Saat wajah Alaric semakin mendekat, tiba-tiba tangan Jeanna langsung menangkis kedua tangan Alaric yang berada di wajahnya.
"Hoaaam..." Jeanna pura-pura menguap sambil menjauhkan dirinya dari Alaric. Ia pun berdiri dari pangkuan Alaric.
"Sepertinya aku mengantuk, jadi aku akan ke kamar saja." Alaric mendengus kesal.
Sial! Padahal tinggal sedikit lagi, batinnya.
Jeanna segera berlari keluar ruangan, untung saja tadi dirinya sempat menghindar. Bisa-bisanya pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan!
"Kenapa gue deg-degan gini ya?" ujarnya saat tengah berjalan mencari keberadaan kamarnya. Tangannya terus menyentuh dadanya karena tiba-tiba jantungnya berdetak begitu cepat.
"Aduh gue lupa!" ujar Jeanna menepuk jidatnya. "Gue kan gak tau di mana letak kamarnya, mana luas banget lagi ni tempat."
Jeanna melihat salah seorang maid tengah berjalan ke arahnya, mereka menunduk hormat ke arah Jeanna. Tunggu, kenapa ia harus menunduk hormat padanya?
"Untunglah aku bertemu dengan seseorang, apa kau bisa menunjukkan letak kamarku?"
"Tentu saja Luna. Mari, aku akan mengantarmu." Ujarnya dengan nada yang teramat sopan, Jeanna mengikuti maid tersebut dari belakang.
"Namaku bukan Luna, aku Jeanna. Kau pasti salah dengar mengenai namaku." Ucap Jeanna mencoba memberi tahu.
"Tentu saja itu panggilan khusus untukmu Luna" ujarnya membalas perkataan Jeanna.
"Yang benar saja...," lirihnya. "Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Panggil saja aku Glory," balasnya seraya tersenyum ke arah Jeanna, ia mengangguk mendengar ucapan Glory.
"Emmm, sepertinya kita seumuran, benar tidak tebakanku?" Glory tersenyum sambil mengangguk.
"Ini kamar anda Luna." Glory berhenti tepat di depan sebuah pintu. "Apa ada hal lain yang bisa kubantu?"
"Ah tidak ada, aku ingin beristirahat di dalam kamar." Glory mengangguk paham, ia pun menunduk hormat ke arah Jeanna lalu berlalu pergi meninggalkannya.
_____________
Sudah satu minggu Jeanna berada di tempat ini, terkadang ia menghabiskan waktunya bersama Glory. Saat Jeanna merasa bosan, Glory mengajaknya untuk mengelilingi tempat ini, melihat beberapa ruangan yang berada di dalamnya.
Dan sepertinya Jeanna mulai hafal isi di dalam kastil yang luas ini. Saat ini dirinya tengah berada di perpustakaan bersama Glory. Soal Alaric, entahlah sepertinya ia sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Mengajaknya mengobrol pun hampir tak pernah, mungkin hanya beberapa kali Alaric datang menemuinya untuk makan bersama. Sebenarnya ia cukup penasaran, apa yang tengah pria itu kerjakan sebenarnya.
"Glory..."
"Ya luna?"
"Apa kau bisa menceritakan padaku semua tentang kalian? Maksudku, tentang werewolf." Jeanna memelankan suaranya di akhir kalimat.
Glory tersenyum simpul, ia begitu senang memiliki Luna seperti Jeanna. Karena sikap Jeanna yang begitu ramah kepada setiap penghuni kastil. Sangat jarang seorang maid bisa terlihat akrab dengan majikannya, namun Jeanna justru memperlakukan Glory layaknya seorang teman. Bahkan ia menyuruh Glory untuk bersikap tak terlalu kaku padanya.
"Apa aku menyinggung perasaanmu?" tanyanya lagi.
"Tentu saja tidak Luna. Aku sama sekali tak tersinggung," sangkalnya cepat.
"Kalau kuceritakan, apa Luna akan langsung mengerti?" ujarnya lagi, Glory bergerak ke sebuah rak buku, ia mengambil sebuah buku lalu di berikan kepada Jeanna.
"Jadi kusarankan luna membaca ini sampai akhir." Jeanna mengambil buku tersebut.
"Yang benar saja, ini lumayan tebal. Aku tak mungkin bisa membacanya hingga akhir!" ujarnya sambil memperhatikan buku tersebut dengan seksama.
"Kalau begitu cukup baca beberapa saja, tapi aku yakin Luna pasti akan terus membacanya hingga akhir." Ujarnya begitu yakin.
"Ya baiklah, akan kucoba."
_____________
Di sisi lain, Alaric terus disibuki oleh pekerjaannya. Belum menjadi raja saja sudah sangat sibuk, ia bahkan tak memiliki waktu luang untuk berduaan dengan matenya.
Saat ini Alaric berada di ruang bawah tanah tepatnya ia tengah berada di sel tahanan. Rupanya Betanya itu berhasil menangkap salah satu vampir yang telah membuat onar di wilayahnya saat itu.
Rantai panas itu terus dicambukkan pada tubuh vampir di hadapannya, sedangkan Alaric, ia hanya menatap diam ke arahnya. Suara rintihan kesakitan terus bergema di sepanjang ruang tahanan.
"Apa kau berubah pikiran?" Alaric menyuruh warriornya untuk berhenti sejenak.
"Bunuh saja aku!" ujarnya pasrah.
"Aku memang akan membunuhmu, tapi tak secepat itu." Alaric mendekat ke arahnya.
"Katakan, siapa di balik semua ini!"
ucapnya dengan seksama. "Ah, sepertinya seseorang bisa membantumu untuk berbicara."
Seorang warrior lain terlihat tengah membawa seorang gadis berambut pendek dengan kulit pucatnya, ia begitu terlihat ketakutan berada di ruangan ini. Sedangkan vampir itu, ia tak kalah terkejut, bagaimana bisa Alaric menemukan kekasihnya dengan mudah.
"Tentu saja aku bisa melakukan apa pun dengan mudah, apa kau lupa siapa aku?" ujarnya seolah tahu akan apa yang tengah vampire itu pikirkan.
"Jadi, bagaimana? Apa perlu dia merasakan seperti apa yang kau rasakan saat ini, hm?"
"Lepaskan dia! Dia sama sekali tak ada hubungannya denganku."
"Kalau begitu cepat katakan! Aku tak suka berbasa-basi." Ujar Alaric dengan geram, vampir itu terlihat diam sesaat, hingga akhirnya ia menyerah.
"Itu perintah darinya. Dia, telah bangkit dari tidur panjangnya." Ucapnya seraya menghela napas.
"Siapa yang kau maksud itu?"
"Apa kau melupakan sosoknya? Setelah puluhan tahun lamanya ia berada di peti mati itu, kini ia di bangkitkan kembali oleh sang Raja."
Alaric akhirnya teringat akan sosok yang dimaksud tersebut, sosok pangeran vampir yang berhasil ayahnya bunuh pada saat itu. Kini ia bangkit kembali, bagaimana bisa itu terjadi.
"Lucius..." Lirih Alaric.
»Jangan lupa Vote & Komennya ya, thx u
{ 24-07-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
