Tandain kalau ada typo ya guys :)
"Oh iya gue baru inget, cowok lo gak di ajak Je?" Jeanna mengernyit.
Sera berdecak, " Si Mas bule."
Jeanna pun membulatkan mulutnya, "Sengaja gak gue ajak."
"Lo bahkan gak ngabarin dia?" Jeanna mengangguk.
"Gue masih gak nyangka lo sama dia Je..." Ujar Kevin dengan nada sedih.
"Kalau cowok lo ngamuk, gue gak mau kena juga ya Je!" Sera sudah tau bagaimana sifat Alaric, karena Bella menceritakan semuanya padanya. Ia juga tahu siapa Alaric dan Bella sebenarnya, tentunya hanya Sera yang mengetahui rahasia ini!
Jeanna berpikir sejenak, ucapan Sera ada benarnya juga, sepertinya ia harus menghubungi Alaric sekarang juga. Jeanna mengambil ponselnya yang ada di tasnya, baru saja dirinya menyalakan ponsel, alangkah terkejutnya ia saat mendapati banyaknya panggilan masuk dari Alaric.
"Mampus nih gue!" ujarnya sambil menepuk dahi. Jeanna langsung menghubungi Alaric, namun pria itu tak kunjung mengangkatnya, Jeanna mulai terlihat panik.
"Kenapa Je?" tanya Sera menyadari raut wajah Jeanna mendadak gelisah.
"Gue gak tau kalau dia nelpon gue dari tadi. Tapi giliran gue telpon balik, kok gak diangkat juga ya?"
"Coba lo telpon Bella, siapa tau dia ada sama cowok lo."
"Gue aja gak punya nomor Bella!"
"Bella saha sih?" tanya Riko yang tak mengerti akan pembicaraan Jeanna dan juga Sera. "Udah mending lo balik aja Je, siapa tau si doi kerumah lo," sambungnya.
"Iya deh gue balik duluan ya," ia pun bangkit dari duduknya.
"Lo balik naik apa Je? Mau gue anter aja?" ucap Kevin menawarkan.
"Gak usah, gue pesen taksi online aja."
Namun Sera lebih dulu menyerahkan sebuah kunci padanya, "Pake motor gue aja, dari pada lama nunggu taksi, gue bisa balik bareng dia," ia melirik ke arah Kevin.
Jeanna pun mengambil kunci motor temannya itu, ia pun berlalu meninggalkan teman-temannya. Jeanna berlari kecil, mencari keberadaan motor temannya itu. Ia pun bersiap untuk menyalakan mesin motor tersebut. Namun sebelum dirinya benar-benar pergi, ponselnya tiba-tiba berdering.
Dan ternyata itu Alaric!
Entahlah apa Jeanna harus merasa lega atau justru itu semakin membuatnya takut, tentu saja Jeanna takut Alaric akan marah.
"Halo, Alaric maaf aku tadi--"
"Halo Je, Ya Tuhan kau ke mana saja?"
"Bella? Kenapa kau yang menelpon, di mana Alaric?"
"Soal itu--emmh... bagaimana caraku menjelaskannya ya. Dia sedang tidak sehat Je, Alaric membutuhkanmu, tapi jika kau menemuinya sekarang, itu juga akan berbahaya untukmu."
Jeanna mengernyit, ia tak mengerti maksud dari ucapan Bella. "Bisa kau katakan dengan jelas? Aku sama sekali tak mengerti maksud ucapanmu itu."
Jeanna mendengar suara berisik dari balik ponselnya, terdengar seperti suara pecahan kaca. "Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa berisik sekali?"
"Aku tak tau apa ini akan baik-baik saja, tapi perlu kau tau, Alaric lepas kendali Je. Rolf mengambil alih tubuhnya, dan mungkin dia akan membunuhku sekarang juga!"
Sungguh, Jeanna tak mengerti maksud perkataan Bella. Namun satu hal yang pasti, Jeanna harus menemi pria itu sekarang juga! Untung saja Bella memberitahu di mana apartemen Alaric berada sebelum ia benar-benar mengakhiri panggilannya, Jeanna pun segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
______________
"Kupikir, seharusnya Alaric tak berada di sini." Ujar Ben yang kini tengah duduk di atas rumput, tepatnya di teras rumah barunya.
Ditemani oleh kekasihnya yang duduk bersandar pada dadanya, mereka berdua menatap ke arah langit, lebih tepatnya ia menatap ke arah bulan purnama. Ben memeluk tubuh matenya itu dari belakang, kepalanya ia sandarkan pada bahu Victoria.
"Apa semuanya akan baik-baik saja?" ucap Victoria.
"Itu semua tergantung darinya."
Memang sudah seharusnya para werewolf tak berada di dunia manusia, apalagi saat bulan purnama. Mereka yang belum terikat dengan pasangannya akan lebih mudah hilang kendali, atau bahkan serigalanya itu akan menguasai tubuhnya sepenuhnya. Dan yang paling dikhawatirkan oleh mereka adalah bagaiman jika Alaric lepas kendali dan berkeliaran lalu mencelakai manusia.
Victoria menatap ke arah bintang yang paling terang. "Aku jadi kepikiran Jeanna, apa gadis itu ada di rumah sekarang?"
____________
Sedangkan Jeanna kini mulai memasuki apartemen milik Alaric, Bella langsung membukakan pintu saat mendengar suara bell.
"Di mana Alaric?"
"Dia sangat kacau," ujarnya seraya menggelengkan kepalanya. "Aku melupakan suatu hal, seharusnya Alaric tak boleh berada di sini untuk waktu yang lama."
Suara barang yang terlempar membuat Jeanna memekik kaget. "Apa yang dia lakukan?" ia hendak masuk lebih dalam untuk menemui Alaric, namun Bella lebih dulu menarik lengannya.
"Dia mungkin akan melukaimu Je, aku tak bisa menjamin keselamatanmu sekarang, bahkan aku tak bisa melindungi diriku sendiri. Alaric dan Rolf, dia--" Jeanna melepas pegangan tangan Bella pada lengannya.
"Alaric pasti akan mendengarkanku, kau tenang saja!" selanya, dan Jeanna kembali melanjutkan langkahnya, Bella pun segera mengikutinya.
"Apa dia ada di dalam?" tanya Jeanna dengan pandangannya mengarah ke sebuah pintu.
"Jeanna aku semakin takut, lebih baik kau pulang saja ya? Keselamatanmu jauh lebih penting sekarang!" ujar Bella tak menghiraukan pertanyaannya, ia justu menyuruh Jeanna untuk pergi dari sini.
"Alaric! Ini aku Jeanna, apa kau ada di dalam?" tak mempedulikan ucapan Bella, Jeanna malah menggedor pintu tersebut dan berteriak memanggil Alaric.
Bella masih mencoba membujuk Jeanna agar pulang ke rumah, ia bahkan menarik Jeanna untuk menjauh dari pintu tersebut. Dan tak lama pintu pun terbuka menampilkan sosok Alaric yang terlihat sangat berantakan.
Rambutnya yang acak-acakan serta bajunya yang kusut dan sedikit sobek membuat Jeanna menatap tak percaya ke arahnya. Hingga matanya melihat ke arah tangan pria itu penuh darah, apa yang dilakukan Alaric hingga seperti ini?
"Alaric..." Lirih Jeanna, ia mencoba mendekat ke arahnya.
Sedangkan Bella, gadis itu kini beralih memeluk lengan Jeanna. Satu hal yang hanya diketahui oleh Bella, tatapan Alaric berbeda, dan sudah pasti itu bukan dirinya, Bella tahu itu Rolf! Ia menelan ludahnya dengan susah payah, Bella merutuki perbuatannya, seharusnya ia tak memberitahu hal ini pada Jeanna.
Alaric terus menatap Jeanna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau dari mana saja?" tanya Alaric dengan begitu tenang.
Jeanna tak menjawab, ia semakin mendekat pada Alaric. "Kenapa denganmu?" ia meraih tangan Alaric yang penuh darah.
"Apa kau ingin tahu, apa yang sedang terjadi padaku saat ini?" Jeanna menatap Alaric, ia tak mengerti akan ucapan pria itu.
Jeanna terkejut saat Alaric menarik tangannya, dengan gerakan cepat pria itu menarik Jeanna ke dalam ruangan tersebut, disusul dengan suara pintu yang tertutup dengan kencang. Dan hal itu tentu membuat Bella berteriak panik. "Jeanna!"
"Alaric kau harus bisa melawan, jangan biarkan Rolf mengambil alih tubuhmu!" teriak Bella dari balik pintu. "ALARIC!" Bella terus menggedor pintu tersebut berharap Alaric mau mendengarkannya.
»Jangan lupa pencet bintangnya ya guys, komen juga sebanyak banyaknya
Ayo di Vote dulu!
Follow akunku juga ya, biar dapet notif paling awal
{ 20-11-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasíaJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
