Bag 10. Membaca pikiran?

40.2K 2.9K 20
                                        


< Jeanna POV >

"Lihat kan! Sudah kubilang ini akan jadi kebiasaan," ucap seseorang yang ternyata sudah berada di kamarku.

"Hmmm...," aku hanya menanggapinya dengan sebuah gumaman. Sungguh, semalam aku tak bisa tidur nyenyak.

"Cepatlah bangun! Stefen memanggilmu sejak tadi."

"Baiklah, 5 menit lagi aku akan turun."

Setelah Olivia keluar dari kamarnya, aku segera bangun dari tidurku dan berjalan ke arah sebuah meja untuk mengambil perlengkapan mandi.

"Amplop apa ya ini?" niatku untuk mengambil sikat gigi kuurungkan begitu melihat sebuah amplop coklat yang terselip di sebuah buku.

"Oh iya, gue lupa. Ini kan dari abang Zeyn,"

"Ex gebetan..." Yah, setidaknya dia pernah menjadi mood bosterku.

"Isinya apaan ya? Buka ah!" aku pun segera membuka amplop tersebut.

"Ya ampun ganteng banget lagi si abang, kenapa yang ganteng cepet banget laku sih, " tanganku tengah memilah beberapa foto tersebut. Terdapat wajah Stefen juga di sana, tentunya dengan teman-temannya yang lain, termasuk Zeyn.

"JE, CEPAT TURUN!" teriakkan Stefen membuatku segera bergegas menuju kamar mandi.

______________

"Kak, gimana lo bisa kenal sama Zeyn?"

"Club motor," balasnya seraya
memperlihatkan foto-foto yang tengah ia pegang.

"Iya gue tau, tadi udah liat duluan kok." Stefen hanya mengangguk mendengar perkataan adiknya.

"Maksud gue, kok bisa sedekat itu?"

"Ya bisa."

"Ah tau dah cape ngomong sama lo," ia pun bangkit dari duduknya hendak pergi keluar rumah.

"Mau kemana?"

"Cari angin, bosen di kamar mulu," ia melihat respon kakaknya yang sempat menautkan jarinya membentuk lingkaran, yang berarti 'oke'.

___________

"Apa saja yang kau lakukan Ed. Sebegitu sulitkah tugas yang kuberikan padamu?" suara penuh kemarahan itu terdengar jelas hingga ke penjuru kastil.

Sosok Alpha yang sebentar lagi akan diangkat menjadi seorang Raja, kini ia tengah melampiaskan amarahnya pada tangan kanannya itu, siapa lagi kalau bukan Beta Edward.

"JAWAB AKU!" bentaknya, membuat siapa saja yang mendengar meringis ketakutan.

"Maaf Alpha, aku sudah berusaha mencarinya hampir di seluruh penjuru hutan. Tetapi, tidak ada jejak sama sekali," ujarnya dengan pasti.

**** Kejadian sebelumnya

Saat itu, beberapa pasukan dari packnya yang berada di perbatasan, dikabarkan tewas karena serangan dari para vampir. Mendengar akan hal itu, membuat sang Alpha geram. Ia pun memutuskan untuk pergi menuju perbatasan untuk melihat situasi saat ini. Lama tak terlihat keberadaannya, kini makhluk penghisap darah itu sudah mulai berani menunjukkan dirinya secara terang-terangan.

Rupanya mereka ingin bermain-main dengan sang Alpha. Alaric chaiden darker, putra sulung raja Arthur yang akan menjadi penerus takhtanya, kingdom of darker. Seorang Alpha yang memiliki paras nyaris sempurna. Namun di balik parasnya itu ia begitu tegas dan juga kejam.

Tak pernah sekali pun terlihat senyuman dari wajah tampannya itu. Jika ia tersenyum pun, senyumnya tak menggambarkan kebahagiaan, melainkan senyum menakutkan yang akan menghantarkan seseorang pada penderitaan.

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang