"Gue ikat di mana ya? Di sini aja deh, kayaknya kuat,"
Jeanna mulai mengikat tali tambang pada tempat tidurnya, karena kamarnya berada di lantai 2, mau tak mau ia harus turun melalui jendela ini agar tak diketahui oleh orang rumah.
Yah Jeanna memilih kabur dari rumah ini, hanya ini satu-satunya cara untuk menghilang dari sini. Setelah ia mengganti pakaiannya dengan mengenakan celana hitam longgar dan sweater abu-abu, Jeanna bersiap untuk melancarkan aksinya.
Ia pun membawa tas ranselnya yang berisi peralatan camping. Tentu saja itu semua milik kakaknya, Jeanna mengambilnya secara diam-diam.
Setelah ikatannya cukup kuat, ia pun bersiap keluar melalui jendela dengan bantuan tali tersebut.
"Saatnya meluncur!" ia mulai menuruni jendela dengan hati-hati, dan hap!
Akhirnya ia berhasil mendarat dengan sempurna. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Jeanna berjalan menjauhi pekarangan rumah, ia mengandalkan peta dari ponselnya untuk mengetahui arah keluar dari tempat ini. Setidaknya saat ini ia harus menemukan jalan raya.
Namun sepertinya daerah ini benar-benar jauh dari perkotaan, karena sejak tadi Jeanna berjalan ia hanya menemukan jalan setapak. Jika begini, bisa-bisa ia akan sampai esok pagi.
Jeanna merasa langkahnya sudah sangat jauh dari rumah tersebut, ia memilih untuk berhenti sejenak memulihkan tenaganya. Diambilnya tenda kecil yang berada di ranselnya.
Ia mulai memasang tenda tersebut, lalu setelahnya ia mengambil beberapa kayu untuk dijadikan api unggun.
Jeanna terlihat seperti sedang berkemah saat ini, tentu saja, kemah seorang diri!
Meskipun daerah ini sangat jauh dari perkotaan, tapi setidaknya jaringan internet masih bisa dijangkau oleh ponselnya, yah meskipun kecepatan jaringannya bisa dibilang,
Menyebalkan!
Krek...krek...
Jeanna yang tengah membuat api unggun seketika langsung memasang mode siaga, saat ia mendengar suara ranting yang terinjak.
"Kayaknya cuma suara ranting jatuh. Tenang Jeanna gak ada siapa-siapa kok, cuma ada lo doang di sini!" ujarnya mencoba menenangkan diri.
Jeanna masuk ke dalam tenda yang sudah ia siapkan tadi, berniat mengambil beberapa snack yang ia bawa. Namun saat dirinya hendak keluar, ia melihat bayangan seseorang dari dalam tenda, tengah berdiri tepat di samping api unggun.
"Siapa ya?" lirihnya was-was.
____________
"Ternyata kegelisahanku benar adanya," ujar seseorang ditengah amarahnya.
"Kutanya sekali lagi, di mana kalian menyembunyikannya?!" sebuah geraman itu sukses membuat Ben dan Victoria semakin terlihat panik
"Ini benar-benar di luar dugaanku, Alpha. Dia kabur melalui jendela," lagi-lagi Ben mencoba membuat pria itu percaya.
"Aku bersumpah, kami tak menyembunyikannya!" ujar Victiria.
"Bahkan Olivia tengah mencarinya saat ini," sambungnya.
Alaric mendengus kesal, emosinya benar-benar tak bisa ditahan lagi. "Seharusnya aku membawanya sejak tadi!" ia pun melenggang pergi untuk mencari keberadaan gadisnya.
"Kau-" tunjuknya ke arah Edward. "Tetap di sini dan awasi mereka!" ujarnya beralih menunjuk ke arah Ben dan Victoria. Edward pun mengangguk patuh.
____________
Kembali pada Jeanna yang sedang ketakutan setengah mati, bagaimana ia tak ketakutan, pria yang ia lihat di dekat api unggun tadi tiba-tiba saja menghilang saat dirinya membuka tenda berniat melihat ke arah luar. Ia pun memberanikan diri untuk mendekat ke arah api unggun
"Jelas-jelas tadi dia berdiri di sini, gue gak mungkin salah lihat!" ujarnya sambil mengusap tengkuknya. "Jangan-jangan..." Jeanna menatap horo ke arah sekeliling pepohonan.
"Permisi sesepuh, saya cuma numpang istirahat sebentar, beneran kok." Ujarnya.
"Sweet..." tiba-tiba suara bisikan itu membuat Jeanna terlonjak.
Ia melihat ke arah samping dan... Hey, sejak kapan seseorang berada tepat di sampingnya?
"Who are u?" tanya Jeanna dengan nada gemetar.
"It's oke sweetie, I jus't wanna taste your blood," ujarnya semakin mendekat ke arah Jeanna.
Apa dia bilang? Untuk apa pria ini mencicipi darahnya? Oh, come on Jeanna! Kau ini bodoh sekali. Dia ini vampir, seperti Olivia dan keluarganya itu.
"No please! Darahku beracun, kau akan mati jika meminumnya. Cari saja mangsa lain!" balasnya, Jeanna pun mencoba menjauhi pria itu.
Berniat akan berlari, tetapi pria di hadapannya ini lebih dulu menarik lengannya dan mendorong tubuh Jeanna hingga menabrak pohon di belakangnya.
"Damn! Darahmu pasti sangat manis sayang," cengkraman pria itu sangat kuat di bahu Jeanna, ia bahkan tak bisa menggerakkan tanggannya untuk melawan pria di hadapannya ini.
Jeanna meringis, terus mencoba berontak dan teriak. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah ini akhir dari hidupnya?
"Lepaskan aku vampir sialan!"
Jeanna hanya bisa menangis pasrah saat pria itu menciumi potongan lehernya, saat mulut vampir itu semakin mendekat ke arah nadi pada lehernya, ia hanya bisa memejamkan matanya. Namun sebelum itu terjadi, pria di hadapannya ini seperti ditarik oleh seseorang. Jeanna pun segera membuka matanya, tetapi ia tak melihat siapa pun, bahkan sosok vampir itu hilang entah kemana.
Tanpa pikir panjang, Jeanna langsung mengambil kesempatan itu untuk berlari, entah berlari ke arah mana yang penting Jeanna aman untuk saat ini. Tapi sepertinya ia berlari ke arah yang salah, Jeanna justru mendapati dua sosok pria yang tengah berkelahi. Ia sangat tahu betul sosok pria itu, sosok yang tiba-tiba datang menemuinya, dan mengatakan jika dia adalah miliknya.
Jeanna melihat ke arahnya, pria itu tengah menghajar vampir yang sempat akan membunuhnya. Dilihatnya raut wajah pria tersebut seperti tengah melampiaskan emosinya. Jeanna pun tersentak saat tiba-tiba Alaric menebas leher vampir itu dengan kukunya yang tajam.
Seketika kakinya lemas melihat pemandangan di hadapannya ini. Jeanna pun luruh ke tanah, ia benar-benar syok akan kejadian malam ini. Semuanya, terasa begitu mustahil baginya. Ia melihat ke arah Alaric yang mulai berjalan mendekat ke arahnya, darah vampir itu menodai tangan dan bajunya, juga sedikit mengenai wajahnya.
Tatapannya terlihat begitu menusuk, membuat Jeanna mundur ketakutan. Apakah dirinya akan bernasib sama seperti vampir itu?
Alaric semakin mendekat dan berjongkok tepat di hadapan Jeanna, ia meraih lengan Jeanna.
"Let's go home!"
»Jangan lupa kasih Vote & Komennya ya, thx u
{ 14-07-22 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Switch Over
FantasyJeanna yocelyn, sosok gadis manis yang sangat ceria dan tak pernah kenal takut. Saat ini Jeanna tengah menempuh pendidikannya di sekolah menengah atas. Namun Jeanna harus berhenti menempuh pendidikannya begitu saja, ketika orang tuanya harus pindah...
