Bag 2. Digigit ular?

60.4K 3.3K 49
                                        


Di dalam kelas, para murid tengah fokus pada kertas ujiannya masing-masing. Begitu pun dengan Jeanna yang kini tengah menyelesaikan soal terakhirnya.

"Ini soal apaan ya?" gumamnya, ia pun melirik ke samping, berniat menanyakan hal tersebut pada Sera, namun sebuah suara lebih dulu mengintrupsinya.

"Jeanna, apa ada kendala dalam mengerjakan soalnya?" tanya sang guru. Sial! Ternyata ia tertangkap basah.

"E-enggak Mr. Ini saya cuma heran aja sama soal terakhir."

"Oh, soal essay itu kamu cukup membuat karangan saja Jeanna, yang penting itu diisi, paham?"

"Iya Mr...," ia pun kembali mengerjakan soalnya.

______________

Saat ini Jeanna tengah duduk di bawah pohon mangga, tepatnya di belakang sekolahnya. Angin sejuk yang menerpanya membuatnya menguap beberapa kali, ditambah langit yang berawan sehingga cuaca hari ini tak begitu panas.

Jeanna pun mencoba untuk memejamkan matanya sejenak, sesaat ia menikmati suasana ini. Namun itu tak bertahan lama saat tiba-tiba ia mendengar sesuatu seakan terjatuh dari atas pohon. Jeanna pun segera melihat ke arah sumber suara.

"Suara apaan ya? Jangan-jangan ular lagi!" saat Jeanna semakin mendekat ke arah pohon, tiba-tiba bahunya di tepuk oleh seseorang.

"IIH BEGOO!" ucapnya masih dengan keterkejutan.

"Napa lo? Udah kayak buronan ketangkep aja," ujar Riko yang kini tengah bersama Kevin dan juga, Sera? Wait, kenapa Sera datang dengan mereka. Perasaan Jeanna menjadi tidak enak

"Gak ada apa-apa," balas Jeanna singkat sambil mengedikkan bahu.

"Oke, ada yang bisa jelasin kenapa jawaban Essay kalian bertiga sama?" tanya Sera langsung.

Jeanna yang melihat itu langsung berdecak kesal. "Kan gue udah bilang! Cukup pilihan gandanya aja bambang, essaynya kalian mikir sendiri!"

Soal ulangan tadi, jangan tanya bagaimana cara Jeanna untuk melancarkan aksinya itu. Ia begitu mahir dalam hal ini, karena itu lah Riko dan Kevin selalu meminta tolong kepadanya saat ada ujian mendadak.

Yah, yang pasti itu adalah hal yang tak patut kalian tiru oke!

"Fiks kita bener-bener gak tau mau jawab apa Je, jadi gak ada pilihan lain selain copas punya lo," balas Riko pasrah, sedangkan Jeanna hanya mendelik kesal ke arah mereka berdua.

"Ini alasan kenapa gue ngelarang lo buat ngasih mereka contekan," sambung Sera yang kini telah duduk di kursi. "Nyontek aja masih keliatan begonya." Lirihnya.

"Karena gue berbaik hati, jadi lo berdua buruan ganti jawabannya, se-ka-rang!. Dan lo Je-" potongya, "untung Mr. Farhan nyuruh gue untuk koreksi soal-soal."

"Terimakasih bunda ratu, jasamu kan kukenang selalu hehe...," Ujar Jeanna dengan nada yang di buat-buat.

______________

Karena waktu istirahat yang tersisa, Jeanna dan temannya memutuskan untuk pergi ke kantin membeli beberapa camilan. Saat mereka berdua tengah berjalan, tiba-tiba Jeanna melihat kerumunan siswa siswi di ujung lorong dekat dengan gudang olahraga.

Karena rasa penasarannya, Jeanna pun mendekat ke arah kerumunan itu.

"E-eh Je, lo mau kemana?" ucap Sera ketika temannya itu malah berjalan ke arah gudang olahraga.

"Lo gak liat tuh rame? Penasaran gue kenapa rame gitu," Jeanna pun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kerumunan. Ketika dirinya sampai, ia melirik ke arah kerumunan tersebut.

"Ada apaan sih pada ngumpul gini?"

