Bag 51. Rencana Bella

15.8K 1.2K 22
                                        

Tandain kalau ada typo ya guys :)

"Aku menolak untuk kembali ke kastil jika Jeanna tak ikut bersamaku, sampaikan itu pada Raja!"

Bella memutar bola matanya, ia sudah sangat lelah menghadapi sikap keras kepala Alaric. "Sampaikan saja sendiri, aku tak peduli!"

"Apa kau mengacuhkan perintah seorang Alpha?"

Bella menatap tajam ke arah Alaric. "Alpha? Kau bahkan melupakan tugas seorang Alpha! Seharusnya kau tukar posisi saja dengan Edward, biarkan dia yang menjadi Alpha," ia pun mendengus kesal.

"Sialan kau Bella! aku tak mungkin melakukan itu."

"Kalai begitu cepatlah kembali sebelum Dad memarahiku juga!" ucap Bella dengan nada sedikit meninggi.

Alaric mengusap wajahnya kasar, bagaimana pun juga ia harus kembali karena tanggung jawabnya sebagai Alpha. Namun ia tak bisa pulang begitu saja, sebelum Jeanna memutuskan untuk ikut dengannya, Alaric tak akan kembali!

Alaric menundukkan kepalanya, kedua tangannya ia taruh di atas kepalanya. Sepertinya kali ini Alaric harus membuang gengsinya, ia pun mendongak untuk menatap ke arah Bella. Seketika dahi Bella berkerut saat melihat raut wajah Alaric yang terlihat sangat menyedihkan.

Alaric membuang napas panjang. "Kau harus membantuku untuk masalah ini. Aku memohon padamu, Bella. Bantu aku lagi!"

Dan untuk pertama kalinya Bella mendengar permintaan tulus dari kakaknya itu, bahkan pria itu sampai memohon padanya. Dengan terpaksa ia pun mengabulkan permintaan Alaric, melihat raut wajah menyedihkan pria itu, Bella jadi merasa kasihan padanya.

Bella memutar bola matanya, lalu menghela napas panjang, "baiklah aku akan membantumu lagi."

_____________

Jeanna tak menyadari seseorang tengah berjalan ke arahnya, kini sosok tersebut berdiri tepat di sampingnya. Ia pun berjongkok dan menatap ke arah Jeanna yang kini tengah meringkuk dengan kepala menunduk.

Tiba-tiba Jeanna merasakan sebuah elusan di kepalanya, ia pun mendongak dan menatap ke arah samping. Jeanna amat terkejut akan sosok di sampingnya itu, tanpa pikir panjang Jeanna langsung memeluknya erat.

"Maaf...," tangis Jeanna semakin menjadi-jadi saat mendengar suara itu, ia pun semakin mengeratkan pelukannya.

Alaric tersenyum saat merasakan pelukan Jeanna semakin erat, dengan kondisi Jeanna yang masih menangis sesenggukan di dadanya. Sepertinya kaos yang Alaric kenakan sudah basah terkena air mata Jeanna. Ia pun mengusap punggung Jeanna berharap itu bisa menenangkannya.

"Sssstt, tenanglah aku di sini," bisiknya, Jeanna masih setia memeluk Alaric. Tangisannya perlahan mereda. "Sepertinya kau sangat merindukanku ya? Baiklah, kau bebas memelukku selama mungkin."

Namun Jeanna malah melepas pelukannya, gadis itu menatap Alaric dengan tatapan yang sulit diartikan. Alaric terkejut saat tiba-tiba Jeanna memukulinya, ia mencoba melindungi tubuhnya dari pukulan Jeanna dengan tangannya.

"Hey, kenapa kau memukuliku?" Alaric terus mengaduh kesakitan, padahal sebenarnya pria itu tak merasa sakit sama sekali.

"Kau menyebalkan!" ujar Jeanna yang masih memukuli Alaric, namun dengan mudah Alaric menangkap kedua tangan Jeanna agar gadis itu menyudahi aksinya.

"Itu sama sekali tak menyakitiku mate, justru tanganmu yang akan sakit."

Alaric menatap lurus ke arah bola mata Jeanna yang berkaca-kaca, sebelum air matanya kembali jatuh, ia lebih dulu menarik Jeanna ke dalam pelukannya. Merengkuh tubuh gadis itu sambil sesekali mengusap punggungnya. "Jangan menangis lagi. Maaf, aku minta maaf. " ucapnya berkali-kali.

Switch OverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang