Bag 43. Being jealous

17.1K 1.4K 33
                                        

Tandain kalau ada typo ya guys :)

Alaric menaikkan satu alisnya saat Bella berkata demikian, dengan segera ia berdiri tepat di depan motor tersebut, membuat Jeanna menarik rem secara mendadak.

Jeanna semakin gelagapan saat Alaric terus menatap ke arahnya, ia pun menoleh ke samping agar pria itu tak melihat wajahnya. Kira-kira alasan apa lagi yang harus ia katakan pada Alaric, haruskah Jeanna mengatakan yang sebenarnya saja? Jeanna menggigit bibir bawahnya, ia masih memalingkan wajahnya.

“Je, dia nyamperin kita, mau apa ya?” ujar Sera grogi saat Alaric semakin mendekat ke arah mereka.

“H-hai... ” ucap Sera mencoba menyapa.

Tatapan Alaric meneliti ke arah Jeanna. “I need to talk with her!” tegasnya.

Mampus gue!

Sera merasa heran saat Alaric sedari tadi menatap lekat ke arah Jeanna.

“Oh, apa kau mengenal temanku?” Jeanna masih setia terdiam.

“Jeanna...” Alaric memanggil namanya dengan santai. Dan hal itu lagi-lagi membuat Sera tertegun, apa Jeanna sangat dekat dengan Bella hingga ia mengenal sosok pria ini?

Mau tak mau Jeanna berbalik menatap seseorang yang memanggil namanya itu, ia pun membuka kaca helmnya dan tersenyum kikuk. Alaric pun tersenyum ke arahnya, senyum yang sangat manis namun justru membuat Jeanna takut.

“Aku tak melihat perpustakaan di sekitar sini. Jadi, apa yang kau lakukan di sini, hm? ” raut wajah Alaric berubah datar, ia terlihat serius saat ini.

“I-ituu aku...” Jeanna melirik ke arah Sera seakan meminta bantuan. Namun temannya itu malah menggeleng, Sera saja masih bingung dengan semua ini.

“Ah sepertinya kau bingung ya?” tiba-tiba saja Bella mendekat dan menarik Jeanna turun dari motornya. “Aku akan ceritakan semuanya, tapi sepertinya kita berdua harus pergi.” Ia menyuruh Sera yang mengambil kemudi motornya, Bella juga mengambil sebuah helm dari kepala Jeanna.

“Kau harus menyelesaikan urusanmu itu!” Bella melirik ke arah Alaric saat Jeanna menahan helmnya agar tak diambil oleh Bella, namun tatapan tajam dari Alaric membuat Jeanna terpaksa memberikan helmnya pada Bella. “Daah Jeanna! Aku tunggu kabar baiknya,” ujar Bella sebelum benar-benar pergi.

Jeanna menatap kepergian Bella dan temannya itu dengan wajah nanar. Ia tak bergeming sedikit pun, masih memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini.

“Dasar gadis nakal!” tiba-tiba Alaric merangkul pundaknya, Jeanna pasrah saat Alaric membawanya pergi entah ke mana.

______________

Sejak tadi Jeanna hanya menundukkan kepalanya, sesekali ia memainkan ujung bajunya dengan jari tangannya. Ia tak berani menatap ke arah Alaric yang kini duduk di sampingnya.

“Kenapa harus berbohong, apa kau tak bisa mengatakan yang sebenarnya?” Jeanna hanya diam sejak tadi, ia tak berani menjawab. “Katakan padaku kenapa kau berbohong?” pintanya dengan tegas.

Jeanna semakin tersudutkan, haruskah ia jujur? Tapi bagaimana jika itu membuat Alaric semakin marah, ah rasanya Jeanna ingin menghilang saat ini juga! Ya baiklah tak ada pilihan lain, Jeanna akan mengatakan yang sebenarnya.

“Aku akan mengatakan yang sebenarnya, tapi kau jangan marah ya?” ujarnya seraya menampilkan raut memelas.

“Katakan!”

“Jadi tadi itu aku-”

“Woy Je, lo belum balik? Mak Sera mana? Sebelah lo siapa Je, lo kenal sama tu bule?”

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang