Bag 38. Ritual kebangkitan

20.4K 1.5K 18
                                        

Tandain kalau ada typo ya guys :)

Langkah Alaric terhenti saat mendengar suara motor di depan rumah Jeanna, disusul suara gerbang yang terbuka. Alaric dibuat terkejut saat mengetahui kedatangan Jeanna. Perasaan Alaric yang mulanya senang, berubah begitu saja saat melihat Jeanna tengah bersama dengan seorang pria.

Ditambah lagi sebuah bunga yang Jeanna pegang, Alaric tak suka melihatnya! Ia pun segera mendekat ke arah Jeanna, terlihat raut keterkejutan dari wajah gadis itu. Dan tanpa sadar Jeanna menjatuhkan bucket bunganya.

Alaric menarik tangan Jeanna untuk mendekat padanya, seakan tengah menyiratkan perasaan tak sukanya saat Jeanna berdekatan dengan sosok pria di sampingnya itu. Sedangkan Jeanna, ia hanya diam mematung sejak tadi. Dengan matanya yang masih setia memandangi wajah Alaric, seakan tak percaya jika Alaric berada di hadapannya saat ini.

'I-ini gak mungkin! Apa gue halusinasi? Tapi, kenapa ini terasa nyata!'

Tiba-tiba Jeanna memeluk pria yang tengah mencekal tangannya ini. Ia memeluk Alaric dengan sangat erat, seakan ingin memastikan jika sosok di sampingnya ini nyata. Alaric yang semula hendak mengeluarkan kata-kata ia urungkan, ia terkejut saat Jeanna tiba-tiba memeluknya.

Alaric pun membalas pelukan Jeanna. Dan hal itu membuat Jeanna yakin jika sosok pria ini benar-benar Alaric! Dari kejauhan Bella tampak mendengus kesal, ia berjalan ke arah dua orang yang saling berpelukan itu.

"Maaf kalau ini mengganggumu." Bella menatap ke arah Zeyn yang terlihat sedikit kebingungan.

Akhirnya Jeanna tersadar, ia segera melepas pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Alaric. Jeanna beralih menatap Zeyn, saat dirinya hendak berjalan ke arah kakak kelasnya itu, Alaric lebih dulu menarik pinggangnya agar tak mendekat ke arah Zeyn.

"Jangan coba-coba menjauh dariku lagi!" ujarnya penuh penekanan.

Jeanna menatap Alaric jengah, ia melupakan soal Alaric yang teramat sangat posessive! Dan itu pula yang membuatnya semakin yakin jika pria di hadapannya ini benar-benar sosok Alaric yang ia kenal. Ia kembali beralih menatap ke arah Zeyn.

"Kak, kayaknya-"

"Gue langsung balik aja," ujar Zeyn disusul dengan sebuah senyuman yang tentu saja membuat Alaric semakin panas. Beraninya pria itu tersenyum ke arah matenya, itulah yang ada di benaknya.

"Gak papa? " tanya Jeanna, Zeyn mengangguk, ia pun kembali menyalakan motornya.

"Gue pulang ya, titip salam aja buat Stefen." Jeanna mengangguk mengiyakan, Zeyn pun menjalankan motornya berlalu meninggalkan rumah Jeanna.

"Kita masuk!" ujar Alaric singkat. Sepertinya pria ini terlihat kesal, dilihat dari raut wajahnya yang seperti itu. Ah Jeanna lupa! Sejak dulu raut wajah Alaric memang seperti itu, datar.

_____________

"Jadi, kau yang datang ke kastil dan membawa Jeanna pergi?"

Ben mengangguk saat Bella bertanya demikian. Mereka semua tengah berkumpul di ruang tamu, di rumah Jeanna untuk membicarakan suatu hal.

"Aku lebih dulu mengetahui rencana Lazarus, Alaric!" tambahnya.

"Memangnya kenapa denganku, kenapa mereka begitu mengincarku?" tanya Jeanna yang kini dilanda kebingungan.

"Karena darahmu berharaga Je, kau lahir tepat saat bulan purnama merah bukan?" jawab Bella.

"Aku? Entahlah, emang iya Kak?" kali ini Jeanna beralih menatap Stefen, dilihatnya pria itu mengangguk padanya.

"Memangnya apa yang akan mereka lakukan denganku?" tanya Jeanna lagi.

"Ritual kebangkitan, Lazarus mencoba membangkitkan Lucius dengan darahmu," kali ini Ben yang menjawab.

"Tapi dari mana Lazarus mengetahui jika Jeanna adalah gadis yang lahir saat bulan purnama merah?" Olivia tampak berfikir keras.

Ben menghela napas kasar. "Aku yang mengatakan itu pada Lazarus," seketika semua mata tertuju padanya, dan tentu saja suasana di tempat ini semakin memanas.

"Maafkan aku Vi..." Ujarnya pada Victoria. Dan ucapan Ben itu sukses membuat amarah Alaric kembali muncul, pria itu bangkit hendak menyerang Ben, untung saja Jeanna lebih dulu menahannya.

"Tetap diam di sini!" ucap Jeanna pada Alaric.

Victoria tampak tak peraya akan ucapan kekasihnya itu. "Jelaskan padaku dengan sebenar-benarnya!"

Ben menundukkan kepala. "Itu semua karena kebodohanku dulu, kejadian perang yang menewaskan Lucius juga ikut menewaskan orang tuaku,"

"Jadi kau menyimpan dendam pada kaumku?" tanya Alaric dengan nada sarkasnya.

"Diam, kita perlu mendengar lanjutannya Alaric!" Alaric mendengus kesal saat Jeanna memarahinya, bukankah seharusnya ia marah pada Ben.

Jeanna menatap ke arah Ben seakan memberi isyarat untuk melanjutkan penjelasannya.

"Lazarus mengatakan jika kaummu telah membunuh orang tuaku hingga jasadnya tak tersisa, aku dibutakan oleh dendamku pada kaummu, aku menuruti semua perintah raja vampir itu. Termasuk rencana Lazarus untuk membangkitkan Lucius, dan tentu saja itu membutuhkan darahmu, Je."

"Jadi kau berencana untuk mengorbankan adikku?" tanya Stefen tak percaya.

"Awalnya seperti itu, tapi setelah mengetahui rencana Lazarus tak seperti dugaanku, aku tak lagi menjadi bagiannya. Untung saja seseorang memberitahuku tantang hal ini. Selama ini Lazarus hanya membual, dan sepertinya kematian orang tuaku adalah ulahnya, dia memaksa kedua orang tuaku untuk ikut berperang dengan mengancam akan membunuhku."

"Bagaimana caramu mengetahui jika Jeanna adalah gadis yang lahir saat bulan purnama merah? Bukankah para vampir perlu merasakan dengan cara mencicipinya?" tanya Bella dengan begitu penasaran.

"Ya kau benar. Aku sudah mengikuti Jeanna sejak kecil, apa kau ingat sewaktu kau terjatuh dari sepeda dulu Je?"

"Yaa," ujar Jeanna sedikit ragu. "Tunggu, apa itu kau? Kau yang mengobati lenganku?" Ben mengangguk iya. "Wah kau sama sekali tak menua, oh astaga aku melupakan tentang siapa dirimu." Jeanna menepuk jidatnya.

"Seharusnya kau sadar saat aku meniup luka pada lenganmu," ujar Ben tersenyum ke arahnya.

"Apa kau mencicipi darahku saat itu?" ujar Jeanna tak percaya, ia menatap ke arah lengan kirinya yang dulu sempat terluka karena terjatuh dari sepeda.

"Beraninya kau melakukan itu pada milikku!" Alaric kembali bangkit dan langsung mencengram kerah baju Ben dengan sangat kuat.

Jeanna terkejut saat melihat Alaric yang kini sudah berpindah tempat, gerakan Alaric begitu cepat hingga ia sendiri tak menyadarinya. Jeanna segera mendekat ke arah pria itu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Alaric lepaskan!" seakan tuli, Alaric malah melayangkan tangannya hendak memukul Ben.

"HENTIKAN ALARIC AKU INGIN BERBICARA PADAMU SAAT INI JUGA!" untung saja tangan Alaric belum mengenai Ben.

"Apa?" ujarnya seakan tak terima Jeanna menghentikan aksinya.

"Kita harus bicara, berdua!" ucap Jeanna dengan penuh penekanan, setelahnya Jeanna menarik Alaric untuk menjauh dari yang lain.

"Ah rupanya selama ini kau dan anak buahmu itu mengawasi Jeanna?" ujar Bella seraya mengangguk paham.

"Apa maksudmu? Aku hanya melakukannya seorang diri!"

"Aku melihat yang lainnya, mereka juga ikut mengawasi Jeanna. Tapi tak hanya itu, mereka juga mengacau di sini!" timpanya.

Ben mengusap wajahnya kasar. "Sepertinya vampire yang lain pun mengetahui soal siapa Jeanna."





Siapa yang kangen berat sma Alaric nih 😣 tapi kenapa ni anak sensian amat ya? Marah marah mulu heran dah

Seperti biasa mau mengingatkan,

»JANGAN LUPA VOTE & KOMEN, Thx u

{ 17-10-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang