Tandain kalau ada typo ya guys :)
"Kita berhenti di depan taman dulu ya Kak!" selepas Zeyn menepikan motornya, Jeanna langsung berlalu menuju toko dekat taman untuk membeli plester dan juga obat luka.
Entah itu hanya sebuah kebetulan atau tidak, Jeanna langsung bernapas lega ketika melihat Zeyn melewati gang yang sama dengannya, Jeanna tak habis pikir bagaimana nasibnya jika saja Zeyn tak datang saat itu juga.
"Kita langsung pulang aja ya Je!" pinta Zeyn, mereka kini tengah duduk di bangku taman.
"Iya, tapi sebelumnya gue obatin lo dulu ya Kak."
Tangan Jeanna mulai terulur meraih telapak tangan Zeyn yang terluka akibat tergores pisau saat ia berkelahi dengan kelima lelaki itu sewaktu di gang tadi.
Lagi-lagi Jeanna bersyukur saat mengetahui Zeyn cukup mahir dalam bergulat, padahal dirinya sempat berfikir jika mereka berdua akan berakhir mengenaskan mengingat kelima orang itu membawa senjata tajam.
"Tahan ya Kak, gue mau olesin obatnya," Jeanna ikut meringis kala melihat ekspresi Zeyn yang sepertinya tengah menahan perih.
Selesai mengolesi obat pada tangan Zeyn, Jeanna refleks menarik tangan Zeyn lebih dekat dan meniup luka tersebut. Jeanna pikir mungkin rasa sakitnya sedikit mereda jika ia tiup seperti ini.
Namun apa yang diperbuatnya justru menimbulkan de ja vu. Lagi-lagi Jeanna teringat akan sesuatu, yah saat Alaric mengobati tangannya yang terluka akibat tergores ujung anak panah.
Jeanna terdiam beberapa detik, pikirannya kini tengah diisi oleh sosok Alaric. Jujur Jeanna khawatir akan keadaan Alaric, bagaimana keadaan pria itu? Apakah ia baik-baik saja setelah peperangan yang terjadi.
Menyadari Jeanna yang tiba-tiba terdiam, Zeyn langsung menepuk bahunya. "Je, Lo gak papa kan?"
"Hah? Gue, emmh... gak papa kok!" jawab Jeanna, saat ini wajahnya persis seperti orang kebingungan.
"Yaudah kalau gitu kita balik aja ya? Udah gelap juga nih." Jeanna hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lo pulang duluan aja Kak, nanti gue bilang ke Ste-" Zeyn langsung memakaikan helm pada Jeanna. Membuat ucapannya terpotong.
"Bisa-bisa gue yang kena marah Stefen." Ia pun menyuruh Jeanna agar menaiki motor, Jeanna pun hanya bisa menurut.
_____________
"Sekali lagi thanks ya bro, udah jagain adik kesayangan gue ini," Jeanna mengernyitkan dahinya seraya menatap sebal ke arah Stefen kala mendengar ucapan kakaknya yang terdengar alay dan berlebihan!
Zeyn mengangguk, "untungnya juga gue tepat waktu," balas Zeyn seraya tersenyum ke arah Jeanna. "Kalau gitu gue langsung balik ya," lanjutnya berpamitan.
"Gak mau mampir dulu?" tawar Stefen, Zeyn menggeleng sebagai jawaban.
"Nyokap nitip dibeliin makanan, jadi gue mesti buru-buru balik." Stefen pun mengangguk mengerti.
"Hati-hati ya Kak, makasih juga buat yang tadi." Zeyn tersenyum ke arahnya seraya mengangguk, ia pun menjalankan motornya dan berlalu meninggalkan rumah Jeanna.
Setelah kepergian Zeyn, Jeanna langsung masuk ke dalam tanpa memedulikan tatapan aneh dari Stefen.
"Kayaknya kamu deket banget sama Zeyn, sejak kapan?" tanya Stefen tiba-tiba
"Apaan sih! Namanya juga satu sekolah sering ketemu jadi kenal lah!" balas Jeanna dengan nada sinis, kenapa juga kakaknya menanyakan hal seperti itu, aneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasiaJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
