Jauh dari belahan dunia lain, tepatnya di benua Eropa. Seorang lelaki dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang datar, sebentar lagi dirinya akan diangkat menjadi seorang raja, menggantikan takhta sang ayah.
Ia merupakan putra sulung dari Queen Azura dan King Arthur. Yah, dirinya sebentar lagi akan menjadi penerus takhta orang tuanya itu, menjadi seorang pemimpin untuk rakyatnya. Lebih tepatnya ia akan menjadi seorang raja dari seluruh kaumnya, werewolf.
Kingdom of darker, sebuah pack terkuat bagi kaum werewolf, terkenal akan seorang Rajanya yang begitu tegas namun bijaksana. Tak hanya bagi kaum werewolf, makhluk immortal lain pun sependapat, siapapun yang berurusan dengan pack itu, maka ia akan berakhir tragis.
Dan kini, pack itu akan diambil alih oleh anak lelakinya. Mungkin jika dilihat dari segi parasnya saat ini, usianya mirip seperti manusia yang berumur 25 tahun. Meski kenyataannya ia telah hidup hampir satu abad.
Sifat ayahnya yang tegas itu menurun padanya, namun ia sedikit berbeda dari sang ayah. Mungkin beberapa orang menganggap dirinya lebih kejam dan tak berperasaan, ia tak pernah kenal ampun dalam memberikan hukuman.
Di satu sisi, ia terlihat seperti tengah melampiaskan seluruh amarahnya. Sang Ratu pun merasakannya, ia sendiri tak tahu apa yang tengah terjadi dengan putra sulungnya itu, namun ia hanya bisa berharap seseorang bisa mengubah sifat kejam dan arogannya yang telah mendarah daging selama ini, semoga saja.
"Dimana kau saat ini...," lirih seseorang.
_______________
Jeanna terbangun dari tidurnya dengan terlonjak, ia tertidur di meja belajarnya dengan buku yang masih terpegang.
"Hoaam... cuma mimpi ternyata," ucapnya di sela-sela menguap.
Jeanna menaruh buku tersebut di atas meja dan berjalan ke arah kasurnya, ia berniat melanjutkan tidurnya kembali.
"Tumben banget gue mimpi sejelas itu. Biasanya kalau gak jelas, ya... lupa pas bangun." Jeanna yang kini tengah duduk di pinggir kasur mencoba mengingat kembali tentang mimpinya itu.
"Apa karena buku itu ya?"
"Bisa-bisanya gue mimpi diterkam serigala, hih ngeri amat dah!" ia pun mencoba untuk melupakan tentang mimpi buruknya dan beralih merebahkan tubuhnya di kasur, lalu melanjutkan kembali tidurnya yang sempat tertunda.
________________
Jeanna tengah menyantap sarapan paginya di meja makan, kali ini tidak hanya dengan orang tuanya saja, namun Stefen dan Olivia pun ikut makan bersama dengannya.
"Jeanna!" ujar David ketika Jeanna memainkan sendoknya, tak berniat untuk segera menuntaskan makannya. "Lihat jam berapa sekarang! Kalau nanti kesiangan jangan salahin Papa ya." lanjutnya memperingati.
"Hmm...," balas Jeanna singkat. Jeanna saat ini sedang tidak mood untuk dicajak bicara, ia sangat kesal dengan orang tuanya itu.
Bagaimana tidak? Saat Jeanna keluar dari kamarnya hendak menuju meja makan, tiba-tiba saja dirinya mendengar sang papa yang tengah menelepon salah seorang gurunya, dan ucapan David itu sukses membuat Jeanna kesal setengah mati.
******
"Iya, saya mengerti Bu. Tapi saya sendiri tidak yakin jika Jeanna bisa ditinggal oleh orang tuanya..."
'Papa ngomong sama sapa sih?'
batinnya yang kini tengah menguping pembicaraan orang tuanya itu.
"Sekali lagi terimakasih atas pengertiannya ya Bu. Nanti siang saya akan mengurus berkas anak saya untuk perpindahan sekolahnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
