“Di mana benda itu?” Alaric menadahkan tangannya ke arah Bella, gadis itu memberikan sebuah kotak berwarna merah pada Alaric.
“Apa kau masih ingat dialognya?”
Alaric berdecak, “entahlah, sepertinya aku akan merubah kalimatnya.”
Bella menatap jengah ke arah Alaric. “Ini akan jadi moment yang sangat berharga, dan itu akan terlihat sangat romantis Alaric. Cukup ucapkan kalimat yang sama seperti di dalam film yang kau tonton semalam!”
“Aku tak suka dengan kalimatnya, itu terdengar seperti sebuah pilihan.”
Bella memutar bola matanya malas, “kalau begitu lakukanlah sesukamu. Aku sudah cukup lelah berbicara denganmu,” ujarnya. “Dan sebaiknya kau segera kembali, Jeanna mungkin tengah menunggumu sejak tadi, atau mungkin dia sudah pergi untuk mencarimu.”
Tanpa berpamitan pada Bella, Alaric langsung pergi berlari meninggalkan Bella seorang diri di sebuah minimarket. “Huh, kuharap pria itu berhasil,” ia kembali meminum kopinya.
______________
Dari kejauhan Alaric melihat Jeanna yang tengah berjalan mondar-mandir, ia pun segera berlari ke arahnya. Sesampainya di hadapan gadis itu, Alaric memegang bahunya dengan tujuan agar Jeanna menatap penuh ke arahnya, gadis itu sedikit bingung akan perlakuan Alaric.
“Aku butuh jawabanmu sekarang juga!”
“Kau kenapa Alaric?”
“Kau sudah memikirkannya dengan baik bukan? Kalau begitu kau harus memutuskannya sekarang juga. Tapi sebelum itu, I will change the question,”
Alaric berjongkok di hadapannya dengan tangan yang terulur sambil memperlihatkan sebuah kotak berwarna merah.
“Aku tak tahu bagaimana cara melakukan ini dengan benar. Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya padamu. Kau adalah bagian dari diriku, separuh dari hidupku, belahan jiwaku. Dan karena hal itu, aku tak akan pernah melepasmu atau bahkan membiarkanmu pergi dari hidupku. Kau dan aku tak akan bisa terpisahkan!” Jeanna masih terdiam menatap lurus ke arah Alaric.
“Kau tau kan jika aku tak suka basa-basi. Maka dari itu, aku akan mengatakan ini sekarang juga. Will you marry me, Jeanna Yocelyn?”
Jeanna menganga tak percaya, ia sama sekali tak menduga jika Alaric akan mengatakan hal itu, dan juga, sejak kapan Alaric tau nama belakangnya?
Sebelum gadis itu menjawab, Alaric berdecak, ia kembali membuka suaranya. “Tunggu sebentar, seharusnya kalimatnya tak seperti itu!” Alaric kembali menatap matanya. “Kau harus menerima lamaranku, Jeanna!” tegasnya.
Alaric kemudian bangkit, menatap Jeanna yang masih terdiam di tempatnya. Ia mengambil sebuah cincin yang berada di dalam kotak tersebut lalu memakaikannya pada jari manis Jeanna.
“Ini artinya kau menerima lamaranku!” Alaric memperlihatkan cincin tersebut yang kini sudah tersematkan pada jari manisnya.
“Kenapa kau masih terdiam, apa kau tak suka cincinnya? Atau– kau menolakku? Tapi kalimatku barusan sudah jelas--” Alaric sedikit terkejut saat Jeanna tiba-tiba memeluknya, tapi setelahnya ia tersenyum senang.
“Diterima ya?” Jeanna merenggangkan pelukannya, ia menatap ke arah Alaric sambil menganggukkan kepala. Alaric kembali membawa Jeanna ke pelukannya, ia mencium puncak kepala Jeanna cukup lama.
_____________
Saat ini Alaric tengah mengantar Jeanna pulang ke rumahnya. “Di mana mobil mahalmu itu?” tanya Jeanna.
“Kenapa memangnya?” Alaric malah balik bertanya.
“Seharusnya kau kemari membawa kendaraan, rumahku cukup jauh dari sini Alaric!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