"Astaga!" Jeanna terkejut oleh pemandangan yang tengah ia lihat saat ini, seorang siswi yang tergeletak tak sadarkan diri dengan darah di kerah seragamnya.

Untungnya siswi tersebut segera ditangani oleh anggota PMR, mereka pun segera membawanya menuju ruang UKS dengan sebuah tandu.

"Ada apaan sih?"

"Kenapa ya?"

"Gue nanya Je, lo malah balik nanya ke gue!" ujar Sera yang sedari tadi penasaran.

"Gue juga gak tau. Yang gue lihat, ada darah di kerah bajunya," jawab Jeanna tak kalah penasaran.

"Kita ke UKS yu Ra!"

"Gak deh, kita ke kantin aja!"

"Lo juga penasaran kan? Ayo dong Ra!" Jeanna mencoba memasang wajah memohonnya.

Dan yah, akhirnya Sera hanya bisa menuruti kemaun temannya itu, mereka berdua pun berjalan ke arah UKS.

"Lo yakin mau masuk? Gak bakal dibolehin Je percuma! Udah yu kita ke kantin aja!"

"Eeets, kata siapa gak boleh?" balasnya seraya menarik lengan Sera, "selagi ada orang dalem, aman." Ujarnya dengan santai, mereka pun segera masuk kedalam.

______________

"Hmm, kalau dilihat dari bekas lukanya sih, digigit ular yah." Ujar Jeanna dengan nada sok tahu.

"Ular jenis apa yang gigit leher orang?" mendengar pertanyaan temannya, Jeanna hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu.

"Dokter yang sempat meriksa tadi bilang kalau dia kekurangan darah. Kondisinya persis kayak orang habis donor darah...," ucap Fani salah seorang anggota PMR yang ternyata sepupu Jeanna.

"Dan kalau pun digigit ular, kemungkinan ular gigit di leher itu kecil banget Je. Setau gue sih gigitan ular lebih sering di kaki ya," lanjutnya.

"Kasus ini aneh banget si, dan baru pertama kali kejadian kayak gini," ujar Jeanna.

"Aneh. Gigitannya ngingetin gue akan sesuatu, kayak gigitan apa yaa?"

"Vampir!" Sera menyela perkataan Fani dengan cepat.

"Vampir?" ucap Jeanna bingung, ia pun menahan tawanya mendengar ucapan temannya itu.

"Mana ada vampir siang bolong begini, udah angus kali dia kena matahari," lanjutnya.

"Heh, lo aja yang gak tau! Vampir juga ngikutin jaman ya sis lebih modern dia sekarang."

"Kebanyakan baca novel vampir ya lo," balasnya dengan nada geli. "Udah deh jangan ngada-ngada ya Ra. Lagian ini pasti kena gigit ular kok!" lanjutnya dengan yakin.

Tak ada balasan dari Sera. Mereka terdiam sejenak hingga tak lama suara Fani memecah kesunyian. "Jadi, lo berdua masih mau di UKS nih sampe balik sekolah?"

"Eh, ini kita mau balik ke kelas Kak, hehe...," balas Jeanna, mereka berdua pun akhirnya meninggalkan ruang UKS dan berjalan ke arah kelas mereka.

_______________

Jeanna dan Sera kini tengah duduk di Pos satpam yang letaknya cukup dekat dengan gerbang sekolah.

"Si Upin & Ipin mana ya? Lama banget dah, laper nih gue!" sejak tadi Jeanna tengah menunggu dua orang temannya itu, ingin menagih janjinya kemarin.

"Nah, nongol juga ni orang. Buruan napa woy!" ucapnya dengan lantang. Mereka berdua pun segera mendekat ke arah Jeanna.

"Lah lo ngapain? Mau ikut juga?" tanya Riko ke arah Sera.

"Karena Sera ini udah nyelamatin kita, jadi jatahnya double, Oke?"

"Rugi dong gue kalau begini!" Lirih Kevin dengan nada sedihnya, mungkin dirinya akan kembali mengirit untuk kedepannya.

Sedangkan Riko, ia hanya bisa meringis mengetahui akan hal itu.

"Let's goo, kita berangkat!"











»Jangan lupa kasih Vote & Komennya ya, thx u

{ 22-06-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang