Tandain kalau ada typo ya guys :)
Akhirnya Jeanna sampai juga di rumahnya. Gadis itu terdiam sejak tadi, merasa aneh, sejak kapan Alaric bisa mengemudikan mobil. Dan lagi, dari mana pria itu mendapatkan uang untuk membeli sebuah mobil dengan harga yang, yah lumayan mahal.
“Ada apa?” tanya Alaric saat melihat kerutan di dahinya.
“Dari mana kau mendapatkan uang, apa kau-”
“Kau tak perlu memikirkan hal itu, calon suamimu ini bukan orang sembarangan.” Jeanna langsung menatap tajam kearah Alaric, ia hendak protes namun suara klakson dari mobil ini mengalihkannya.
“Hey, sopan sedikit!”
“Kenapa? Aku hanya menyuruh seseorang untuk membukakan gerbang.”
Jeanna berdecak kesal. “Tapi tak perlu berkali-kali seperti itu bisa kan?” Alaric mengedikan bahu acuh, lagi-lagi Jeanna hanya bisa mendengus kesal.
Tak lama gerbang rumahnya terbuka, Mba Nunu, pembantu di rumahnya itu yang membukakan gerbang tersebut. Alaric segera memarkirkan mobilnya menuju halaman rumah Jeanna, setelahnya mereka berdua turun dari mobil.
“Kinclong amat neng mobilnya” ujar Mba Nunu, pandangannya masih setia menatap ke arah porche silver itu.
“Baru beli ya? Pasti mahal ya neng?” tanyanya lagi.
“Iya kali Mba, Jeje juga gak tau.”
Pembantunya itu malah tersenyum jahil ke arahnya. “Pacar ya neng? Atau calon suami? Pokoknya mah jangan lupa nanti Mba teh diundang yah!” ucapnya begitu antusias.
“Apa sih Mba, udah gih masuk di panggil Mama tuh!”
“Iya deh neng, Mba gak ganggu kok,” ia pun segera masuk ke dalam rumah, menyisakan Jeanna dan juga Alaric.
“Kalau begitu aku masuk ya,” Alaric mengangguk, namun saat Jeanna masuk ke dalam rumah kenapa pria ini mengikutinya?
“Kau mau ke mana?”
“Masuk,” Jeanna mengernyit, apa maksud Alaric?
“Masuk ke rumahku?” Alaric kembali mengangguk. “Untuk apa?” tanya Jeanna penuh selidik.
Alaric tersenyum. “Meminta restu”
_____________
‘Kira kira Papa sama Alaric ngobrolin apa ya? kok lama banget sih!’
Sejak tadi Jeanna tak bisa tenang, tentu saja ia sangat terkejut saat Alaric tiba-tiba ingin menemui orang tuanya dan berkata jika ia ingin meminta restu padanya. Dan tentunya pria itu tak main-main dengan ucapannya.
“Dikira gampang apa minta restu sama bokap gue...”
Olivia menghampiri Jeanna yang tengah duduk di sofa, ia melirik ke arah kaki Jeanna yang terus bergerak seperti orang gelisah. “Kau, kenapa?”
Jeanna segera mendekat ke arahnya. “Oliv, bagaimana ini, Alaric dia-”
“Oh ya, aku melihat dia di teras rumah sedang mengobrol dengan Papa, sepertinya obrolannya sangat seru hingga membuat mereka saling tertawa.” Jeanna menganga, ia tak percaya akan ucapan Olivia.
“Benarkah? Bagaimana bisa?”
“Apa sejak tadi kau mengkhawatirkan soal itu?” Jeanna mengangguk. “Tenang saja Je, sepertinya Alaric berhasil merebut hati Papamu itu!” Olivia tersenyum ke arahnya.
“Tapi soal Mama, sepertinya ia terkejut saat mendengar percakapan Papa dan Alaric. Mungkin setelah ini kau akan diintrogasi,” ujarnya lagi.
Jeanna mendesah keras, pasti setelah ini akan ada banyak sekali pertanyaan yang akan orang tuanya berikan.
Setelah beberapa lama Jeanna menunggu, akhirnya sang Papa masuk, namun ia hanya sendirian, di mana Alaric?
“Ngobrolnya udah selesai Pa?” tanya Jeanna.
David mengangguk. “Alaric mana, Udah pulang?”
“Udah, baru aja.”
Jeanna mengangguk mengerti. “Emm, kalau gitu, Jeje ke kamar ya.” Ucapnya dengan terbata-bata.
“Ehh nanti dulu, tuh Mama mau ngomong sama kamu.” Jeanna menatap ke arah Mamanya yang baru saja keluar dari kamarnya.
Fara menyuruh Jeanna kembali duduk di sofa, ia pun ikut duduk di samping anaknya itu. “Kenapa kamu gak pernah cerita sama Mama kalau kamu kenal Alaric udah lama?”
“Soal itu Jeje...”
“Kamu udah yakin untuk seriusin hubunganmu sama Alaric? Kamu itu baru aja lulus Je, perjalanan kamu masih panjang. Kamu juga janji sama Mama kalau kamu bakal jadi sarjana muda dan jadi lulusan terbaik!”
Jeanna tak tau apa saja yang Alaric ucapkan pada orang tuanya, ia juga tak mengira Mamanya akan berbicara seperti ini.
“Ma, dengerin Jeje dulu. Jeje sama sekali gak ngerti kenapa Mama ngomong kayak gini, dan soal masalah itu Jeje juga gak nyangka kalau Alaric bakal ketemu sama Mama Papa dan bahas masalah ini,” jelasnya.
Fara terdiam sesaat, ia menghela napasnya gusar. “Mama cuma gak mau kamu salah ambil langkah Je,” setelahnya Fara bangkit dari duduknya lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Seketika raut wajah Jeanna berubah menjadi muram saat melihat ekspresi gusar Mamanya. Apa mungkin Fara merasa keberatan akan hubungannya? Lalu bagaimana hubungan mereka kedepannya, haruskah Jeanna berpikir dua kali mengenai hubungannya dengan Alaric?
“Tenang aja, Mama cuma butuh waktu, percaya sama Papa!” David sudah menduga bagaimana reaksi istrinya nanti.
Sebenarnya Fara sama sekali tak merasa keberatan akan hubungannya, hanya saja setelah Fara mendengar jika Jeanna nantinya harus ikut bersama dengan Alaric dan tinggal keluar negeri, membuatnya berpikir dua kali.
Wanita yang berumur 42 tahun itu tak rela jika anak perempuan kesayangannya itu pergi meninggalkannya begitu saja, apalagi itu sangat jauh. David memeluk anak kesayangannya itu, seakan merasa ini adalah moment-moment terakhir yang akan ia rasakan bersama anaknya sebelum Jeanna nantinya benar-benar pergi meninggalkannya.
“Kenapa muka Papa jadi melow gitu sih?!”
“Masa sih? Enggak kok,” ia semakin mengeratkan pelukannya pada pundak Jeanna. “Papa cuma titip pesan sama kamu, kalau suatu saat kalian udah jadi pasangan suami istri dan tinggal jauh dari sini, jangan lupain keluarga ya, tetep mampir ke sini walaupun cuma setahun sekali. Yang penting Papa sama Mama masih bisa liat kamu secara langsung.”
Jeanna seketika menatap kearah Papanya. “Tuh kan! Jeje mau tanya, tadi Alaric ngomong apa aja sama Papa Mama?” tanya Jeanna penuh selidik.
“Apa aja ya, Papa lupa sangking banyaknya. Yang Papa ingat, Alaric bilang kalau kamu itu anak perempuan paling ceroboh, cerewet, gak bisa nurut kalau diomongin dan juga, sok jagoan. Gitu katanya.”
‘Kurang ajar tu anak, bisa-bisanya jelek-jelekkin gue di depan ortu gue sendiri. Apa perlu gue ceritain kelakuannya itu yang suka bikin kesel orang-orang.’
“Tapi karena sifat kamu yang kayak gitu tuh bikin dia makin tertarik sama kamu, katanya sih gitu. Alaric bilang kamu itu spesial buat dia, itu yang bikin dia gak mau lepasin kamu. Bahkan kalau pun nantinya Mama sama Papa gak kasih restu, dia akan tetep nungguin kamu dan terus coba buat dapetin restu dari Mama Papa. Yaa Papa salut si sama perjuangan tu anak buat dapetin kamu.”
Seketika Jeanna merasa tersentuh saat mendengar penjelasan dari Papanya, ia tak menyangka Alaric akan seserius itu. “Emang bener Pa? Papa gak ngada-ngada kan?”
“Ngapain Papa bohong, kalo gak percaya tanya langsung aja sama cowokmu itu!” Jeanna mendengus salah tingkah.
›Nyari modelan Alaric gini di mana ya 😭
»Sebelum lanjut jangan lupa Vote & Komen, thx u 😙
{ 13-11-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasíaJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
