Tandain kalau ada typo ya guys :)
Lama Alaric menunggu, akhirnya pintu kamarnya itu terbuka. Ia hendak menerobos masuk namun Bella lebih dulu mencengkram lengannya.
“Jangan terburu-buru, kurasa Jeanna masih sedikit syok dengan kejadian semalam, ini semua juga karena ulahmu!”
Alaric memutar bola matanya malas. “Ya aku tahu, bisa kau singkirkan tanganmu itu?” setelah cengkraman tangan Bella terlepas, Alaric segera masuk ke dalam kamarnya.
Ia mulai berjalan mendekat ke arah matenya itu, pandangan mereka saling bertemu, namun sedetik kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain seakan menghindari tatapan Alaric.
Alaric semakin mendekat ke arah sisi ranjang, ia ikut mendudukkan diri di sebelah Jeanna. Matanya tertuju pada bekas luka akibat ulahnya semalam, lebih tepatnya itu ulah Rolf! Serigalanya itu. Jeanna reflek menggeser tubuhnya saat Alaric mencoba menghapus jarak di antara mereka.
“Apa kau takut denganku?” Jeanna tak menjawab ia sibuk memainkan kuku jarinya. Jeanna merutuki dirinya yang kini malah merasa canggung.
Jeanna sedikit terkejut saat Alaric memegang bahunya, menyuruh nya untuk menatap ke arah pria itu sepenuhnya. Namun sebisa mungkin Jeanna menghindar dari tatapan Alaric, entahlah Jeanna masih takut saat menatap mata biru milik Alaric, ia jadi teringat akan semalam.
“Apa aku semenakutkan itu, sampai kau tak berani menatap ke arahku?”
“Aku--”
“Maaf...” Alaric menghela napas sesaat. “Aku tahu kau pasti terkejut akan kejadian semalam, tapi kuharap kau bisa menerimaku. Aku tak mungkin menyakitimu atau bahkan membunuhmu, jadi tolong buang rasa takutmu padaku,” sambungnya.
Jeanna sedikit terkesiap, bagaimana Alaric tahu apa yang tengah Jeanna pikirkan saat ini? Tiba-tiba Alaric menangkup wajahnya, membelai wajah Jeanna seakan menyuruhnya untuk menatap ke arah pria di hadapannya ini. Yah, setidaknya itu mampu membuat Jeanna sedikit tenang.
“Apa masih sakit?” Jeanna mengikuti arah pandang Alaric pada lehernya, ia hanya menjawab dengan sebuah gumaman.
“Mau kusembuhkan?” ia menatap ke arah Alaric dengan dahi yang berkerut.
Alaric memajukan wajahnya ke arah bekas gigitan di leher Jeanna, gadis itu pun memundurkan tubuhnya dengan raut wajah yang terlihat sangat panik.
“Aku tak akan memakanmu, tenanglah,” ucapan Alaric seakan menjawab ketakutannya, apa pria itu bisa membaca pikirannya? Jika benar kenapa Jeanna baru tau sekarang.
Alaric tersenyum geli, ia menyuruh Jeanna untuk mendekat ke arahnya. Dengan ragu Jeanna mencoba menuruti ucapan Alaric, “aku hanya ingin mengobati luka ini,” ujar Alaric seraya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi leher Jeanna.
Perlahan Alaric mulai mendekatkan wajahnya pada leher Jeanna, sedangkan Jeanna memejamkan matanya dengan erat saat Alaric semakin mendekat. Tangan Jeanna kini beralih pada bahu Alaric, ia semakin mencengkram kuat bahu Alaric saat nafas hangat pria itu menerpa kulit lehernya.
Hingga sesuatu yang kenyal dan basah terasa menyentuh kulit lehernya, tepat pada bekas luka itu. Jeanna masih setia menutup matanya menungu apa yang akan terjadi setelahnya.
Dinginnya bibir Alaric bersatu dengan napas hangatnya itu, dan sesuatu yang basah terasa menyapu kulit leher Jeanna.
Selang beberapa detik, Alaric menjauhkan wajahnya, ia beralih menatap wajah Jeanna yang masih memejamkan mata, jangan lupakan kerutan di dahinya. Seketika ide jahil muncul di otak Alaric, ia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.
“Sampai kapan kau akan menutup matamu itu?” Jeanna seketika tersadar, ia segera membuka matanya. Wajah Alaric yang terlalu dekat membuatnya sedikit terkejut.
Dan tiba-tiba pria itu mengecup bibirnya cepat, mata Jeanna membulat sempurna. “Alaric!” protesnya, pria itu malah terkekeh.
“Kita sudah saling terikat, jangan heran jika aku tau segala yang ada di kepalamu itu. Aku bahkan bisa merasakanmu dari kejauhan, jadi jangan pernah mencoba membohongiku lagi!” ujar Alaric penuh peringatan.
Jeanna menganga tak percaya, ternyata karena hal itu Alaric mampu mengetahui isi pikirannya. Jika sudah seperti ini akan sulit bagi Jeanna untuk mencari-cari alasan saat ingin menghindar dari pria di hadapannya ini.
“Dan jangan mencoba menghindar dariku!” ujarnya lagi, Jeanna mendengus kesal, lagi-lagi pria itu mengetahui isi pikirannya.
Jeanna merasakan tangan Alaric yang menggenggam tangannya, “aku tak bisa berlama-lama di sini Je, kita harus kembali ke kastil. Mereka membutuhkan kehadiranku,” kali ini raut wajah Alaric terlihat sangat serius. “Kau harus ikut aku pulang,” sambungnya.
Jeanna terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Bella sudah menceritakan semua yang belum Jeanna ketahui termasuk kejadian semalam dan Jeanna pun mulai mengerti, ia mulai menerima takdirnya sebagai belahan jiwa Alaric meskipun banyak ketakutan pada dirinya mengenai bagaimana kehidupannya nanti.
Akan tetapi saat Alaric mengatakan kalimat tadi, rasanya Jeanna perlu berpikir dua kali. Jujur saja Jeanna tidak bisa jika harus meninggalkan rumahnya, keluarganya dan teman-temannya lalu tinggal selamanya di kastil yang letaknya sangat jauh dari sini, Jeanna tidak bisa.
Tapi jika Jeanna menolak, itu pasti akan menyakiti perasaan Alaric. Jeanna terdiam cukup lama, tanpa sadar Alaric memerhatikannya sejak tadi.
“Aku tau itu tidak mudah, tapi kau harus memutuskannya,” Alaric memaksa senyumnya.
‘Dan kuharap kau tak menyesali takdirmu.’
“Aku butuh waktu Alaric,” Jeanna memandang sendu ke arah pria itu.
Alaric tau Jeanna pasti akan mengatakan itu, dengan terpaksa Alaric mengangguk mengiyakan. Ia hanya takut jika Jeanna nantinya menolaknya, menolak untuk ikut dengannya dan menolak untuk menjadi belahan jiwanya. Alaric terlalu takut jika Jeanna akan menghilang lagi dari hidupnya.
Mungkin Jeanna perlu membicarakan hal ini dengan Olivia, ngomong-ngomong soal kakak iparnya itu, Jeanna baru ingat kalau dia tak mengabari keluarganya, pasti mereka mencari keberadaannya sejak semalam.
Juga teman-temannya, Jeanna menepuk jidatnya, ia baru ingat soal motor temannya itu. “Kenapa denganmu?” tanya Alaric.
“Sepertinya aku harus pulang sekarang.”
Alaric mengangguk, “biar kuantar.”
Jeanna menggeleng cepat. “Aku- membawa motor temanku ke sini, jadi aku akan pulang sendiri saja, apa kau melihat sling bagku? Kunci motornya--”
Alaric menunjuk ke arah nakas, Jeanna segera berdiri mengambil sling bagnya, ia mengecek isi tasnya. Jeanna mengambil ponselnya lalu menyalakan layar ponselnya itu.
‘Mampus gue!’
“Kalau begitu aku pulang sekarang,” Jeanna berjalan ke arah pintu kamar.
“Soal dressmu, aku akan menggantikannya yang baru,” ya, Jeanna baru ingat soal pakaiannya. Tapi ngomong-ngomong soal dress, siapa yang mengganti bajunya semalam? Tidak mungkin Alaric yang melakukannya, benar kan?
“Memangnya kenapa jika aku yang melakukannya?” Alaric menaik turunkan sebelah alisnya.
Jeanna memaki Alaric dalam hati, ia ingin memberi pria itu pelajaran tapi sepertinya ia tak punya banyak waktu untuk meladeni Alaric. Pria itu tertawa lepas saat melihat Jeanna keluar dari kamarnya dengan wajah memerah menahan marah.
›Masih mau lanjut gak nih? Pencet dulu yok bintangnya :)
»Jangan lupa vote & komen ya, thx u
{ 01-12-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
