Hari terus berlalu, tak terasa hampir sebulan Jeanna tinggal di kastil ini. Jeanna juga sudah mulai terbiasa berada di samping Alaric, namun satu hal yang membuatnya kesal, akhir-akhir ini Alaric begitu posessive padanya.
Jeanna hanya mencoba menjadi ramah dengan tersenyum kepada para penghuni kastil ini, tetapi respon pria itu membuat Jeanna jengah. Bagaimana bisa Jeanna menjadi seperti Alaric yang hanya memasang wajah datarnya itu, tentu saja itu bukan dirinya!
Saat ini Jeanna berada di taman belakang kastil ditemani oleh seorang maid.
“Glory, apa kau tahu di mana Alaric? Aku tak melihatnya seharian ini. Apa dia ditelan bumi?”
Glory lagi-lagi tersenyum menampilkan giginya, saat mendengar ucapan Jeanna.
“Dia sedang mengurus pekerjaannya, Luna.”
“Pekerjaan macam apa kira-kira, apa gajinya cukup besar?”
“Entahlah, jika Luna begitu penasaran kenapa tak tanyakan langsung pada Alpha?”
Jeanna menghela napas. “Mungkin nanti, untuk saat ini aku ingin menikmati hari tanpanya,” lebih tepatnya, untuk saat ini saja Jeanna ingin terbebas dari keposessivan Alaric.
____________
Di sisi lain, Alaric tengah mengadakan pertemuan dengan para pimpinan werewolf dari pack lain. Mereka tengah membahas mengenai penyerangan yang dilakukan oleh kawanan vampir pemberontak, ternyata makhluk itu sudah berani bertindak secara terang-terangan dan mengacau di mana-mana.
“Jadi bagaimana Alpha Alaric? Ini semua di luar dugaan kami,” ujar salah seorang lelaki.
“Benar Alpha, setelah lama tak terlihat kini mereka dengan berani menyerang kawanan kita.” Ucap yang lain.
“Tentu saja mereka berani bertindak sejauh ini, karena pemimpin mereka telah kembali!” timpa Alaric dengan sengit.
“Apa yang anda maksud itu, King Lazarus?”
“Tidak mungkin! Ia tak akan berani bergerak sendirian.” Alaric mendengus kesal. “Aku khawatir ucapan vampir itu benar, apa mungkin Lucius lah yang membantunya selama ini,” lanjutnya.
Ucapan Alaric membuat seisi ruangan bingung. Sambil menghela napas, Alaric kembali melanjutkan ucapannya.
“Sepertinya Raja vampir itu membangkitkan kembali putranya.”
“Tapi bagaimana bisa, bukankah pangeran vampir itu sudah kau musnahkan?” Alaric pun bingung, jika pun benar, bagaimana cara Lazarus membangkitkan kembali putranya.
“Jika benar begitu, kita harus bertindak secepatnya Alpha!”
“Ya, kita akan menyerang mereka secepatnya!” ujar Alaric penuh yakin.
_____________
“Ruangan apa itu Glory?” langkah Jeanna terhenti saat melihat ruangan yang berada di bawah tangga.
“Sebaiknya Luna tak masuk ke dalam sana!” ujar Glory sambil meringis.
“Memangnya kenapa?”
“Apa Luna pernah mendengar penjara bawah tanah?” Jeanna menggeleng cepat. “Yaa seperti itulah kiranya,” ujarnya lagi, dengan raut penuh kengerian.
“Baiklah, mungkin itu sesuatu yang mengerikan,” dilihatnya wajah Glory yang mulai lega. “Apa semengerikan itu?” tanyanya lagi, rasa penasaran Jeanna cukup besar.
“Emm soal itu, kenapa tak tanyakan langsung pada Alpha, bagaimana?”
Jeanna mendengus kesal. “Baiklah baiklah, selalu saja tentangnya...”
Jeanna kembali melanjutkan langkahnya, niatnya yang hendak menuju kamar terhenti saat melihat Alaric keluar dari balik pintu. Rambutnya yang berantakan ditambah dengan dua kancing kemejanya yang terlepas berhasil mencuri perhatian Jeanna.
Sial! Kenapa pria ini makin terlihat tampan saat berpenampilan seperti itu. Namun sepertinya raut wajah Alaric terlihat begitu gusar, kenapa dengannya?
“Mau ke mana?” tanya Alaric singkat.
“A-aku ingin ke kamarku,” kenapa juga dirinya menjadi gugup seperti ini.
Alaric hanya mengangguk kecil, lalu ia berlalu begitu saja. Tunggu, tumben sekali pria itu mengabaikannya, apa ia sedang ada masalah? Apa itu menyangkut pekerjaannya?
“Glory, kau tak perlu menemaniku lagi. Aku akan menyusulnya.” Glory mengangguk paham.
Jeanna mempercepat langkahnya untuk menyusul Alaric, hampir saja dirinya kehilangan jejak Alaric saat pria itu memasuki sebuah ruangan. Dengan penuh yakin, Jeanna ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Apa aku boleh ikut masuk?” tanya Jeanna sambil membuka setengah pintu, pria itu hanya bergumam sebagai jawabannya.
Jeanna mulai berjalan memasuki ruangan, langkahnya mulai mendekat ke arah Alaric yang kini tengah duduk menyandar di kursi kerjanya. Ia berdiri di samping pria itu, Jeanna memandangi Alaric yang tengah memejamkan matanya.
“Apa kau baik-baik saja?” Alaric tak menjawab. “Apa kau sedang ada masalah?” Alaric hanya menghela napas gusar.
Karena dirinya merasa dihiraukan, Jeanna memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut.
“Baiklah, mungkin kau memang butuh waktu sendiri,” ujarnya dengan nada sendu.
Saat Jeanna hendak berbalik menuju pintu keluar, tiba-tiba tangan Alaric menarik pinggangnya dari belakang, membuatnya ikut terduduk di pangkuan pria itu. Tentu saja Jeanna sedikit terkejut, namun kali ini ia memilih untuk diam dan tidak berontak.
“Maaf,” itulah ucapan yang keluar dari mulut Alaric.
“Mungkin kau bisa cerita padaku, siapa tahu aku bisa membantumu,” ujarnya polos.
“Aku bingung, mate” lirihnya.
“Kenapa?” Sial! Jeanna baru sadar jika Alaric sangat dekat dengannya, bahkan ia bisa merasakan hembusan napas pria itu mengenai tengkuknya.
“Aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja, tapi aku harus melakukannya. Aku benar-benar tak bisa jauh darimu...”
‘Ni orang ngomong apaan si, kagak ngarti gue bang sumpah dah!’
“Apa maksudmu? Aku tak mengerti!”
Alaric semakin mengeratkan tangannya pada pinggang Jeanna, seakan dirinya tak rela jika harus berpisah dengan Jeanna.
“Lusa aku akan meningkalkan tempat ini, aku harap kau akan baik-baik saja di sini mate.” Jeanna yang tak mengerti arah pembicaraan Alaric hanya mendengus kesal.
“Memangnya kau mau pergi ke mana?”
Alaric menghela napas gusar. “Aku akan pergi berperang.”
“Ohh... APA?”
›Hai semua, makasih banyak buat yg udah baca & dukung cerita aku, semoga ceritaku ini ga ngebosenin ya guys, bcs ini cerita pertamaku 😭
Dan lagi, mau ngingetin...
»Jangan lupa untuk selalu kasih Vote & Komen ya, thx u
{ 07-08-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
