"Aku menyadari satu hal terpenting setelah semuanya menjadi berantakan. Kamu adalah salah satu sakit hati yang masih kuinginkan keberadaannya bahkan setelah apa yang menyakiti. Hati ini sialnya masih menginginkanmu meski dengan lubang patah hati sebesar itu, dan berasal darimu."
- Zalwa Teodora Eugenia
.
.
.
"That's, just done, we just destroy each other."
- Ikawa Andreamis
Sektor 3
Sebelum Zalwa mendekat ....
"Zal, kok Ikawa ada di sana ya?" tunjuk Shopee ke arah kamar tiga.
Seketika rombongan kamar 4 yang hendak pindah ke Ruas untuk sarapan sekalian memanggil Nina, terhenti seketika begitu melihat Ikawa berada di depan kamar 3 dengan Mimin dan Nini. Bukan hal bagus jika lelaki itu berada di sana apalagi ada Mimin. Zalwa masih ingat sebesar apa lelaki itu membenci Mimin Firdaus sehingga kini ia merasa khawatir.
Bagaimana kalau Ikawa khilaf menampar Mimin? Bisa-bisa lelakinya itu akan menjadi target Mimin selanjutnya. Zalwa menggigiti kuku jarinya tidak tenang, tak ingin pujaannya terseret dalam tindakan bajingan seorang Mimin Firdaus.
"Ntahlah," balas Zalwa yang ragu melangkah ke sana.
"Susul sana, amanin suami masa depan lu."
Kiara menyadarinya dan tanpa ragu mendorong gadis itu ke arah sana. Satu cup coffe diberikannya ke Zalwa, mengode gadis itu agar memberikannya ke Ikawa.
"Selamatin panggeran lo deh sana."
"Anjir, geli gue," ujar Zalwa dengan cengirannya, "tapi apa bisa gue bawa dia kabur? Takut khilaf juga anjir."
"Alah, urusan khilaf belakangan. Ada Felicia."
Felicia sontak melirik Kiara tajam. "Ngga ada ribut-ribut."
"Trus Zalwa gimana?" tanya Inara.
Felicia meliriknya sinis lalu mengedik bahu. Tidak peduli. "Biarin aja, ngga penting."
Oke, Felicia masih ngambek rupanya sampai membuang muka ketika tak sengaja bertatapan dengan Zalwa. Tentu saja gadis Teodora hanya bisa menghela napas sabar.
"Gue bawain kopi aja deh." Zalwa mengambil keputusan final.
Jelas saja Kiara, Inara, dan Shopee bahagia mendengarnya. Sehingga mereka kembali mengusir Zalwa dengan gerakan lambat dan didramatisir, seolah sedang melepas kepergian anaknya ke rantauan.
Sialnya, Zalwa mengikuti dan memberikan gerakan slowmo, memberi ciuman jarak jauh yang langsung dihadiakan tatapan datar Felicia. Gadis Teodora itu hanya tertawa ngakak, sebelum menarik napas panjang untuk menetralkan kegugupan, ia menggenggam cup kopi itu erat seakan tengah mempertaruhkan hidupnya. Berjalan menuju Ikawa, sudut bibirnya mengembang perlahan percaya diri berkat dukungan kawannya tentang perasaan ini.
Meski langkahnya kemudian melambat karena baru menyadari ada Nina disana. Alis Zalwa mengernyit heran, bertanya-tanya mengapa Ikawa dan Nina serempak berada di depan kamar 3. Sebelum ia teringat kalau Nina ingin menemui kembarannya terlebih dahulu, maka cukup masuk akal jika dia berada di sana.
Namun Ikawa?
Entahlah, Zalwa memutuskan mendekat dengan langkah mantap. Mulai membayangkan skenario hari ini untuk lebih percaya diri mengejar lelaki itu. Karena sejak kamar 4 memberinya semangat dan menyakinkan bahwa dirinya juga berhak bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sektor 3
Teen FictionMereka hanya sekumpulan mahasiswa biasa yang tinggal di asrama suatu universitas, sektor 3. Wilayah asrama mereka berada di sektor 3. Asrama yang terdiri dari 3 gedung yang didesain berbentuk U. Serba tiga jadi yah, ish, ish. Tenang, isinya makhluk...
