Bag 18. Ciuman pertama

38.7K 2.4K 10
                                        


"Jadi, kau adalah seorang maid?" Glory mengangguk mendengar pertanya Jeanna.

"Dan semua lelaki yang sedang berlatih di halaman belakang itu, warrior?" lagi-lagi Glory mengangguk.

"Lalu aku ini seorang Luna dan Alaric adalah Alpha. Dan sosok serigala coklat itu adalah Beta?"

"Dia beta Edward," ujar Glory seraya tersenyum.

"Ah, baiklah. Sudah cukup! Aku lelah. Aku akan membacanya lagi nanti." Jeanna membawa buku tersebut sambil berjalan ke luar perpustakaan.

"Kau mau ke mana, Luna?" Glory mengikuti langkah Jeanna.

"Aku ingin melihat keluar istana, sudah lama aku tak menghirup udara segar."

"Tapi, Alpha melarangmu untuk keluar istana," ujarnya dengan raut wajah takut.

"Hah, pria itu. Kalau begitu aku akan pergi menemuinya." Ia pun berjalan mengelilingi istana, mencari keberadaan Alaric.

_____________

"Alpha, King Arthur dan Queen Azura ingin menemuimu." Edward datang menghampirinya.

"Sejak kapan mereka datang kemari?"

"Baru saja, Alpha." Alaric mengangguk.

"Kau, urus semua ini! Jangan biarkan mereka kabur dari sini!" ujarnya sebelum meninggalkan ruang bawah tanah.

Ia berjalan menuju aula, untuk menemui kedua orang tuanya. Terlihat sepasang suami istri itu tengah duduk di sebuah sofa.

"Bagaimana keadaan istana saat kami tak ada?" Azura lebih dulu membuka suara.

"Tidak ada bedanya," balasnya singkat, Azura yang mendengar akan itu hanya bisa tersenyum geli.

"Aku dengar kau telah menemukannya, apa aku bisa bertemu dengannya?"

Jeanna terus melangkahkan kakinya mengitari istana, sedari tadi ia tak kunjung menemukan sosok Alaric. Hingga ia melihat dari atas, pria itu terlihat sedang berbicara dengan dua orang di hadapannya. Siapa lagi mereka? Batinnya.

Apa Jeanna turun saja dan menemuinya? Akhirnya Jeanna memutuskan untuk turun menemui mereka. Perlahan ia mulai menuruni anak tangga, hingga sampai pada tangga terakhir, Jeanna menatap ke arah Alaric, ternyata pria itu juga menatapnya.

"Dia yang kau maksud?" ujar Alaric kepada Azura.

Sedangkan Jeanna hanya mengernyit tak mengerti. Azura mendekat ke arah Jeanna, ia meraih satu tangan Jeanna lalu digenggamnya.

"Apa kau benar-benar pasangan yang moon goddes berikan untuk putraku?"

Putranya? Apa wanita di hadapannya ini adalah sosok ibu dari Alaric? Dan lelaki yang berada di sampingnya tadi adalah ayahnya, apa benar begitu?

"I-iya, sepertinya." Jeanna terlihat sangat kikuk ketika diberikan pertanyaan seperti itu, ia sendiri bingung harus menjawab apa.

"Seharusnya kau bertanya padaku!" sela Alaric, ia pun berjalan ke arah Jeanna.

"Kau mau apa? Aku baru saja bertemu dengannya dan kau akan membawanya pergi?" Azura mendengus kesal.

"Percayalah Queen, aku bahkan hampir tak memiliki kesempatan untuk sekedar berduaan dengannya." Ia pun berlalu meninggalkan Azura dan Arthur di aula.

Alaric terus membawa Jeanna berjalan ke luar istana, tangannya masih setia merangkul pinggang Jeanna. Sedangkan yang dirangkul, tentu saja sedari tadi ia mencoba melepaskan tangan pria di sampingnya ini, namun usahanya sia-sia, rangkulannya justru semakin erat.

"Kita mau ke mana?"

"Aku pikir kau bosan berada di dalam sana, jadi aku akan membawamu melihat pemandangan di luar."

Bagaimana bisa pria ini tahu apa yang tengah Jeanna inginkan saat ini. Yah, tentu saja Jeanna sangat bosan berada di dalam sana!

Alaric terus membawanya keluar istana menuju suatu tempat, langkah Jeanna terhenti saat melihat sebuah danau, ia begitu terpukau akan pemandangan di hadapannya.

Bagaimana bisa danau ini terletak begitu dekat dengan istana, Jeanna berjalan mendekat sambil melihat pemandangan di sekitarnya.

"Waah!" ucapnya tergakum akan pemandangan sekitar.

"Kenapa kau tak memberitahuku jika ada tempat sebagus ini?"

"Itu karena aku sangat sibuk akhir-akhir ini."

"Cih, sok sibuk!" lirihnya.

Alaric berjalan mendekat ke arah Jeanna, ia memeluk Jeanna dari belakang. Sesekali ia menghirup aroma matenya itu. Jeanna sontak tertegun atas perlakuan Alaric yang tiba-tiba. Apalagi napas pria itu terasa mengenai lehernya, sensasi ini terasa asing baginya, karena ini pertama kali bagi Jeanna.

Jeanna membalikkan badannya berniat untuk melepaskan pelukan Alaric. Namun sepertinya apa yang ia lakukan salah, wajah mereka justru saling bertemu. Sangat dekat hingga Jeanna bisa merasakan napas hangat Alaric menerpa wajahnya langsung.

Alaric tak ingin membuang kesempatan, tangannya semakin menarik pinggang Jeanna untuk merapat pada tubuhnya. Dan tanpa Jeanna duga, Alaric mencium bibirnya. Jeanna terbelalak, ia tak menyangka akan hal ini, ia bisa merasakan jelas bagaimana benda kenyal dan basah itu menempel pada bibirnya.

Dan itu adalah first kissnya!

Sesaat Jeanna terdiam membeku, hingga ia tersadar dan mencoba menjauhkan dirinya dari pria di hadapannya ini. Namun satu tangan Alaric lebih dulu meraih tengkuk Jeanna, semakin memperdalam ciumannya. Alaric mulai melumat secara bergantian bibir atas dan bawah gadis itu.

Jeanna hanya diam tak membalas ciuman Alaric, karena ia sendiri tak mengerti akan ini. Seakan berontak pun percuma, Jeanna hanya terdiam pasrah. Mata Jeanna terpejam kuat saat Alaric menggigit kecil bibir bawahnya, memaksa lidahnya masuk untuk memperdalam ciumannya.

Tangan Jeanna mencengeng erat kerah baju Alaric. Saat pasokan udara di paru-parunya menipis, Jeanna menepuk dada Alaric agar pria itu menyudahi ciumannya.

Alaric pun mengerti, ia menjauhkan wajahnya dari wajah Jeanna. Dilihatnya napas gadis itu yang tersengal-sengal, tangannya terulur mengusap bibir Jeanna yang sedikit membengkak akibat ulahnya.

"Sweet..." ujarnya berbisik tepat di depan wajah Jeanna.

Sial! Jeanna benar-benar gugup saat ini, ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin saja Alaric bisa mendengar detakkan jantungnya saat ini. Di saat itu juga, Alaric kembali mendekatkan wajahnya. Apa pria ini akan menciumnya lagi?

Hingga saat hidung mereka bersentuhan, tiba-tiba suara seorang lelaki membuat Jeanna refleks mendorong tubuh Alaric agar menjauh.

"Maaf, sepertinya waktuku tidak tepat," ujarnya dengan tampang polosnya.

Alaric menyumpahi sosok Edward yang kini berjalan ke arahnya, ia benar-benar mengganggu waktu Alaric bersama Jeanna. Sedangkan Jeanna, ia hanya diam sambil mengedarkan pandangannya ke arah lain.

Ia benar-benar merasa awkwrd saat ini.

"Ada apa?" ujarnya dengan nada tak suka.

"Soal putri Arabella, Alpha."

Alaric mendengus kesal. "Ada apa lagi dengannya..."


















Sekedar mengingatkan 😔

»Jangan lupa kasih Vote & Komennya, thx u

{ 27-07-22 }

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang