Tandain kalau ada typo ya guys :)
Seharian penuh Alaric hanya berkutik dengan laptopnya dan juga tumpukan dokumen di meja kerjanya. Kini ia sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Tentu saja itu semua berkat Bella, gadis itu yang mengajari Alaric dan mengurus semua keperluan Alaric selama di sini.
Dari mulai mengajarkan Alaric bagaimana cara berinvestasi, membuka perusahaan atas namanya, menjelaskan apa saja yang harus ia kerjakan, membantunya mencairkan dana dengan menjual beberapa emas dan berlian yang ia bawa dari kastil. Tentunya itu hanya sedikit dari sekian banyak harta yang Alaric miliki, dan yah, kini Alaric berhasil menjadi pengusaha sukses dalam waktu singkat.
Dan lagi, jangan lupakan seseorang yang sangat berjasa di balik itu semua. Arabella griselda darker, ia yang telah membantu mewujudkan keinginan Alpha menyebalkan itu!
"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Bella, ia merasa heran melihat raut wajah Alaric yang sedari tadi tersenyum tidak jelas. Tidak seperti biasanya yang selalu terlihat datar tanpa eksresi.
Pria itu tengah mengingat kembali ucapan David-papa Jeanna saat mereka mengobrol bersama.
Alaric mengulum senyumnya. "Aku akan melanjutkan ini semua nanti," ia beranjak dari tempat duduknya.
"Kau mau ke mana?"
"Menemui seseorang," Bella merentangkan tangannya mencoba menghalangi Alaric.
"Selesaikan ini dulu baru setelahnya kau bebas melakukan apa pun." Alaric mendengus tak suka, ia hendak berucap namun Bella lebih dulu melanjutkan ucapannya.
"Lagi pula sekarang dia sedang bersama teman-temannya dan kau sebaiknya jangan mengganggunya!" ujar Bella lagi, seakan tahu jika Alaric ingin menemui Jeanna.
Mendengar ucapan Bella barusan membuat Alaric mengingat dua lelaki itu. Apa Jeanna juga tengah bersamanya? Ia pun segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Jeanna.
"Iyaa, ada apa Alaric?"
"Di mana kau sekarang dan sedang bersama siapa saja?"
"Aku ada di rumah Sera, tentu saja dengannya."
"Kau tak berbohong lagi kan? Bagaimana dengan kedua lelaki itu?"
Apa Alaric diam-diam mengawasinya? Kenapa pria itu mendadak mencurigainya seperti ini?
Jeanna menghela napasnya. "Iyaa, mereka juga di sini."
"Aku tak suka jika kau berdekatan dengannya, suruh mereka pulang atau aku akan menghampirimu sekarang juga!" ancamnya.
"Iyaa baiklah aku akan menyuruh dua lelaki ini pulang nanti!"
"Kuharap kau tak bohong, karena aku tengah mengamatimu dari jauh!" rupanya Jeanna percaya akan ucapan Alaric, padahal pria itu hanya membual.
Setelah mengakhiri panggilannya itu Alaric kembali duduk di kursi kerjanya, menatap ke arah banyaknya dokumen yang harus ia isi. Jika saja beta-nya itu ada di sini, mungkin pekerjaan Alaric akan lebih cepat terselesaikan.
____________
Dua hari ini Jeanna tak juga bertemu dengan sosok Alaric, Bella bilang pria itu tengah disibuki dengan pekerjaan barunya di sini. Meski pun begitu Alaric tetap saja menghubunginya, menanyakan di mana keberadaannya, apa yang ia lakukan, sedang bersama siapa saja. Sungguh Jeanna sangat risih jika mode possessive Alaric kambuh!
Tiba-tiba ponselnya berdering, Jeanna mendengus kesal "Pasti Alaric!" namun ternyata tebakannya salah.
"Halo Ra, kenapa?"
"Lo gak lupa kan nanti malam ke acara ultah sepupu gue?" hampir saja ia melupakan yang satu ini, untungnya Sera mengabarinya.
"Iyaa gue dateng kok Ra."
"Oke, jangan lupa dandan yang cantik, pakai baju yang bagus ya Je. Soalnya gue mau ambil foto kita berempat buat dijadiin kenang-kenangan."
"Iya, nanti gue pake kebaya deh sekalian."
Sera terkekeh. "Yaudah kalau gitu gue mau ngabarin Riko sama Kevin, daah Je..." Panggilan pun berakhir.
Jeanna berjalan ke arah lemari bajunya, kira-kira apa yang harus ia kenakan nantinya? "Gak mungkin dong gue beneran pakai kebaya!" suara ketukan pintu mengalihkan atensi Jeanna, ia segera berjalan ke arah pintu kamarnya.
"Je, aku akan keluar bersama Stefen, Papa dan Mama juga sepertinya akan pulang malam, kau sendirian di rumah tidak apa-apa kan?" tanyanya.
"Oh, ya tentu," ujarnya mengangguk, Olivia segera beranjak menuruni anak tangga.
"Emm Olive..." Panggil Jeanna sebelum Olivia benar-benar turun. "Aku hanya ingin meminta pendapatmu, menurutmu apa yang harus kukenakan untuk datang ke acara birthday party?"
"Apa kau akan pergi malam ini?" Jeanna mengangguk.
"Kusarankan untuk menggunakan dress, aku bahkan tak pernah melihatmu menggunakan dress, Je. "
"Ya, karena aku tak menyukainya!" Jeanna mendengus. "Hampir seluruh isi lemariku dipenuhi dengan celana, mungkin ada beberapa dress tapi aku tak menyukai modelnya, apa aku perlu membeli yang baru?"
Olivia tampak diam sesaat. "Sepertinya ukuran bajumu sama denganku."
____________
Malam ini Jeanna bersiap menuju rumah sepupu Sera, ia membuka ponselnya untuk mengabari temannya lebih dulu. Jeanna melihat sekilas pada chat terakhir dari Alaric, pria itu tak menghubunginya seharian ini, tumben sekali.
"Kau sudah siap?" Jeanna mengangguk ke arah Olivia. Karena mobilnya akan di pakai oleh Stefen, sekalian saja Jeanna menumpang, lagi pula tempatnya tak terlalu jauh.
Setelah beberapa menit di perjalanan, Jeanna akhirnya sampai di depan rumah temannya itu. Terlihat beberapa orang berdatangan menuju rumah Sera, cukup ramai dan Jeanna menjadi canggung karena ia sama sekali tak kenal siapa pun di sini.
Ia melihat ke arah seseorang yang menggunakan dress berwarna coklat, Jeanna segera berlari kecil menghampirinya.
"Woy, gue cariin dari tadi!" ucap Jeanna.
"Jeanna? Ya ampun temen gue beda banget. Jangan bilang lo mendadak beli dress baru," Sera masih meneliti Jeanna dari atas sampai bawah. "Siapa yang dandanin lo Je? Atau, lo ke salon ya?"
"Ngapain mesti ke salon, ini semua karya Olivia," Jeanna memutar tubuhnya. "Gue minjem dress punya kakak ipar, gimana cocok gak?"
Sera mengacungkan kedua jempolnya. "Parah sih!" ia menggelengkan kepalanya. "Eh kita kumpul sama yang lain yu, mereka ada di sana!" Jeanna pun berjalan mengikuti Sera.
"Guys karena Jeanna udah dateng, kita langsung ambil gambar yu! Mumpung make up gue masih bagus nih."
Riko dan Kevin menoleh secara bersamaan, ia tak menghiraukan ucapan Sera. Tatapannya terfokus pada Jeanna, mereka berdua memandang Jeanna dengan tatapan memukau.
"Woy! Mata lo mau keluar tuh!" ujar Jeanna menjentikkan jarinya. "Napa liatain gue sampai bengong gitu? Kaya gak biasanya aja."
"Gimana gak spechless kita, lo beda banget malam ini Je." ucap Kevin jujur.
Riko pun mengangguk setuju "Kalau gini gue percaya lo Jeanna, bukan Jenab!"
"Apaan lo main ubah nama gue seenaknya!"
"Udah ah gak penting, sekarang mending kita foto, yuk!"
Dan akhirnya mereka pun mengambil beberapa foto, lalu setelahnya mereka menikmati suasana party dan bermain game sambil sesekali bercanda ria. Hingga Jeanna tak menyadari ponselnya berdering sejak tadi.
»Jangan lupa pencet bintangnya, komen juga yang banyak!
Thx u...
{ 17-11-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
