Bag 4. Kejadian yang sama

42.9K 2.9K 17
                                        


"HUAAAA SERA ITU APAAN!"

"Iiih brisik tau gak!" balasnya sambil mencari-cari sesuatu. "Kayaknya gue nabrak tikus deh Je."

"Yailah tikus doang sampe ngerem mendadak, udah buruan jalan lagi!"

"Lo yang nyetir ya Je!"

"Gak, gue gak bisa nyetir motor!"

"Bohong lo. Jelas-jelas waktu itu lo naik motor abang lo sambil bonceng gue."

Jeanna lupa jika ia pernah meminjam motor Stefen saat ingin pergi belajar kelompok, dan tentunya ia pergi bersama temannya ini.

"Lo yang dari tadi berlagak berani sekarang takut juga kan, ngaku lo!"

"Yaudah. Minggir lo! Biar gue yang bawa," balasnya dengan cepat. "Gak tau aja kalau gue udah ngebut." Ujar Jeanna bersiap menjalankan motornya.

Ia menelan ludahnya kasar, mencoba menghilangkan rasa takutnya.

Bagaimana Jeanna tidak takut? Jalanan sepi seperti ini, paling tidak hanya ada satu atau dua pengendara motor yang lewat. Jalanan di komplek ini memang sepi, tapi untungnya rumah mereka searah. Rumah Sera juga tak begitu jauh dari rumah Jeanna, hanya berkisar 200 meter dari rumahnya.

Jeanna yang kini tengah mengendarai motor milik Sera, hanya bisa berdoa dalam hati semoga dirinya dan temannya itu selamat sampai tujuan. Sera yang berada di boncengan memekik keras ketika Jeanna melajukan motornya begitu cepat.

"Je lo mau mati ya? Turunin kecepatannya!" teriaknya sambil memukul punggung Jeanna. "Je, lo parah banget sumpah!"

Tiba-tiba sesuatu dari arah berlawanan tampak mendekat ke arahnya, membuat Jeanna menarik rem motor secara tiba-tiba hingga–

"AAAAA..."

"ASTAGA!"

Mereka berdua langsung panik melihat seseorang terjatuh tepat di depan motornya.

"Lo tabrak Je?"

"Enggak sumpah! Hampir doang, belum gue tabrak."

Seorang pria tiba-tiba tergeletak di tanah, tepat di hadapan motor itu. Dan keadannya cukup mengenaskan.

Oh tidak!

Apa dia sudah mati? Jeanna yang penasaran langsung mendekat ke arahnya. Tanpa rasa takut, ia mencoba menyentuh pria tersebut.

"Stop! Lo jangan asal pegang. Kalau dia tiba tiba-"

"Udah ya Ra, lo kebanyakan baca cerita novel tau gak!" balas Jeanna tak kalah cepat.

"Gue cuma mau mastiin dia masih hidup atau enggak," kembali Jeanna mendekat ke arah pria tersebut, ia mencoba menyentuh nadi di lehernya. Saat akan membuka kerah jaket yang menutupi lehernya, Jeanna menyadari sesuatu.

Diraihnya sebuah ponsel yang ia simpan di saku roknya, kemudian Jeanna menyalakan senter dan menyorotkannya ke arah pria itu. Dan yah, benar dugaannya, kini dirinya bisa melihat bekas darah pada kerah jaket yang orang itu gunakan.

"Je, kali ini feeling gue gak mungkin salah...," ucap Sera dengan nada pelan. Dan tanpa ragu, Jeanna menarik kerah jaket itu untuk memastikan denyut nadinya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat sebuah luka yang sama, sama seperti kejadian di sekolahnya tadi siang.

Temannya yang ikut menyaksikan hal itu langsung terduduk lemas, Sera yang memang pada dasarnya penakut akhirnya menangis walau tanpa suara.

"Tenang Ra, ini pasti cuma kebetulan aja kok," ujar Jeanna mencoba menenangkan temannya itu.

Jeanna langsung menelpon papanya untuk segera datang kemari, ia juga menghubungi ambulan agar seseorang di hadapannya ini segera mendapat pertolongan medis.

Jeanna sempat memeriksa denyut nadi di tangannya. Ia pun menghela napasnya lega, ternyata sosok pria di hadapannya ini masih hidup, Jeanna bisa merasakan jika nadinya masih berdenyut.

Selang beberapa menit ia menunggu, akhirnya mobil milik papanya itu datang. Seseorang yang tak terduga keluar dari balik mobil itu, Stefen-kakaknya lah yang datang saat ini dan ia membawa seorang wanita cantik berambut pirang yang mana itu istrinya.

"Kamu gak papa kan?" tanya Stefen kepada Jeanna, ia pun menjawab pertanyaan kakaknya dengan sebuah gelengan sambil menunjuk ke arah sosok pria yang tergeletak tak sadarkan diri.

"Gue gak nabrak dia kok Kak sumpah! Dia tiba-tiba jatuh di depan kita..." Olivia, istri Stefen yang tadi sempat memeriksa keadaan pria itu langsung menarik tangan Jeanna dan juga temannya.

"We should go Stefen, now!" tegasnya, tak lama suara sirine ambulan terdengar.

"Olivia, tolong bawa mereka berdua, aku akan kerumah sakit untuk mengurusnya. Pasti mereka akan butuh saksi mata."

"Are u serious?" Stefen mengangguk, menanggapi perkataan istrinya itu.

"Je, biar Kakak yang bawa motor teman kamu ya."

"Iya Kak," lalu mereka bertiga berjalan ke arah mobil Xpander putih.

"Kak, hati-hati. Kalau urusannya udah beres langsung telepon rumah, Oke?" ucap Jeanna menghentikan langkahnya.

Ia pun kembali berjalan dan memasuki mobil. Olivia segera menjalankan mobilnya untuk segera membawa Jeanna dan temannya ini pulang kerumahnya.

________________

"Jadi gitu Pa ceritanya..."

"Makannya, Mama udah sering ingetin kamu ya Je, jangan pulang malam-malam, tetep aja nakal!"

David langsung mengelus pundak Fara untuk tidak memarahi anak gadisnya itu. Bagaimana pun, David berpikir jika Jeanna saat ini pasti tengah syok.

"Gue mulu heran yang disalahin dari tadi," lirihnya dengan nada yang teramat pelan.

"Tapi kamu sama temanmu itu gak papa kan?" tanyanya lagi.

"Gak papa sih, tapi..."

"Kenapa sayang?" kali ini sang Papa yang membuka suara.

"Jeje ngantuk Pa," balasnya seraya memamerkan giginya. "Udah ah Jeje ke kamar ya, mau istirahat capek."

Ia pun melenggang pergi, meninggalkan David dan Fara yang tengah duduk di ruang TV. Mereka berdua kompak menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya itu.

Jeanna yang kini sudah berada di kamarnya langsung membanting tubuhnya ke atas kasur. Ia menghela napas panjang, mencoba menghilangkan penatnya. Jeanna mencoba meraih ponselnya di saku roknya, membuka pesan chat untuk menghubungi temannya.


Ra, lo udah tidur?

Mana bisa gue tidur secepat
itu, setelah kejadian yg
kita alamin tadi

Lo tenang aja, semuanya
udah diurus sama abang gue.
Lo gak perlu khawatir
soal motor lo, pasti nanti
Stefen ke rumah lo Ra

Soal motor aja gue gak peduli
ya Je, Gue bener-bener panik
gila! 2x liat kejadian tadi.
Gue gak bisa mikir apa-apa
selain berdoa supaya
gue selamat sampai rumah

Makanya, gue saranin
lo jangan baca
Novel tentang begituan lagi dah!

Tolong ya,
gak usah bahas itu lagi
gue males banget!

Btw, lo pinjam buku
emang bakal lo baca?


Jeanna baru ingat jika tadi ia sempat meminjam buku dari perpustakaan. Karena penasaran akan isi buku tersebut, Jeanna akhirnya bangun dari tempat tidur dan meraih tasnya untuk mengambil buku tersebut. Ia pun mengakhiri percakapannya dengan temannya itu dan beralih untuk membaca buku yang sudah ia pegang.












Ada yg tau? kira kira isi bukunya apaan ya? 😕

»Jangan lupa kasih Vote & Komennya ya, thx u

{ 26-06-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang