Kamar 10: Keyakinan Pada Ketakutan

45 5 0
                                        

Menjelang malam, tepatnya setelah shalat Isya. Kamar 4 terpantau masih kalem karena biang rusuh mereka sampai hari ini belum kembali. Berhubung orderan makan malam masih di jalan, Shopee punya ide main uno steko guna mengisi waktu luang. Gadis itu effort sampai tiarap pas mencoba mengeluarkan balok berwarna merah dengan lambang 1 itu.

Hidungnya kembang kempis, menahan napas, takut gara-gara itu bangunan uno yang sudah ada tanda akan jatuh tiba-tiba ambruk.

"Ck lama."

"Bacot!" sengit Shopee lalu kembali mengetuk pelan balok tersebut. Sedangkan Kiara kembali menghela napas jengah.

Gadis berparas cantik itu melihat jam di meja lalu kembali menghela napas. Dan Shopee kembali mengomel, padahal Kiara hanya menghela napas.

"Diem anjir."

"Gue ambrukin nih."

Mendengar cekcok terus berlangsung, Felicia menengahi. "Fokus."

Shopee menggigiti bibir bawahnya, baru digeser sedikit saja, struktur atasnya ikut bergoyang membuat Shopee memejam mata frustasi, dibarengi tawa mengejek Kiara yang menyebalkan. Inara sendiri yang menonton ikut was-was.

"Kalah aja Pe," saran Inara sangat tidak membantu. Omong-omong lengannya sedang ditetesi obat merah sama Nina—bekas bullying dari Hika dkk kemarin, rupanya sampai membuat lengan Inara terluka. Tapi si empu hanya menyengir saja dan mengatakan ini tak sakit—jadinya hanya gadis berparas ayu itu yang tak ikut main.

"Lo engga membantu ehlah." Kepala Shopee sesekali miring ke samping, kemudian mengetuk dari bawah, mengakibatkan guncangan yang hampir membuat struktur stekonya jatuh. Shopee langsung memaki dalam hati. "Tertekan gue."

"Nyerah aja Pe."

Shopee memberenggut pada saran Inara lagi.

"Situ yang saranin, situ juga yang naik darah."

Kali ini Shopee menyorot Kiara emosi, ingin sekali menerkam gadis ini.

"Zalwa belum ada kabar?"

Ambruk sudah uno steko tersebut kala Shopee tak sengaja menariknya keras, menciptakan suara cukup berisik yang mengejutkan. Namun anehnya tidak ada yang terlihat terkejut karena unonya, melainkan pertanyaan Nina tadi yang membuat mereka termenung. Terutama Felicia yang langsung berubah rautnya.

"Maaf, masih belum." Pada akhirnya hanya ini yang dapat Felicia katakan. Sejatinya ia sendiri belum tau pasti kabar sahabatnya, memang dari situasinya belum memungkinkan mereka mengetahui kondisi gadis itu. "Sabar ya, sebentar lagi aja ...."

Kiara tampak paling jengah. "Gue tau asrama diawasin, tapi tetep aja gue mau secepatnya tau."

"Au nih," balas Shopee, "kangen gue sama bobrok dia."

"Aku juga." Kepala Inara menunduk. Teringat Zalwa yang sering menemaninya dan mengajari cara membela diri. Sekalipun Zalwa sibuk di kuliahnya, selalu sempat memastikan Inara aman selama perjalanan pulang maupun di tempat kuliah. Ia merasa dijaga oleh Zalwa.

"Cia tau? Ayah mau hampir motong jariku tau."

Usia ke duanya bahkan baru menginjak tujuh tahun, artinya baru kemarin masuk SD namun Felicia seperti mendengar hal yang tabu sekali didapat oleh anak seusia mereka. Kerayon di tangannya ia letakan, memusat atensi pada Zalwa yang terlihat santai saja menggambar setelah mengatakan hal mengerikan tersebut.

"Zalwa nakal?"

Terlihat jelas raut tak terima dari sahabatnya. "Aku nurut sama Ayah, tapi aku lawan Ayah karena engga boleh main ...."

Sektor 3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang