Tandain kalau ada typo ya guys :)
Lagi-lagi sebuah panggilan masuk tertera pada layar ponselnya membuat Jeanna berdecak kesal. "Siapa sih ni orang dari tadi nelponin mulu!"
Sera yang melihat itu pun ikut berdecak malas. "Lo angkat aja deh Je," suruhnya.
"HALO!" ucap Jeanna, nadanya terdengar cukup kesal.
"Kenapa kau marah? Harusnya aku yang marah padamu, sejak tadi aku menghubungimu kenapa tak kau angkat?" aneh, kenapa bahasanya asing, apa ini salah sambung? Tapi tunggu, Jeanna seperti mengenal suara ini.
"Maaf ini--siapa ya?" tanya Jeanna.
"Apa kau tak mengenaliku mate?" ah rupanya ini Alaric! Tapi sejak kapan pria itu menggunakan ponsel? Pikir Jeanna.
"Ya baiklah aku tau, apa kau membeli ponsel baru?"
"Hmm, Bella bilang benda ini sangat penting untuk mengetahui segala hal tentangmu, jadi aku membelinya beberapa."
Jeanna terkejut mendengar ucapan Alaric barusan, "Memangnya berapa banyak yang kau beli?"
"Hanya sepuluh," ujarnya santai.
Jeanna menganga tak percaya. "Untuk apa kau membeli sebanyak itu? Kau hanya butuh satu ponsel Alaric, satu saja sudah cukup!" ucapnya kesal.
"Entahlah, hanya untuk berjaga-jaga jika aku tak sengaja meremukkannya"
Jeanna dibuat heran dengan pola pikir Alaric, ia memejamkan matanya sejenak. "Baiklah terserah kau saja, lalu dari mana kau tau nomorku?"
"Oh, soal itu aku menyuruh Bella untuk mencaritahu nomormu."
"Lo ngomong sama siapa sih, pake bahasa inggris segala?" tanya Sera yang sedari tadi mengamati dirinya.
Jeanna menjauhkan ponselnya dari telinga. "Temen abang gue dari Jerman," bisiknya, temannya itu mengangguk percaya.
"Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga!"
"Aku sedang tidak ada di rumah Alaric."
"Memangnya kau ada di mana sekarang?"
Bagaimana ini, apa yang harus Jeanna katakan?
"Emm, aku sedang di perpustakaan bersama temanku," hening beberapa saat.
"Aku akan menghampirimu, di mana tempat itu?"
Jeanna gelagapan, bisa gawat jika Alaric benar-benar menghampirinya. "Emmh, sebaiknya jangan. Karena aku dan temanku akan pergi ke tempat lain untuk mengerjakan suatu hal," semoga saja Alaric tak jadi menghampirinya!
Terdengar suara helaan napas Alaric dari balik ponselnya.
"Ya, baiklah aku akan menunggumu pulang."
Jeanna pun mendesah lega, semuanya akan baik-baik saja selama Alaric tak mengetahui jika dirinya baru saja melihat pertandingan basket.
______________
"Kenapa kau malah membawaku kemari?"
"Kau bilang ingin lari pagi jadi aku membawamu ke sini, bukankah tempat ini cocok untuk olahraga?"
Alaric berdecih. "Aku tak suka keramaian, lihatlah orang-orang itu, kenapa mereka menatap kita sejak tadi?"
Bella memutar bola matanya malas, ia melihat ke arah yang di maksud Alaric. "Ah sepertinya gadis-gadis itu menyukaimu."
"Kau fokus lari saja, tak usah hiraukan mereka semua. Pasang saja muka datarmu itu," ujar Bella lagi.
Mood Alaric sedang buruk pagi ini. Niat awalnya yang ingin mengajak Jeanna jalan-jalan tidak jadi karena gadis itu ada urusan lain dengan temannya. Alaric bosan jika terus berada di dalam apartemen milik Bella, alhasil dirinya memutuskan untuk berlari sambil sesekali menghirup udara pagi yang sejuk.
Tapi tak disangka hal itu semakin membuatnya kesal, pagi harinya yang tenang harus diganggu dengan pemandangan para gadis yang menatapnya sampai memutar badan, sesekali mereka berteriak kegirangan. Apa mereka pikir Alaric ini sebuah pameran berjalan?
Alaric menghela napasnya. "Aku tak tahan lagi, lebih baik aku pulang sekarang!"
"Terserah kau saja, aku ingin mencari makanan untuk mengisi perutku." Bella pun berlalu meninggalkan Alaric.
_____________
"Cabut yuk, udah mulai panas nih!" setelah menghabisi ice creamnya itu, Jeanna memilih untuk segera pulang ke rumahnya karena tak tahan akan cuaca hari ini yang semakin panas.
Jeanna dan temannya itu berjalan ke arah parkiran motor, ia sedikit menyesal menyetujui ajakan Sera agar menggunakan motornya saja, seharusnya ia membawa mobil papanya untuk menghindari teriknya matahari.
"Jeanna? Sedang apa kau di sini?" seseorang memanggil namanya saat Jeanna tengah memakai helmnya.
Jeanna sedikit terkejut saat mendapati Bella berada tepat di sampingnya. "Kau, apa yang kau lakukan di sini?"
"Kenapa kau malah balik bertanya?"
Jeanna tersadar. "Ah itu, aku sedang jalan-jalan dengan temanku," ia menunjuk ke arah Sera.
Bella mengangguk mengerti. "Kau sendiri?" Jeanna bertanya lagi.
"Aku baru saja selesai olahraga pagi dan menikmati suasana pagi hari. Tapi sekarang semakin panas aku ingin mencari minuman segar," jelas Bella seraya mengipasi wajahnya dengan tangannya.
"Kok kaya gak asing mukanya...," gumam Sera yang kini tengah mengamati wajah Bella, wajah khas orang Eropa milik Bella mengingatkan Sera akan seseorang.
"Andin Ra, lo inget Andin kan?" balas Jeanna saat melihat temannya itu seperti tengah mengingat seseorang.
"Andin? Oh iya bener mukanya mirip banget Andin, cuma dia kan pake kacamata." Sera meneliti Bella yang kini menggunakan baju hitam dan celana olahraga berwarna abu-abu dengan rambut yang dikuncir kuda.
"Eh tapi, masa sih dia Andin?" mengingat Andin teman sekelasnya itu adalah seorang yang sangat pendiam, dan juga tampilannya berbeda.
"Mungkin jika aku melepas ikatan rambutku dan memakai kacamata kau akan mengenalinya," ujar Bella dengan sebuah senyuman.
Sera tampak menganga. "Hah, lo... beneran Andin? Tapi kenapa nama lo jadi Bella?" ia menggaruk tengkuknya. "Kok bisa?" ia kini beralih menatap Jeanna.
"Ya, jadi ceritanya panjang Ra, kita juga lumayan deket," tentu saja ia mengenal sosok Bella karena Alaric!
Tunggu, Alaric? Apa Bella kemari bersama pria itu?
Jeanna baru mengingat sesuatu, ia baru saja mengatakan pada Alaric jika dirinya saat ini sedang berada di perpustakaan. Jeanna menepuk jidatnya, bisa-bisa ia kena amuk jika Alaric melihatnya di sini.
"Ceritanya nanti aja Ra kita mesti balik sekarang juga! Bella kita duluan ya, daah!" Jeanna segera mencari kunci motor milik Sera yang ia taruh di sling bagnya.
Derap langkah yang terdengar seperti orang berlari kini semakin mendekat kearahnya, perasaan Jeanna jadi tidak enak. Ia tak berniat menengok, Jeanna justru menarik kaca helmnya agar menutupi seluruh wajahnya, untungnya kaca helm ini gelap jadi orang yang melihat tak akan mengetahui wajahnya.
"Kenapa lama sekali, mana minumku?"
Benar saja! Bella kemari tak seorang diri. Dan tak salah lagi itu suara Alaric, Jeana sangat mengenalinya! Namun akhirnya Jeanna berhasil menemukan kunci motor milik temannya itu, ia pun segera menyalakan motor. Sepertinya Alaric juga belum menyadari keberadaannya.
"Ya Tuhan, sungguh indah ciptaanmu. Jangan bilang itu cowoknya Andin Je, eh maksud gue Bella! " Sera menggeleng tak percaya. "Please! Semoga dia kakaknya, dengan begitu gue masih punya kesempatan!" apa yang dilakukan temannya itu membuat atensi Alaric beralih pada mereka berdua.
"Kenapa dia menatapku sejak tadi?" tanya Alaric pada Bella, ia masih tak menyadari sosok Jeanna yang kini hendak melajukan motornya.
"Hey apa kau tak mengenalinya, itu Jeanna dan temannya."
'Satu kata buat Bella?'
›Sebelum lanjut ayo pencet bintangnya dulu dong 😔
Udah pencet belom nih ???
{ 06-11-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
