Bag 34. Ikatan takdir

20.7K 1.5K 26
                                        

Tandain kalau ada typo ya guys :)


Salah satu yang paling ditunggu oleh para pelajar adalah akhir pekan, begitu juga dengan Jeanna. Akhir pekan adalah waktu yang begitu ia tunggu, namun itu dulu, sekarang tak lagi. Semua hari terasa sama baginya, benar-benar membosankan!

Akhir-akhir ini Jeanna sering menyibukkan dirinya untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Seperti saat ini, Jeanna memutuskan untuk menghabiskan waktu luangnya dengan belajar di rumah.

“Dari tadi Mama liatin kayaknya kamu gak baca bukunya, tapi cuma dipandangin aja,” diam-diam Fara memerhatikan Jeanna sejak tadi, sepertinya anaknya itu tengah melamun.

Jeanna menghela napasnya. “Jeje gak bisa fokus belajar Ma.”

“Memangnya kamu lagi mikirin apa sampai gak bisa fokus belajar?”

Jeanna terdiam, ia pun bingung dengan dirinya sendiri. Akhir-akhir ini Jeanna sering melamun, pikirannya sering terbayang akan sesuatu yang lain, alhasil ia menjadi susah fokus. Apa semua ini lagi-lagi karena Alaric? Entahlah Jeanna benar-benar pusing memikirkan hal itu.

“Jeje mau jalan-jalan sebentar deh Ma, ini kayaknya efek mau ujian jadi butuh refreshing otak.”

“Yaudah, tapi jangan jauh-jauh loh inget! Pulangnya juga jangan kesorean!” ujar Fara memperingati.

Jeanna pun mengangguk, ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil sweater dan tasnya. Dan tak lupa untuk mengambil kunci mobil lalu berpamitan pada Fara.

Jeanna mulai menjalankan mobilnya, ia sangat menginginkan hal ini sejak dulu. Bisa membawa kendaraan ini seorang diri, dengan begitu Jeanna bisa pergi kemanapun dirinya mau.

Semua keinginan Jeanna dulu benar-benar di kabulkan oleh orang tuanya saat ini, namun entah kenapa Jeanna tak merasa sesenang itu. Seolah ia merasa semua hal yang Jeanna inginkan dahulu hanya berlaku untuk saat itu saja, tak lagi untuk saat ini.

Semua hal tentang kehidupan normalnya saat ini terasa asing baginya. Terkadang ia berpikir, mungkin inilah yang membuat beberapa orang yang berada di dekatnya merasa jika dirinya berubah, Jeanna yang dulu tak sama seperti yang sekarang.

Lagi-lagi Jeanna menghela napasnya gusar. “Kayaknya gue butuh tempat untuk nenangin pikiran gue,” akhirnya Jeanna memilih pergi ke suatu tempat yang menyajikan pemandangan alam.

____________

“Loh Jeanna baru aja keluar, memangnya kalian ga dikabarin?”

“Sera udah bilang sebelumnya tante, hari ini kita mau ngerjain tugas kelompok bareng, iya kan?” ujarnya seraya menoleh ke arah Kevin dan Riko.

“Iya tante, mungkin Jeanna lupa ya,” ucap Kevin.

Sera mendengus kesal, baru saja semalam ia mengabari Jeanna agar datang ke cafe tempat biasanya mereka kumpul. Tapi temannya itu tak kunjung datang, juga tidak bisa dihubungi. Saat Sera mencoba mendatangi rumahnya, ternyata Jeanna malah pergi tanpa mengabarinya.

“Kira-kira Jeanna kemana ya tante?” tanya Riko.

“Tante juga gak tau, dia cuma pamit mau jalan-jalan.”

Sera menghela napas. “Lo kemana sih Je...” ujarnya dengan nada kesal.

Sedangkan Jeanna, dirinya kini tengah duduk menikmati pemandangan alam di hadapannya. Entah mengapa Jeanna tiba-tiba menginginkan berada di tempat seperti ini, berada di sebuah danau dengan pepohon yang membuat udara sekitar menjadi sejuk.

Yah, Jeanna menyukai suasana saat ini, setidaknya itu membuat pikirannya menjadi lebih tenang. Jeanna memejamkan matanya, ia mencoba mengalihkan pikirannya dan menikmati waktu santainya.
Namun itu tak bertahan lama saat seseorang tiba-tiba menepuk bahunya, Jeanna merasa sedikit terusik akan hal tersebut.

“Jeanna bukan ya?” tanyanya sambil menepuk bahu gadis itu. Jeanna pun menoleh ke arah orang tersebut.

“Eh! Kak, ngapain di sini?” tanya Jeanna, dan rupanya itu Zeyn.

“Tadi gue abis reunian sama temen SMA tapi mereka udah balik duluan, lo sendiri ngapain di sini, kayaknya sendirian?”

“Iya Kak gue lagi pengen sendirian aja,” balas Jeanna seraya tersenyum ke arah Zeyn. Sedangkan Zeyn hanya mengangguk paham.

“Setelah lulus mau lanjut kemana kira-kira?”

“Soal ituu, gue masih bingung Kak sebenarnya,” jawabnya seraya tersenyum memamerkan gigi.

Obrolan mereka pun terus berlanjut, Jeanna baru menyadari ternyata kakak kelasnya ini sosok yang humoris. Zeyn menceritakan bagaimana ia bisa kenal dengan Stefen-kakaknya itu, ia juga bercerita tentang hal-hal lucu sewaktu dulu saat mereka masih bermain bersama.

Keduanya terlalu asik dalam pembicaraan satu sama lain hingga tak sadar matahari semakin bergerak turun, ternyata sudah sore. Mereka terdiam untuk sementara waktu sambil melihat ke arah langit yang mulai memancarkan warna jingga.

“Lo tau gak kapan waktu yang tepat untuk menatap penuh ke arah langit?” Jeanna menggeleng tak tau.

“Senja adalah waktu yang paling gue tunggu, waktu di mana hari berganti siang menuju malam. Warna langit yang tampak indah ditambah banyak burung yang terbang bersamaan, seketika perasaan gue jadi tenang gitu aja,” jelas Zeyn panjang lebar.

“Lagi-lagi senja jadi waktu yang pas untuk bikin sebuah moment yang gak bakal terlupakan,” lanjutnya.

Ucapan Zeyn membuat Jeanna terdiam membisu, pandangannya masih menatap ke arah langit. Tiba-tiba ingatan di kepalanya saat bersama Alaric kala itu kembali terputar, yah Jeanna bisa merasakannya dengan jelas. Tanpa sadar sebulir air mata jatuh membasahi pipinya.

“Lo setuj-- eh? Je, lo nangis?” tanya Zeyn panik.

“Hah?” tangan Jeanna reflek mengusap pipinya yang kini dirasa basah. “Oh ini gue kelilipan debu deh kayaknya,” ujarnya berbohong.

“Kayaknya gue mesti balik ke mobil Kak soalnya hp gue ketinggalan di sana, gue duluan ya,” ia pun segera beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Zeyn yang masih memandangnya heran.

“Kenapa tiba-tiba gue nangis ya?” tanyanya pada diri sendiri, ia beralih membuka ponselnya.

Jeanna melupakan sesuatu, seharusnya hari ini ia bersama teman-temannya. Ia punmenepuk jidatnya, baru teringat saat membuka ponsel dan mendapati banyak pesan dan panggilan masuk. Jeanna benar-benar kacau saat ini, bagaimana bisa ia melupakan hal itu.

Karena tak ingin kena marah temannya, Jeanna memilih untuk pulang kerumah dan menghubungi Sera besok pagi.

Setibanya di rumah, Jeanna disambut oleh Olivia yang sejak tadi menunggunya di ruang tamu.

Oh God! Kau ke mana saja hingga pulang selarut ini?” tanya Olivia yang kini berjalan menghampirinya.

“Aku pergi ke suatu tempat. Yah kau pasti tau, akhir-akhir ini pikiranku sedang kacau!” ujar Jeanna seraya menghela napas gusar.

Olivia mengerti akan ucapan Jeanna. Ia pun menyadari satu hal, semua ini memang sengaja ia dan keluarganya lakukan untuk melindungi Jeanna. Namun sepertinya apa yang dilakukannya itu justru menyiksa Jeanna, bahkan ia sering mendapati Jeanna duduk melamun seorang diri sambil terus menatap ke arah langit.

Beberapa kali Olivia juga mendengar Jeanna menangis dalam tidurnya, ia pernah menanyakan soal mimpinya itu namun Jeanna sendiri tak tahu akan hal itu. Entahlah, jika ditanya soal mimpinya Jeanna tak bisa mengingat dengan jelas.

Olivia sadar jika Jeanna sendiri masih belum menyadari perasaannya, namun lagi-lagi Olivia percaya cepat atau lambat Jeanna akan sadar jika dirinya tak bisa lepas dari sosok Alaric, yah ini semua karena ikatan takdir mereka berdua sebagai belahan jiwa.









>Maapkeun author kalo akhir akhir ini jadi jarang update, untuk itu perlu kerja samanya dengan follow akun ini, dan juga..

»Jangan lupa Vote Komennya ya, thx u

{ 20-09-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang