Kamar 60: Memulai Retakan

18 1 0
                                        

"Oi Ca, kenapa bengong?" tegur Rian yang mendapati anak baru kamarnya itu terdiam sambil memeluk keranjang berisikan peralatan makan. Hanya peralatan ringan seperti sendok, garpu, dan sejenisnya sehingga tak terlalu berat.

Sengaja memang dipisah biar mudah mencucinya kalau kata Felicia. Apalagi beberapa peralatan pribadi mereka ada yang tercampur, jadi sengaja dipisah agar tidak ada yang terselip ataupun terbuang. PJ kamar 4 itu sibuk memberi arahan untuk membersihkan halaman bekas acara penyambutan.

Untungnya Felicia bisa mengambil alih komando secara penuh, setelah Fawaz harus pamit lebih dulu berkat urusan penelitiannya besok. Lelaki itu memutuskan menginap di kafe Onel memang, karena kebetulan besok sahabatnya akan menemani Fawaz ke tempat penelitian selanjutnya, jaraknya agak jauh dan untungnya ada mobil Onel yang menganggur di kafe.

Sekalian Onel ingin santunan ke yayasan yang ada di dekat sana—kebetulan tempat penelitian Fawaz itu salah satu pengelolanya merupakan sahabat ayah Onel—mungkin Taru, Frengky, ataupun Vanda akan ikut menemani owner Oncel itu.

Lalu kenapa Inara engga ikut menemani? Padahal perkuliahan belum mulai? Seharusnya gadis itu bisa menemani Fawaz.

Jawabannya adalah karena gadis itu sibuk HIMA. Nasib anak organisasi emang.

Beruntung Felicia disini dan bisa mengatur mereka, sangat membantu Tika dan Ahmad selaku ketua asrama. Karena jujur mereka lebih duluan sakit kepala hanya dengan melihat kelakuan para manusia kelebihan energi ini.

Oke, balik lagi ke Yossa yang ditegur Rian barusan. Lelaki yang biasa berwajah datar itu kini sedikit menunjukkan raut resah, tipis memang terlihatnya apalagi penerangan di halaman asrama tidak terlalu bagus saat menuju tengah malam, jadi wajah resah Yossa tak akan terlalu kelihatan.

Namun Rian cukup peka dengan gerak-gerik juniornya ini. Pun perkara yang mungkin saja tengah dipikirkan Yossa sampai sekarang.

"Nini ya?"

Yossa menghela napas lebih berat dan Rian cukup paham bahwa tebakannya memang benar. Di lihat dari reaksi lelaki itu, tampak jelas sedang memikirkan segala perkara yang berkaitan dengan Nini, tunangan Yossa.

Bukan rahasia lagi kalau kembar Al yaitu Yossa dan Yossi bertunangan dengan Isnina bersaudara.

Gimana engga pada tau?

Ketika baru sampai sini, Yossi terus nempel bahkan engga segan melototin cowok yang dekat sama Nina. Siapa sangka Yossa si cowok cool kalau kata Caka, juga selalu memberi perhatian ke Isnina satunya walau Nini engga pernah menerima itu dengan baik.

Ingat kejadian saat Yossa bahkan tak segan dimaki oleh Nini kemarin? Hingga Taru turun tangan membela sulung Al ini?

Itu belum terlalu keterlaluan menurut Rian. Karena pernah saat itu kejadian, tepat di depan anak kamar 1 putra lainnya, Nini melakukan lebih parah dari itu.

"Ca." Rian mengajak Yossa memasuki gedung, menuju tempat pencucian asrama putra yang berada di area Timur. "Kalau engga dihargain, mundur aja."

Yossa masih fokus menyabuni peralatan makan tersebut, tanpa berniat memotong ucapan Rian. Seniornya bertugas membilas alat makan yang telah ia sabuni. Tumben banget Rian engga bertingkah.

"Gue juga pejuang cinta sebelah tangan," ujar Rian dengan senyuman tipis, "tapi gue tetap merasa dihargain. Itu alasan gue kenapa terus maju."

Syukurlah, itu yang Yossa pikirkan saat mendengar kalimat Rian barusan. Tak ada rasa iri apalagi sedih dalam dirinya, hanya kosong yang membuat Yossa kembali bertanya pada dirinya sendiri, sudah sejauh mana perasaannya terluka karena Nini?

Hingga ketika Nini melontarkan banyaknya kalimat menyakitkan itu, Yossa masih berdiri di hadapan gadis itu dengan senyuman lembut. Walau sorotnya terasa panas dan dadanya seperti terhimpit sesuatu, membuatnya terasa sesak. Namun entah kenapa Yossa tetap merasa kosong. Rasa menyedihkan dan kecewa yang muncul setelah mendapat segala perkataan menyakitkan itu, akan bak angin lalu sebelum Yossa kembali menyakinkan diri untuk menghampiri Nini lagi.

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang