Jeanna tengah terduduk di sebuah bangku taman tepatnya di belakang kastil besar milik Alaric ini. Ia tengah memandangi burung-burung yang terbang tepat di atasnya.
Jeanna menghela napasnya. "Andai saja aku bisa merasa bebas seperti mereka, melakukan apa pun semauku dan pergi kemana pun yang aku inginkan. Bukankah itu menyenangkan?" tanyanya pada seseorang di sampingnya.
"Emmm... entahlah, aku sendiri tak tahu apakah mereka merasa demikian," ujar Glory yang kini ikut menatap ke arah langit.
Jeanna mendengus kesal, merasa kurang puas akan jawaban dari Glory. Ia akhirnya memilih membaringkan tubuhnya di atas rerumputan.
"Luna pakaianmu akan kotor nantinya!" ujarnya panik.
"Biarlah, aku hanya ingin istirahat sebentar," dengusnya.
"Jika Luna merasa lelah, kusarankan lebih baik Luna ke kamar saja," bujuknya seraya mengulurkan tangan.
Jeanna mendelik kesal. "Aku tidak mau! Aku juga tak merasa lelah Glory, aku hanya-" Jeanna menjeda ucapannya.
"Ada apa Luna?"
'Aku hanya mencoba untuk tidak bertemu dengan pria itu!'
"Aku hanya ingin menikmati pemandangan saat ini, semilir anginnya membuatku lebih tenang, jadi biarkan aku di sini untuk sementara waktu." Ujarnya.
Jeanna tengah kesal akan sikap Alaric pagi tadi, padahal ia hanya mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Jeanna sangat merindukan rumahnya, keluarganya dan juga teman-temannya di sana.
Padahal pria itu sendiri yang menyruhnya untuk mengatakan kegelisahannya. Tapi setelah Jeanna berkata demikian, raut wajah pria itu mendadak berubah, Alaric terlihat seperti tidak suka akan ucapan Jeanna. Lalu tiba-tiba saja Alaric pergi meninggalkannya entah ke mana.
"Luna..." Suara Glory menyadarkan Jeanna dari lamunannya.
"Ya?"
"Maaf jika aku terlalu ingin tahu, apa Luna sedang ada masalah?"
"Entahlah, aku pun tak tahu apa ini bisa disebut sebagai masalah."
"Apa Luna sedang bertengkar dengan Alpha?" Jeanna menatap Glory dengan lekat. "M-maaf luna jika aku terlalu lancang."
"Bukan aku yang memulainya duluan, pria itu benar-benar menyebalkan!" ujar Jeanna dengan nada tak suka. "Apa salah jika aku mengatakan aku merindukan keluargaku dan juga teman-temanku di sana. Dia sangat tidak peka akan perasaan seorang perempuan!" lanjutnya.
"Ternyata karena itu..." lirih Glory. "Yah kuharap Luna akan terbiasa dengan sikap Alpha yang seperti itu. Emm, apa Luna sudah membaca seluruh isi buku yang kuberikan?"
"Kenapa kau malah bertanya soal buku?"
"Apa Luna tahu? Kami mungkin berbeda dengan manusia di luar sana. Aku sendiri tak tahu bagaimana pola pikir manusia, bagaimana sifat sejati mereka. Yah, aku benar-benar tak tahu apakah yang mereka perbuat itu benar-benar tulus." Glory menghela napas sesaat.
"Yang aku tahu, mereka itu rakus, serakah, licik dan penuh tipu daya. Sejauh ini itu yang aku ketahui tentang manusia. M-meskipun tak semuanya seperti itu, benar bukan?" Glory tersenyum kikuk saat mendapati tatapan tajam dari Jeanna.
"Mungkin di antara kami pun sama seperti itu Luna, tapi jika menyangkut perasaan, kami tak bisa bohong. Saat kami telah menemukan pasangan yang telah moon goddes berikan, semua perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja dan tak dapat dikendalikan. Salah satunya yang Alpha rasakan saat ini, dan setahuku pria memang lebih cenderung posessive Luna."
Jeanna hanya termangu mendengar setiap kata yang Glory ucapkan. "Aku tak mengerti Glory, coba jelaskan secara singkat."
"Apa Luna tak pernah menjalin sebuah hubungan sebelumnya?" dengan polosnya Jeanna menggeleng.
"Oh pantas saja," lirih Glory.
Ia kembali melanjutkan perkataannya. "Baiklah. Jadi singkatnya, Alpha tak ingin berjauhan dengan Luna, mungkin saja ia merasa khawatir jika Luna berada jauh darinya. Jadi Alpha lebih menginginkan Luna berada di sampingnya setiap saat."
Akhirnya Jeanna mengangguk mengerti, rupanya itu alasan Alaric yang selalu melarangnya pergi jauh meninggalkan tempat ini. Apa pria itu sangat menghawatirkan dirinya? Apa benar dirinya sangat berharga bagi Alaric.
"Benarkah begitu?"
"Tentu saja, aku tak mungkin salah Luna." Jeanna mengangguk paham.
"Kau terlihat sangat mengetahui semua hal, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu Luna?"
"Apa kau juga mengetahui soal peperangan?" raut wajah Glory terlihat terkejut akan pertanyaan Jeanna barusan.
"Ah soal itu-"
"Yah ceritakan semuanya!"
____________
Alaric tengah berjalan menyusuri kastil, ia tengah mencari keberadaan Jeanna. Rasa bersalah akan perlakuannya kepada gadis itu terus menganggu pikirannya sejak tadi, hingga pekerjaannya tak dapat diselesaikan.
"Alpha..." tiba-tiba Edward datang menghampirinya.
"Ada apa?"
"Apa Alpha yakin menyuruh Luna melakukan itu?"
"Apa yang kau maksud? Aku bahkan tengah mencarinya sejak tadi, apa kau tahu di mana dia?" raut wajah Beta nya itu terlihat bingung.
"Luna berkata jika Alpha menyuruhnya untuk belajar memanah..."
"APA KAU GILA! MANA MUNGKIN AKU MELAKUKAN ITU." Bentaknya. Alaric mencoba menetralkan emosinya.
"Di mana dia?" ujarnya yang lebih seperti sebuah geraman.
"Dia–sedang berlatih bersama para warrior yang lain," ujar Edward seraya menelan ludahnya kasar, bisa-bisa ia kena hukuman setelah ini.
"KENAPA KAU MEMBIARKANNYA HAH?!" benar saja, sudah pasti setelah ini dirinya kena hukuman.
____________
"Bagaimana cara memegang busurnya, apa seperti ini?" ujarnya seraya melepaskan anak panah ke arah target. "Yah, tidak buruk. Yang penting mengenai sasaran, benar bukan?" terlihat panah tersebut tertancap pada pinggiran papan.
"Yah awalan yang bagus Luna, meskipun hanya mendapat 1 poin," ujar Glory mencoba menyemangati meskipun ia juga terlihat takut, tentu saja ia takut bagaimana jika Alaric melihat ini.
Saat Glory menceritakan soal peperangan tadi, entah angin dari mana tiba-tiba saja Jeanna pergi ke tempat pelatihan dan mengambil busur panah. Tentu saja Glory panik setengah mati.
‘Setidaknya aku bisa berjaga-jaga nanti,’ itulah yang dikatakan Jeanna tadi.
"Luna sebaiknya latihannya sampai sini saja, kau pasti sangat lelah bukan?" Glory mencoba membujuk Jeanna.
"Yang benar saja aku bahkan baru mulai Glory. Jika kau lelah, kau masuk saja duluan aku akan menyusul nanti."
Mana berani ia meninggalkan Jeanna di sini dan masuk ke dalam kastil seorang diri, bisa-bisa Glory dihukum gantung oleh Alaric jika ia mengetahui hal ini. Dan benar saja, kegelisahannya sejak tadi benar terjadi.
Ia melihat sosok Alaric dari kejauhan tengah melangkah kemari, raut wajahnya terlihat begitu menyeramkan saat ini. Rahangnya terkatup dengan kuat, semua yang berada di tempat ini seketika diam tak berkutik.
"Ayolah kenapa kalian hanya diam saja, ajarkan aku bagaimana cara menggunakan ini!" ia menatap ke arah Glory, gadis itu terlihat seperti memberikan sebuah isyarat.
"Sedang apa kau di sini?!" seketika mereka semua tertunduk takut mendengar suara itu.
›Biar updatenya makin rajin, follow akun ini dulu dong, dan pastiin kalian Vote di setiap BAB nya, Oke guys👌
» Jangan lupa kasih Vote & Komen sebanyak banyaknya ya, thx u
{ 13-08-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
