“AKU TIDAK MAU IKUT DENGANMU, TURUNKAN AKU PRIA ANEH!” sejak dari tadi Jeanna hanya bisa berteriak sambil sesekali memukul punggung pria yang kini tengah membopongnya.
“Aku hanya ingin pulang ke rumah...” Ujarnya dengan nada memelas.
“Sebentar lagi kita akan sampai di rumah.” Balasnya singkat.
“Bukan rumahmu, tapi rumahku! Aku ingin pulang ke negaraku!” ujar Jeanna dengan nada menyolot.
“TURUNKAN AKU! HEY, APA KAU TULI?”
Alaric tak menggubris ocehannya, ia terus melanjutkan langkahnya menuju kastil. Tetapi seseorang tiba-tiba mencegat langkahnya, membuat emosinya kembali muncul.
“Tidak ada waktu untuk perpisahan. Jadi menyingkirlah, aku akan membawanya sekarang juga!” ujarnya dengan sinis.
“Kau tak bisa membawanya tanpa seizinku!”
“Kak Stefen? Kakak tolongin gue Kak! gue mau balik ke Indonesia aja, hiks…”
Alaric tak bisa menahan emosinya lagi. “Edward!”
Tiba-tiba serigala Edward mengambil alih tubuhnya, ia pun menggeram bersiap untuk menerkam dua orang di hadapannya ini. Jeanna yang melihat serigala coklat itu hendak melompat, berteriak.
“STOP! Jangan, tolong jangan makan mereka!” Jeanna sedikit lega saat melihat serigala itu tak jadi melompat, namun sosok serigala Edward masih terus menggeram ke arah Stefen dan Olivia.
“O-oke, kita lanjut jalan lagi, ya?” ujar Jeanna pada Alaric, pria itu pun kembali melangkahkan kakinya.
“Jeanna please!” Olivia memandang Jeanna yang semakin menjauh.
“IT’S OKE, AKU AKAN BAIK-BAIK SAJA.” Teriaknya, ia pun berharap demikian. Semoga dirinya baik-baik saja.
_____________
“Hey kau, aku ini bukan barang. Aku bisa jalan sendiri, jadi cepat turunkan aku!” sejak tadi Jeanna mengeluh soal dirinya yang saat ini tengah dibopong seperti karung beras.
Tapi sepertinya Alaric begitu acuh, ia bahkan tak merespon ucapannya. Jeanna menjadi kesal dibuatnya, ia tengah memikirkan cara agar pria yang tengah membopongnya ini mendengarkan ucapannya.
“Apa tempatnya masih jauh?”
“Seberapa jauh lagi?” lagi-lagi tak ada jawaban.
‘Memang dasar pria aneh, apa susahnya sih ngejawab ucapan gue!’
“Aku tidak sanggup lagi, kepalaku pusing!” Jeanna tak berbohong, sejak tadi Alaric membopongnya seperti karung beras, kepalanya terasa berat, darahnya seperti terkumpul di kepala.
“Hey ka-, HUAA…” Jeanna kaget saat tubuhnya diturunkan secara tiba-tiba.
“Kau berisik sekali!” ujarnya memarahi, jangan lupakan tatapan matanya yang tajam itu. Tiba-tiba nyali Jeanna menciut saat bertatapan dengan pria di hadapannya ini.
Tanpa aba-aba, Alaric mendekat dan kembali menggendong tubuh Jeanna. Tetapi tak seperti di awal, ia membawa Jeanna ala bridal style. Jeanna terkejut bukan main, ia hendak protes, namun suaranya tertahan karena Alaric lebih dulu bersuara.
“Diam! Jika kau tak ingin kubawa seperti tadi.” Jeanna langsung mengatupkan mulutnya, ia hanya bisa pasrah dan menuruti perkataan Alaric. Mereka pun kembali melanjutkan perjalan.
_____________
“Dia telah membawanya,” ujar Olivia tertunduk lesu.
“Apa kau mencegahnya?” tanya Victoria.
“Tentu saja! Tapi Jeanna tetap bersikeras menyerahkan dirinya, saat serigala itu hampir menyerangku kembali.”
Mendengar akan hal itu, Ben hanya bisa menghela napas pasrah. “Semoga dia baik-baik saja di sana.”
Sedangkan Stefen, ia terdiam sejak tadi. Perasaannya campur aduk, marah, sedih, kecewa. Itulah yang tengah ia rasakan. Ia khawatir akan keadaan Jeanna saat ini, apa adiknya benar akan baik-baik saja?
_____________
Perlahan Alaric membaringkan tubuh Jeanna di atas tempat tidur miliknya, karena perjalanan mereka yang bisa dibilang cukup lama, hingga tak sadar membuat Jeanna tertidur di gendongannya.
Sebenarnya ia bisa saja berlari agar cepat sampai ke kastil, tapi karena Alaric yang ingin menikmati moment berdua dengan matenya itu, akhirnya ia lebih memilih untuk berjalan santai.
Alaric menatap lekat ke arah Jeanna, wajahnya yang terlihat damai saat tengah tertidur seperti ini, membuat Alaric gemas untuk menciumi seluruh wajahnya itu. Lain halnya ketika gadis itu sudah terbangun nanti, mulut cerewetnya itu pasti akan memancing amarahnya lagi.
Bagaimana bisa Alaric mengetahui keberadaan Jeanna saat sedang di hutan tadi? Tentu saja berkat api unggun itu. Jarang sekali ada manusia yang berkemah di daerah tersebut, awalnya ia merasa acuh akan hal itu, namun entah kenapa Alaric seperti ditarik untuk melihat ke arah tersebut.
Saat ia mengikuti instingnya, perasaan Alaric semakin tak karuan kala mendengar teriakan seseorang. Dari kejauhan, ia melihat sosok vampir yang hendak memangsa seorang gadis, dan gadis itu adalah gadisnya.
Teringat akan kejadian di hutan tadi, saat sosok vampir itu hampir melukai matenya ini, membuat Alaric menggeram. Hampir saja ia kehilangan belahan jiwanya, untungnya ia tepat waktu. Alaric mengulurkan tangannya hendak membelai wajah Jeanna.
“Hoaaam…” Pergerakan tangan Alaric terhenti saat melihat Jeanna menguap dan mengerjapkan matanya, gadis itu mulai terbangun dari tidurnya.
Jeanna melirik ke arah Alaric, ia memperhatikan Alaric sejenak, seperti tengah mengingat pria di hadapannya ini. Lalu matanya tertuju pada tangan Alaric yang hendak menyentuh wajahnya.
“HUAAA!” teriaknya sambil beringsut mundur. “Kau– mau apa hah? Di mana aku? Kenapa aku berada di tempat ini? Oh, kau pasti ingin macam-macam ya? Sudah kuduga ternyata kau memang pria seperti itu!”
Mulut cerewet itu membuat Alaric memejamkan matanya, mencoba menetralkan emosinya agar tak kembali muncul. Entahlah, sejak kejadian Jeanna yang kabur secara tiba-tiba, membuat emosi pria itu lebih mudah tersulut.
Ia pun menatap Jeanna dengan seksama, mencoba mendekat ke arahnya tetapi reaksi Jeanna membuat Alaric menampilkan smirknya, gadis itu semakin mundur ke kepala ranjang sambil menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
“A-awas kau jika macam-macam, aku akan–”
“Akan apa, hm?” Alaric semakin mendekat ke arahnya, membuat Jeanna semakin panik. Sungguh raut wajah Jeanna saat ini membuat Alaric menahan diri agar tak tertawa lepas.
“Aku harus kembali bekerja. Kau, tetaplah di sini!” ucapnya tepat di depan wajah Jeanna, ia pun akhirnya menjauh dari tubuh Jeanna dan berjalan ke arah pintu.
“Jangan mencoba untuk kabur dariku lagi! Ingat itu, Jeanna!” ujarnya dengan tatapan mematikan, lalu ia berlalu meninggalkan Jeanna sendirian di kamar.
“Dari mana dia tau nama gue?”
»Jangan lupa kasih Vote & Komennya ya thx u
{ 17-07-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
