Bag 12. Kau milikku!

48.4K 2.9K 17
                                        


< Jeanna POV >

"Kau, tidak bersungguh-sungguh bukan berkata demikian?" tanya Victoria kepadaku.

Lalu apa lagi yang bisa kulakukan, saat pria gila itu mengancam untuk menghabisi mereka semua, aku terpaksa mengakatan jika aku akan ikut dengannya.

**** Kejadian sebelumnya

"Aku? Apa hubungannya denganku?"

"Karena kau milikku!" Tegasnya. "Kau bagian dari diriku. Jadi kau harus ikut denganku!"

Apa katanya? Aku bagian darinya? Wah, sepertinya pria ini benar-benar gila. Sayang sekali, padahal parasnya tak nampak seperti orang gila, wajahnya yang nyaris sempurna itu, sangat disayangkan sekali.

"Tentu saja aku tidak mau! Dasar pria aneh," jawabku dengan cepat, kulihat pria itu menghembuskan napasnya kasar.

"Aku sudah menduga akan hal ini, maka dari itu aku akan membawamu secara paksa. Tapi sebelum itu-" ucapnya terhenti. "Kali ini aku tak bisa menghalaunya lagi," ujarnya dengan senyum menakutkan, aku melihat ke arah serigala coklat itu tengah menggeram bersiap kembali menyerang.

"NO STOP! Oke-oke. Aku akan ikut denganmu," entahlah tiba-tiba saja mulutku refleks berkata seperti itu.

Daripada serigala itu kembali menyerang Olivia, lebih baik kuturuti saja perkataannya itu untuk sementara waktu.

"Tapi, tidak hari ini!" aku mencoba bernegosiasi, pria itu menaikkan sebelah alisnya.

"Bagaimana jika besok. Yah, aku akan ikut denganmu esok pagi, kau pasti mengerti bukan? Aku butuh waktu untuk berpisah dengan mereka," ujarku dengan nada memohon berharap ia mengerti.

Kulihat raut frustasinya itu. "Baiklah. esok pagi aku akan kembali," ujarnya setelah lama menimbang-nimbang. "Dan jangan mencoba untuk menyembunyikannya dariku!" ucapnya ke arah Ben.

*******

"Jadi maksudmu mereka semua, werewolf? Dan pria itu adalah pasanganku?"

"Ya, seperti itu." Ujar Olivia setelah dirinya menjelaskan panjang lebar kepada Jeanna mengenai semua ini.

"Dan kau, adalah vampir?" Olivia mengangguk.

"Impossible!" selama ini Jeanna tak pernah percaya akan keberadaan makhluk itu. Tapi lihatlah, justru ia sendiri tinggal dengan mereka, makhluk penghisap darah.

"Lalu kenapa kau tak menggigitku? Bukannya kalian meminum darah?"

"Kami terbiasa minum darah hewan Je, apa kau tak menyadarinya? saat malam hari kami terkadang keluar rumah." Ucapan Ben membuatnya mengingat kembali. Benar, saat malam hari Jeanna sering mendapati mereka bertiga pergi entah kemana.

"Jadi, kalian berburu di malam hari?" mereka bertiga mengangguk berbarengan.

Pantas saja, tampang ketiga orang ini berbeda dari manusia pada umumnya. Kulit mereka lebih pucat, dengan mata yang berwarna merah darah namun tak begitu terang.

Juga kemampuan mereka yang baru saja ditunjukkan kepadanya, membuat Jeanna tak bisa mengelak lagi, mereka ini benar-benar vampir! Jadi saat ini hanya Jeanna dan Stefen yang berstatus sebagai manusia? Apa saat ini ia tengah berada di dunia lain?

"Apa kau tahu? Serigala yang berada di mimpimu itu adalah pria yang tadi." Ujar Victoria membuat Jeanna tertegun seketika. Apa mungkin, yang ia temui di hutan waktu itu adalah pria itu.

"Bagaimana bisa..." Lirih Jeanna seolah tak percaya akan hal itu.

"Apa ada cara untuk mencegah ini semua?" tanya Stefen kepada Ben, ia tak rela jika adiknya itu harus dibawa oleh kawanan werewolf itu.

"This is a fate. Jadi, tidak ada." Ujar Ben dengan raut putus asa.

___________

Setelah perbincangan yang sempat terjadi tadi, Jeanna memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia benar-benar dibuat bingung dengan semua ini, apa yang harus ia perbuat sekarang? Apa Jeanna benar-benar akan ikut dengan pria itu.

"Ini, gue lagi mimpi kali ya haha..." Ujarnya sambil tertawa sumbang.

Lagi-lagi Jeanna berpikir, apa takdir hidupnya akan seperti yang Victoria katakan tadi? Apa benar dirinya adalah pasangan dari pria itu?  Bagaimana jika ia hanya ditipu, lalu tiba-tiba ia dijadikan santapan oleh para serigala itu, itu lah yang ada di pikiran Jeanna saat ini.

Jika benar demikian, sama saja nyawanya sedang terancam. Oh betapa sialnya nasib Jeanna saat ini, apa yang harus ia lakukan? Jeanna berjalan ke arah meja belajarnya, diambilnya sebuah tali tambang yang berada di ranselnya.

"Gue gak peduli soal takdir gue! Lagian ujung-ujungnya nyawa gue bakal jadi taruhannya kan?!"

__________

<Alaric POV>

Sial! Sedari tadi aku tak bisa fokus dengan semua ini. Aku tak bisa jika harus menunggu hingga esok pagi, aku benar-benar gelisah, bagaimana jika para vampir itu membawa gadis itu pergi ke tempat lain.

Satu hal yang membuatku takut, aku tak bisa menghirup aromanya ketika tak melihat sosoknya, seharusnya aku sudah membawanya sejak tadi.
Bahkan Rolf tak bisa diam sejak aku kembali ke kastil, ia begitu cemas akan sesuatu. Jika seperti ini, tak ada cara lain untuk membawanya saat ini juga!

"Aku akan pergi!" ujarku berlalu meninggalkan istana.

"Apa kau yakin Alpha? Bukankah dia bilang--"

"Persetan dengan hal itu, aku tak peduli!"

"Baiklah, aku akan mengawalmu, Alpha."

___________

"Jeanna, kau sedang apa? Boleh aku masuk?"

"Aku ingin mengobrol sebentar denganmu Je..." Suara ketukan pintu dan panggilan dari Olivia tak juga disahut oleh penghuni kamar tersebut.

"Apa dia tidur ya?" ia pun berlalu dari kamar Jeanna. Namun saat hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba Ben berlari ke arahnya.

"Apa kau tak merasakannya?" tanya Ben dengan raut serius, Olivia baru tersadar akan apa yang dimaksud oleh Ben.

"Dia kembali lagi? Tapi untuk apa? Bukankah ia setuju jika akan kembali esok," ujar Olivia merasa heran.

"Aku juga tidak tahu. Lalu di mana Jeanna, sepertinya kita harus menyembunyikannya untuk saat ini!"

Olivia kembali berjalan ke arah kamar Jeanna, disusul oleh Ben. "Je, tolong buka pintunya! Ini penting," lagi-lagi tak ada sahutan, terpaksa Olivia membuka paksa pintu kamar tersebut.

"YA TUHAN!"



















Mau pantun bentar, ekhem😔...

>Ke pasar beli pisang, pulangnya mampir beli mangkok
>Buat readersku tersayang, author cuma minta vote & Komennya doang kok 😂

»Jangan lupa Vote & Komen ya, thx u

{ 13-07-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang