Kamar 65: Maaf dan Aku Mencintaimu

7 1 0
                                        

Sore itu masih sama lelahnya ketika Zalwa baru menyelesaikan sesi kelas terakhirnya. Hanya saja belakangan sejak pertengkarannya dengan Ikawa, ada ruang yang tidak ia pahami—atau memang tidak ingin dipahami?—begitu terasa hampa disana dan tanpa bentuk jelas. Sehingga selama nyaris dua minggu ini, Zalwa biarkan ruang itu berubah hampa, seakan keberadaannya tak ada.

Namun tempatnya jelas berada di hati.

Kabar baiknya Zalwa yang baru selesai konsultasi ke dosen PA terkait tawaran menjadi asisten dosen untuk menggantikan Fawaz, tidak terlalu memikirkan rasa hampa itu. Ia memilih mengubah fokusnya, penuh pada kehidupan perkuliahan bahkan kembali melatih ekskul Basket di Tritan Sudan. Meski akan ada waktu dimana gadis itu merasa rindu akan sosok Ikawa yang sudah tidak muncul dihadapannya, Zalwa tetap mencoba menyibukan diri agar tak berlarut dalam patah hati.

Kini tapak kakinya menjejak di koridor gedung, membawa tumpukan kertas berisi materi mata kuliah yang akan diampunya besok. Untung saja dosen yang membutuhkan asisten dosen mudah diajak bicara, sehingga Zalwa tidak perlu pusing mencari materi sendiri. Tujuannya menuju ruang belajar asrama untuk membuat PPT materi untuk besok.

"Ini mah matkul yang kata Nawa nyableng banget," ujar Zalwa yang memperhatikan lembar pertama materi sambil menunggu jemputan.

Kali ini Inara yang menawarkan diri untuk menjemput. Gadis ini sedang galau karena Fawaz yang sangat sibuk bahkan sampai tak bisa menghubungi Inara. Alhasil gadis itu memilih menjemput Zalwa katanya, daripada larut dalam galaunya.

Dasar, padahal baru engga ketemu tiga hari, bagaimana dengan Zalwa coba?

"Oi, Kak!"

Taru baru saja keluar gedung bersama Caka, tetapi tumben sekali lelaki itu hanya tersenyum padanya, tidak ada lontaran candaan seperti biasa. Bahkan Caka berpamitan lebih cepat dengan muka sepet, meninggalkan Taru dan Zalwa yang kebingungan dengan tingkahnya. Namun seperti paham tatapan bingungnya, Taru segera menjelaskan.

"Di marah dosen, tadi dia blunder dikit."

"Buset perkara apaan?"

Taru mengedik bahu. "Gue engga masuk kelas."

"Baru awal udah bolos aja lu."

"Yee, gue ketiduran anjir." Taru memprotes walau terlihat cemas. "Btw, lu udah tau kalau kembaran Vanda kabur juga?"

Apa?

Zalwa langsung mengfokuskan tatap pada juniornya. Pikirannya tertuju pada Ikawa sekarang mengetahui bahwa Vinda ikut kabur setelah sekian lama mengabdi pada Andreamis. 

"Sejak kapan?"

"Sejak seminggu lalu," ucap Taru mencoba mengingat, terlihat menimang beberapa hal, "kayaknya Andreamis chaos deh, Kak."

Napas gadis itu semakin tercekat, pasang irisnya tak bisa berbohong bahwa ia mulai mencemaskan seseorang. "Vanda cerita engga ada apa gitu sama Andreamis?"

"Engga ada, makanya gue mau nanya lu tadinya," jelas Taru terlihat kecewa, menyadari seniornya sepertinya baru tau, "gue takut Vanda kenapa-napa."

"Nem!" Zalwa yang melihat Inara memasuki pekarangan prodinya langsung melambai cepat. Seluruh pertahanannya untuk tidak mengetahui lelaki itu perlahan runtuh seketika. "Ru, balik duluan ya."

"Oke, tihati Kak."

Sebelum benar-benar berlalu, Zalwa menatap juniornya itu lekat. "Kalau ada apa-apa tolong hubungi gue."

Paham arti tatapan itu, Taru hanya mengangguk. Sementara Zalwa segera menghampiri Inara yang tampak lesu, seperti separuh napasnya hilang dari hidup. Zalwa sontak menatapnya sengit.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang