari lingkungan yang enggan mengajarkan kepedulian terhadap makhluk hidup. Tak ayal kini ia sangat datar memandang sekitar, bicarapun seperti tak ada emosi selain terdengar tegas dan angkuh.

Iya, satu-satunya yang bisa Zalxa tunjukan adalah intonasi bicaranya yang terkesan angkuh. Hasil dari didikan Zalka yang keras, tidak mengizinkan menundukan kepala dalam sikon apapun, kuat dalam mempertahankan prinsip, dan haram bila gagal dalam mencapai tujuan. Kehidupan keras seperti itulah yang ditanamkan Zalka padanya. Tak ada kalimat penyemangat saat kesulitan, bukan kalimat penenang yang didapat ketika masa sulit, dan bukan pula kalimat menyakinkan untuk Zalxa yang sedang berusaha menyempurnakan.

Alih-alih lelaki itu tumbuh dengan beragam kalimat penegas dan mutlak agar menjadi yang terbaik, memberi terbesar, bahkan menjadi kuat disegala situasi. Zalka memberikan Zalxa kehidupan tanpa emosi bernama empati, tidak mengajarinya serta-merta jadi orang yang peduli.

Melainkan tumbuh sebagai mental baja dimana seluruh orang harus diwaspadai, tidak sembarang mengulurkan tangan.

Maka mari Zalxa ceritakan sebuah pengalaman yang melenceng dari penanaman sang ayah. Zalxa bukannya tak bisa berempati ataupun marah, hanya saja kurang mampu menunjukan dan mungkin lebih enam disebut seperti itu. Karena jauh dari muka datar serta intonasi tegasnya, Zalxa masih mengenali emosi seperti marah, sedih, bahkan jatuh cinta.

Iya, kali ini pun Zalxa rasa ceritanya akan ada sangkut paut dengan emosi sialan satu itu. Mana lain bersangkutan dengan seorang gadis yang disadarinya penuh mengisi hati. Katakanlah ini sekian momen yang membuat seorang Zalxa yang pasif dalam berekspresi, seketika jadi orang perasa.

Zalxa ingat sekali usianya baru menginjak umur 15 tahun. Rutinitas sebagai tingkat akhir yang Zalxa lakukan adalah mengikuti pengayaan hingga pukul 15.00 dan saat itu seperti biasa, Zalxa mengayuh sepedanya menuju rumah—ketimbang meminta sang supir mengantar, lelaki itu lebih tertarik menggunakan sepedanya—jarak yang ditempuh tak terlalu jauh karena gini-gini Zalxa tau jalan pintas ke perumahan elitnya.

Panas cukup menyerang meski pukul mulai menyerobot ke arah petang, tetapi kaki lelaki itu terus memacu sepedanya melewati sebuah gang sempit. Omong-omong Zalxa mengetahui tempat ini dari salah satu kacungnya.

"Pengap astaga, orang ada yang betah tinggal di sini?" dumel Zalxa merasa tak percaya mendapati ada orang yang tinggal di gang sempit penuh lumut di beberapa area, alhasil membuatnya terasa lembap sekali dengan aroma khas tanah basah, "engga takut sakit? Ini lebih mirip saluran air."

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang