Bag 28. Sebuah pertimbangan

26.5K 1.8K 15
                                        


"Kenapa aku dihukum?"

"Kau bilang mereka tak salah, berarti semua ini salahmu bukan?" Alaric tersenyum menantang.

"T-tapi aku-"

"Kalau begitu jangan halangi jalanku jika kau tak ingin kena hukuman juga," pria itu membalikkan badannya.

"Aku akan melakukan apa pun!" ujarnya cepat. "Asal kau tak menghukum mereka," lanjutnya. Alaric kembali menatap ke arah Jeanna. "Aku akan menuruti semua perkataanmu, aku janji!"

"Semuanya?"

"Ya!" jawabnya tanpa ragu, Alaric terdiam sesaat tengah menimbang tawaran Jeanna.

"Baiklah," jawab Alaric, Jeanna menghela napas lega. Pria itu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Jeanna seorang diri.

"Apa ucapannya bisa dipercaya?" ia segera mencari keberadaan Glory karena Jeanna yakin gadis itu juga akan terkena hukuman oleh Alaric.

_____________

'Dimana kau?' Alaric me-mindlink Edward.

'Sejak tadi kami berada di ruang bawah tanah, Alpha.'

'Sedang apa kau di sana, cepat kemari!'

Karena tak ingin membuat Alaric semakin marah, Edward pun menghampirinya dengan segera.

"Ada apa Alpha?"

"Esok kita akan mengepung kastil terkutuk itu, apa semuanya sudah kau persiapkan?"

"Tentu saja, Alpha. Bahkan pack lain pun ikut dalam penyerangan ini."

"Bagus kalau begitu, aku harus menemui seseorang. Kau kembali berlatih dengan yang lain." Alaric berjalan meninggalkan betanya.

"Alpha, soal yang tadi-"

"Lupakan saja," ujar Alaric seraya tersenyum misterius.

____________

"Glory! Astaga sejak tadi aku mencarimu, kau ke mana saja huh?"

"Tadi aku dari-"

"Oh syukurlah kau tak apa-apa, aku sangat khawatir akan dirimu," ujar Jeanna seraya memastikan tak ada luka di tubuh Glory.

"Seharusnya aku yang bertanya, apa tangan Luna baik-baik saja?"

"Tentu saja, ini sudah tak terasa sakit," ujar Jeanna seraya menunjukkan tangannya yang di perban. Glory pun menghela napas lega.

"Luna, kenapa tiba-tiba Alpha seperti itu?"

"Apa maksudmu?"

"Apa Luna melakukan sesuatu pada Alpha?"

"Kau ini bica-, ooh..." ternyata pria itu benar-benar mengabulkan permintaannya, Jeanna tersenyum senang.

"Ah ternyata Luna benar-benar bisa mengubah sikap Alpha. Apa yang Luna lakukan sampai bisa meluluhkan hatinya?"

Apa ia meluluhkan hatinya? Tentu saja tidak, Jeanna bahkan rela melakukan apa pun agar pria itu menuruti perkataannya.

Tunggu, apa ia baru saja mengatakan hal tersebut? Oh ya tuhan, otak Jeanna benar-benar lemot, bagaimana bisa ia mengatakan semua itu tanpa ia pikirkan dahulu.

"Bego banget gue!" ia merutuki kebodohannya.

"Ada apa Luna? Semua baik-baik saja bukan?"

Tiba-tiba Alaric datang menghampirinya, Glory menunduk hormat ke arah pria tersebut, ia pun memilih untuk pergi meninggalkan keduanya. Tangan Alaric merangkul pinggang Jeanna dengan mesra, gadis itu hendak memprotes tindakannya.

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang